Rabu12132017

Last update12:00:00 AM

Back Andalas Kota Dumai Berkabut Asap Lagi

Kota Dumai Berkabut Asap Lagi

BNPB Tambah Bantuan Satu Heli Lagi

DUMAI (HK)- Kota Dumai kembali diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, Kamis (7/4). Kondisi itu membuat jarak pandang di kota pelabuhan itu hanya berkisar tiga kilometer. Selain itu, mata juga terasa perih bila berada di luar ruangan. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencatat, udara Kota Dumai berada pada level 101 Psi, alias tidak sehat.

Kondisi itu dibenarkan Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Dumai, Bambang, melalui Kasi Lingkungan Hidup, Pahlawani.

"Dampak kabut asap terhadap lingkungan hidup, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), mata perih (jarak pandang kabur), tenggorokan menjadi gatal dan sakit pada bagian kepala," ujarnya.

Untuk mengantisipasi, warga diimbau mengenakan masker saat melakukan aktivitas di luar rumah. Selain itu, warga juga disarankan memperbanyak minum air putih dan vitamin c agar kekebalan tubuh dapat terjaga.

Sejauh ini, tercatat total lahan yang terbakar di kota itu mencapai 375,5 hektare. Menurut Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kota Dumai, Dwi Orisyawan, dari angka itu, sekitar 100 hektare lahan yang terbakar berada di kawasan hutan konservasi. Sedangkan 275,5 hektare lagi berada di kawasan non hutan. Lahan itu berada di luar lahan perusahaan yang memiliki izin Hutan Tanaman Industri (HTI).

Terpisah, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Sugarin, mengungkapkan bahwa Riau hingga saat ini masih menjadi daerah yang dominan titik panasnya di PUlau Sumatera. Sedangkan Kota Dumai saat ini mulai langganan kabut asap.

Pada Kamis kemarin, total titik panas di Riau tercatat sebanyak 22 titik. Di Pelalawan dan Rokan Hilir masing-masing 2 titik, Siak 3, Bengkalis 7, dan Kepulauan Meranti sebaanyak 8 titik panas.

"Untuk jumlah titik panas di atas level confidence 70 persen kita hitung ada 13 spot, di Siak satu, di Bengkalis dan Meranti masing-masing enam spot," terang Sugarin.

Dibanding provinsi lainnya, titik panas di Riau memang sangat mendominasi. Ia merincikan, di Sumbar dan Sumut hanya ada satu hotspot, lalu di Kepri, Jambi, Bengkulu dan Lampung dengan masing-masing dua hotspot. Aceh lima hotspot dan Sumsel enam hotspot.

"Pada umumnya cuaca di wilayah Riau cerah hingga berawan. Potensi hujan ringan hingga sedang yang dapat disertai dengan petir dan angin kencang terjadi di wilayah Riau bagian Barat, Tengah, dan Selatan pada siang atau sore dan malam hari," tukasnya.


Bantu Heli Lagi

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kembali menambah satu Heli Mi 8MVT-1, untuk membantu Riau dalam pencegahan Karhutla. Dengan demikian, kekuatan udara untuk mengatasi Karhutla di menjadi tiga unit heli. Sebelumnya TNI AU juga telah menyiapkan satu unit Heli Puma ditambah dua unit heli Mi 8MVT-1 dari BNPB.

Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edwar Sanger, mengatakan, tambahan heli ini sangat membantu tim Satgas menangani kebakaran lahan di wilayah Riau.

Dikatakan, dalam beberapa hari ini, heli tersebut sudah memadamkan lahan yang terbakar di beberapa daerah. Dan kemarin, sesuai permintaan dari Kabupaten Meranti untuk memadamkan lahan yang tebakar.

"Yang penting kalau tak terjangkai malalui darat Heli ini langsung bergerak untuk water bombing jika mendapatkan permintaan dari daerah. Seperti tadi (kemarin red) Meranti yang minta," kata Sanger.

Dari evaluasi tim Satgas Karlahut yang telah bekerja dalam dua bulan ini kata Edwar Sanger, telah berjalan baik dan diapresiasi. Seluruh tim bergerak cepat agar kebakaran lahan tidak semakin meluas. (nur/grc)

Share