Selasa06192018

Last update05:00:00 AM

Back Batam Siswa SMAN 19 Desak Kepsek Mundur

Siswa SMAN 19 Desak Kepsek Mundur

Pengelolaan Keuangan Dinilai Tak Transparan

BATAM (HK) -- Sedikitnya 276 siswa-siswi kelas XI SMAN 19 Batam yang berlokasi di Komplek Tunas Regency, Sagulung, melakukan demonstrasi di halaman sekolahnya, Senin (12/3) pagi. Mereka menuntut Nelly Candra Wati, Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 19 Batam mundur dari jabatannya.  
Aksi demo pelajar tersebut terjadi dipicu adanya dugaan korupsi Kepala Sekolah dengan mengambil dana bantuan sosial dan dana Program Indonesia Pintar (PIP). Didepan pagar sekolah, para murid menyuarakan agar kepala sekolah, Nelly Candra Wati mundur dari jabatannya, dan juga mempertanggungjawabkan kasus dugaan korupsi yang dia perbuat.

Aksi ratusan siswa tersebut mengundang perhatian warga setempat. Bahkan saat aksi itu sempat terjadi saling dorong dengan petugas kepolisian, karena demonstran mendesak bisa bertemu langsung dengan Kepsek.

Selain orasi, siswa juga membawa spanduk bertuliskan "Jangan kotori dunia pendidikan dengan kepentinganmu sendiri". Aksi tersebut mendapat pengawalan ketat dari pihak Kepolisian Batuaji dan Sagulung, sebelum akhirnya dibubarkan.

Selain pihak kepolisian, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kepri, Arifin Nasir langsung mengumpulkan para majelis guru untuk melakukan rapat internal.

"Kami hanya menuntut Kepada Sekolah untuk mundur dari jabatannya, soalnya kami tak percaya sebagai Kepala Sekolah. Kemudian banyak kecurangan, salah satunya dana bantuan sosial yang kami kumpulkan tak jelas dipergunakan," ujar Mr, salah satu siswa kelas XI dalam orasi.

Akibat aksi unjuk rasa tersebut, dua orang siswa kelas XI berinisial Ak dan Ih diamankan oleh kepolisian, guna meminta keterangan dari mana dapatnya sepucuk surat tersebut. Sementara ratusan siswa lainnya disarankan pulang dan disuruh masuk sekolah pada Rabu mendatang bersama walimurid.

"Sudah kita pulangkan anak-anak kita dah kebetulan anak kelas 3 sedang ujian tri out dan anak-anak tak ada pelajaran," ujar Arifin Nasir di sekolah.

Nasir juga mengatakan, untuk dana PIP tersebut memang benar keadaanya. Dan dana tersebut langsung masuk ke bendahara sekolah, bisa juga langsung diserahkan ke siswanya untuk membantu biaya sekolah anak-anak.

"Memang benar adanya dana PIP tersebut. Itu bantuan dari pusat langsung yang dituju untuk siswa tak mampu dengan rincian sebesar Rp500 ribu perbulannya," tambahnya Arifin kepada wartawan.

Disinggung mengenai bendahara sekolah yang statusnya honorer, Arifin menjelaskan bahwa status honorer tak bisa jadi bendahara. Harusnya statusnya PNS sekolah karna masalah finansial tersebut.

Kemudian, bila permasalahan ini benar adanya, tak ada ampun bagi tenaga pengajar dan akan dipindahkan atau status kepala sekolahnya dicopot dan diganti guru biasa. Namun menurut keterangan kepala sekolah bahwa dana bantuan sosial sudah diserahkan kepada siswa yang kena musibah.

"Menurut keterangan kepal sekolah bahwa dana bantuan sosial itu sudah diserahkan kepada siswa yang kena musibah itu. Saya kira tak ada lagi masalah dan diklarifikasi semuanya," terangnya Arifin lagi.

Sementara, Kapolsek Sagulung, AKP Hendrianto dilokasi mengakui bahwa kedua siswa tersebut diamankan saja dan hanya untuk dimintai keterangan terkait aksi demo yang menuntut kepala sekolah bertanggungjawab atas dugaan korupsi dana bantuan sosial.

"Dua orang itu hanya diamankan saja dan hanya dimintai keterangan atau hanya sebatas introgasi. Setelah itu mereka akan kita pulangkan," ujar Hendrianto. (ded)

Share