Selasa06192018

Last update05:00:00 AM

Back Bintan Marak TKA Ilegal Gunakan Visa Turis

Marak TKA Ilegal Gunakan Visa Turis

Keberadaan Orang Asing dan Turis Tiongkok Jadi Bahasan Serius

BINTAN (HK) -Kasi Pengawasan dan Penindakan Imigrasi (Wasdakim) Tanjunguban, Alos, menduga telah maraknya Tenaga Kerja Asing (TKA) ilegal yang bekerja di Bintan mengunakan visa turis/wisata.  Pasca diterapkannya lalu lintas pekerja asing dalam pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di Bintan,
Hal ini terungkap oleh pihak Kantor Imigrasi,  bahwa jumlah turis yang datang ke Bintan tidak sesuai dengan jumlah yang pulang.   "Seperti macam kemarin, sebanyak 3.800 turis yang datang ke Bintan, namun yang pulang hanya 3.600 orang saja. Ada mis 200 turis. Kemungkinan mereka pulang itu tidak melalui pintu yang sama lewat bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF), tapi ada juga melalui  pelabuhan BBT dan juga mungkin dari Batam. Atau mungkin mereka tidak pulag ke negaranya malah cari kerja di Bintan," ujar Alos usai rapat koordinasi Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) Klas IIA Tanjunguban di Kantor Bupati Bintan, Selasa (6/3)..

Sementara keberadaan orang asing serta kedatangan turis dari Tiongkok yang melalui bandara RHF Tanjungpinang menjadi dua pokok pembahasan serius saat rapat koordinasi Timpora.  Masalahnya, pengungsi asing yang saat ini ditempatkan di penampunangan sementara di Bhadra Resort Jalan Kawal Kecamatan Toapaya, belum ada Satgas pengamanan yang terbentuk. Sehingga, sampai hari ini para pengungsi asing itu masih bebas berkeliaran terutama didaerah Kawal, Toapaya dan sekitarnya.

Begitu pula persoalan mengenai kedatangan turis langsung dari Tiongkok dan tiba di Bandara RHF Tanjungpinang, berdasarkan sepengetahuan pihak Imigrasi, ada perbedaan antara turis yang datang dan turis yang kembali. Maka dari itu  sebagai upaya pencegahan adanya turis yang terlantar dan maraknya TKA, pihak Imigrasi terus berupaya seketat mungkin kedatangan turis ini agar tidak kecolongan.

"Ya itu makanya kita minta, setiap turis yang datang dengan pesawat carteran kita langsung meminta slip tiket (Pulang-Pergi) supaya jelas. Tapi sejauh ini, seluruh TKA kita sudah memiliki Kitas (Kartu Izin Tinggal Sementara)," tutur Alos lagi.

Sementara itu, Bupati Bintan Apri Sujadi saat rapat menjelaskan, sejak adanya MEA banyak memberikan dampak positif da juga negatif. Sisi positifnya, kata Apri, berdampak pada ekonomi masyarakat. Sebab, fokus ekonomi di Bintan sendiri masih berkiblat kepada sektor pariwisata. Namun tidak sedikit pula dampak negatif, dengan adanya MEA sudah ada pembebasan visa bagi wisatawan dari 169 negara. Hal ini tentunya perlu dilakukan antisipasi dini agar tidak ada turis asing terlantar, khususnya di Bintan yang nyambi cari kerja.

"Inilah yang tadi dirapatkan kawan-kawan dari Timpora. Untuk mengantisipasi isu-isu terkini, seperti kita lihat ada bule (turis) terlantar. Makanya ada masukan (Timpora) terkait regulasi dan SOP (Standrd Operasional Prosedur). Karena semua terlibat baik dari Imigrasi, Kepolisian maupun dari pemerintah daerahnya sendiri," papar Apri.

Ia juga menyarankan kepada Timpora agar melibatkan unsur Rt dan Rw dalam hal pengawasan orang asing. Sebab, kata Apri, pengawasan tidak serta merta bisa difokuskan kepada Timpora saja. "Saya meminta supaya melibatkan unsur Rt/Rw dalam rangka memberikan informasi. Karena tidak bisa pengawasan hanya dari kita," kata Apri yang juga menjabat sebagai Pembina Timpora. (oxy)

Share