Jumat09222017

Last update05:00:00 AM

Back Entertain Wisata Situs Sejarah Penyegat Terabaikan

Situs Sejarah Penyegat Terabaikan

TANJUNGPINANG (HK) - Nama dan sejarah Pulau Penyengat memang punya daya tarik tersendiri dan sudah tidak asing lagi di tanah air, bahkan negara tetangga, Malaysia dan Singapura, khususnya di Tanjungpinang Provinsi Kepri. Namun kondisi sejumlah situs sejarah yang terdapat di kawasan itu seperti terabaikan dan tidak terawat.

Salah seorang tokoh masyarakat Pulau Penyengat, Tengku Fuad mengatakan, banyak situs sejarah yang terdapat di Penyegat dan banyak dikunjungi masyarakat dan wisatawan lokal, serta wisatawan mancanegara ini kondisinya sudah berlumut, bahkan hampir punah dimakan waktu. Namun kondisi tersebut, seperti tidak menjadi perhatian serius oleh Pemprov Kepri maupun Pemko Tanjungpinang melalui dinas terkait.

"Berbagai upaya usulan untuk perhatian perawatan sejumlah situs sejarah di Penyegat itu telah kita sampaikan ke Pemprov Kepri maupun Pemko Tanjungpinang melalui dinas terkait. Tapi usulan kita selalu diabaikan oleh sejumlah pejabat bersangkutan di daerah ini," ucap pria yang mengaku sebagai salah seorang keluarga besar Muhazam Syah, Kesultanan Kerajaan Riau-Lingga ini, Jum'at (31/8).

Diterangkan, diantara situs sejarah yang terdapat di Pulau Penyengat ini berupa masjid, bekas istana atau kedaton, makam raja-raja Melayu beserta keluarganya, benteng pertahanan, tempat pemandian puteri, dan sebagainya. Sejumlah situs sejarah itu sangat menjadi perhatian wisatawan untuk datang berkunjung ke Penyengat, terutama ingin berziarah ke makam Raja-raja.

"KIta berharap kepada sejumlah pejabat yang berkuasa di daerah saat ini, jangan hanya pandai berkoar-koar untuk memperhatikan Pulau Penyegat, atau sekedar mencari populeritas pejabat itu saja. Sekarang mana buktinya kalau mereka-mereka (pejabat) itu peduli. Tidak kurang dari 38 situs sejarah di Penyengat saat ini yang terbengkalai perawatannya," ungkapnya.

Fuad juga meminta Gubernur Kepri, H.M Sani maupun Walikota Tanjungpinang Suryatati A Manan untuk dapat melihat langsung bagaimana kondisi sejumlah peninggalan situs sejarah yang ada wiayah itu.

"Gubernur atau walikota jangan hanya mendengarkan kata bawahannya saja. Tapi coba mereka datang dan mengamati langsung kondisi situs sejarah yang ada selama ini yang sudah mulai lapuk dan tidak terawat lagi," ungkapnya.

Disisi lain, seperti kebanyakan masyarakat yang tinggal di tepi pantai, penduduk Penyengat bermata pencaharian sebagai nelayan. Itu terjadi sebelum tahun 70-an. Namun pada tahun-tahun sesudahnya, mata pencaharian sebagai nelayan menjadi kurang diminati, karena orientasi masyarakat setempat berubah sesuai perkembangan zaman.

Pergeseran nilai dari mata pencaharian sebagai nelayan menjadi pegawai sangat erat kaitannya dengan pendidikan yang dicapai oleh penduduk setempat. Disamping para orang tua yang tidak menginginkan anak-anaknya seperti mereka, menjadi nelayan mencari ikan di laut untuk menghidupi keluarga.   

Informasi diperoleh, luas Pulau Penyengat lebih kurang 240 hektar, terdiri atas daratan 40,8 hektar dan perbukitan seluas 192,2 hektar. Sebagian tanahnya digunakan sebagai lahan pemukiman dan sarana fasilitas umum yaitu kurang lebih 120 hektar.  Sedangkan sisanya berupa hutan yaitu 23 hektar dan kebun-kebun rakyat seluas 97 hektar.   

Pemukiman penduduk, selain memanfaatkan tanah yang ada di daratan pulau tersebut, juga berada di sekeliling pantai yang menghadap ke Kota Tanjungpinang, yaitu berupa rumah-rumah panggung. Adapun di daratan rumah-rumah para penduduk ada yang terdiri atas rumah panggung, setengah permanen, dan permanen.

Alat transportasi laut yang digunakan berupa perahu motor atau disebut pompong. Pompong ini tersedia baik di Pelabuhan Tanjungpinang maupun di Pelabuhan Penyengat yang melayani penumpang dari pagi yaitu sekitar pukul 06.00 WIB hingga malam sekitar pukul 21.00 WIB. Dari Tanjungpinang menuju Pulau Penyengat memerlukan waktu kurang lebih 15 menit perjalanan dengan menggunakan pompong. (nel)

Share