Jumat09222017

Last update05:00:00 AM

Back Entertain Wisata Mengintip Warisan Wisata Melayu

Mengintip Warisan Wisata Melayu

batu limauMENGISI Liburan Tahun Baru Islam 1435 Hijriah yang jatuh pada Anda sudah menyusun rencana ? Jika belum, mungkin sejumlah objek wisata warisan budaya melayu ini bisa menjadi pilihan untuk berlibur.   
Bagi masyarakat Karimun khususnya di Kecamatan Kundur tentu tidak asing lagi dengan objek wisata Batu Limau. Daerah ini tersohor dengan aneka jenis bebatuannya yang konon mengandung magis. Uniknya, bebatuan tersebut menyerupai aneka bentuk.

Ya, di Batu Limau yang terletak di Desa Batu Limau, Kecamatan Ungar, Kabupaten Karimun sedikitnya terdapat enam bebatuan yang sudah terkenal. Nama bebatuan itu antara lain; batu menyerupai kemaluan laki-laki dan perempuan, batu bilik (dalam bahasa Melayu artinya kamar), batu kapal, batu limau, batu keris, batu pengantin dan banyak lagi lainnya.

Nama objek wisata Batu Limau diabadikan oleh warga setempat sebagai nama desa, yakni Desa Batu Limau, yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Ungar. Sedangkan Kecamatan Ungar sendiri merupakan pemekaran dari Kecamatan Kundur, yang baru saja disahkan dan dipimpin oleh seorang camat bernama Raja Jemishak sejak akhir Desember 2012 silam.

Untuk menjangkau lokasi objek wisata Batu Limau, warga dari luar Pulau Kundur terlebih dahulu transit di  Tanjungbatu, kemudian menuju pelabuhan bot pancung yang memang dikhususkan menuju Pelabuhan Alai dan Sungai Buluh. Perjalanan melalui laut ditempuh sekitar 10 menit dengan tarif Rp3 ribu per orang.

Setibanya di pelabuhan Sungai Buluh atau Alai, pengunjung akan diantar ojek sepeda motor sekitar 10 menit perjalanan dengan tarif  Rp10 ribu. Setelah sampai di lokasi, pengunjung tidak dikenakan tarif alias gratis. Hanya saja, jika pada saat ada acara keramaian atau pesta pantai, maka pengunjung dikenakan biaya pembelian karcis masuk sebesar Rp5 ribu.

Panorama pantai yang dipenuhi dengan bebatuan sangat cocok menjadi alternatif menghabiskan masa liburan dan bersantai bersama keluarga di sana. Dengan memandangi lautan luas yang berbatasan langsung dengan Pulau Penyalai, Kabupaten Indra Giri Hilir (Riau Daratan), pengunjung akan disuguhi aktivitas nelayan yang melaut di sekitar perairan Batu Limau.

Menurut Camat Ungar, Raja Jemishak mengatakan, keberadaan bebatuan di objek wisata Batu Limau yang kini diabadikan menjadi nama salah satu desa di kecamatan tersebut, memiliki cerita legenda dan misteri mengenai raja-raja Melayu zaman dahulu.

Diceritakan pria yang akrab disapa Jimi ini, pada zaman raja-raja Melayu dahulu, ada satu rombngan kerajaan Melayu Lingga berlayar dan suatu ketika mereka kehabisan perbekalan air. Melihat di sekitar perairan ada pulau yang cukup besar, sehingga kapal kerajaan tersebut pun merapat.

"Setibanya di pulau tersebut (sekarang bernama Pulau Ungar), anak raja yang perempuan pun ikut turun ke pantai dan menyempatkan diri berkenalan dengan seorang nelayan kampung, yang pada akhirnya mereka saling mencintai namun tak direstui oleh sang raja, karena itu melanggar pantang kerajaan dengan alasan anak raja tidak boleh menikah dengan masyarakat biasa. Atas hal ini putri raja pun jatuh sakit karena cinta yang tak direstui dan setiap hari sakitnya makin parah. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan serta rasa sayang sang raja kepada anaknya, maka direstuilah hubungan anaknya sehingga menikahlah mereka," ujar Jimi yang juga sebagai putra asli kelahiran dari Pulau Ungar.

Pria kelahiran 1970 ini pun melanjutkan ceritanya, bahwa atas pernikahan anak raja tersebut, ternyata mendapat sumpahan nenek moyang mereka dengan alasan telah melanggar pantang kerajaan, sehingga seluruh rombongan raja yang merapat ke Pulau Ungar termakan sumpah dan menjadi batu, termasuk berbagai perhiasan dan perlengkapan yang dibawa berlayar pada saat itu.
Sehingga pada akhirnya hantaran untuk pesta pernikahan anak raja yang di dalamnya terdapat buah limau (dalam bahasa Melayu buah jeruk) ikut menjadi batu, sebagaimana saat ini jika dilihat dari dekat, Batu Limau memang hampir mirip seperti buah kegemaran putri kesayangan raja yang di bawahnya dialas dengan talam (nampan-red).
Demikian pula batu besar yang kini disebut sebagai batu kapal. Selain itu ada batu bilik, batu pengantin, batu lesung  dan banyak lagi.

"Waktu orang tua-tua dulu katanya masih ada pinggan mangkok (piring dan baskom, red) yang masih bisa dipergunakan oleh masyarakat setempat jika ada hajatan atau pesta pernikahan. Sehingga warga pada saat itu pun sangat terbantu dengan peralatan makan peninggalan raja tersebut. Namun sekarang tak ada lagi, katanya ada yang pinjam tapi pada saat dikembalikan jumlahnya berkurang, akhirnya pinggan yang jumlahnya banyak di Batu Limau itu hilang begitu saja dan tidak bisa lagi dipinjam oleh masyarakat setempat," jelas Jimi.

Sampai saat ini, bebatuan yang penuh makna sejarah kerajaan Melayu zaman dahulu masih bisa dilihat dengan jelas, namun sangat disayangkan kondisi objek wisata Batu Limau tampak tidak terawat.

Tapi pria yang kini memimpin di tanah kelahirannya itu tidak putus asa dan mengaku akan berbuat semampunya, guna memajukan objek wisata di kampung halamannya.

"Ini akan jadi ikon Pulau Ungar dan khususnya Kecamatan Ungar sendiri. Karena kecamatan lain tidak memiliki bebatuan unik seperti ini, sehinga nantinya akan jadi daya tarik sendiri yang kemudian akan bermuara pada pendapatan masyarakat setempat. Banyak pengunjung tentu banyak pembeli sehingga warga pun berkesempatan menjajakan dagangan atau oleh-oleh dari Desa Batu Limau," ucap Jimi.

Setiap hari libur atau akhir pekan, objek wisata Batu Limau selalu dikunjungi, tapi hanya didominasi oleh wisatawan lokal. Hal inilah yang menjadi perhatiannya untuk serius menggarap salah satu situs sejarah kerajaan Melayu tersebut. (gan)

Bukit Kerang Menyimpan Situs Prasejarah

Keindahan Lagoi di Kabupaten Bintan  sudah diakui wisata mancanegara. Namun kini, Bintan juga memiliki objek wisata lain yang tak kalah eksotisnya yakni Bukit Kerang yang berlokasi di Kawal Darat, Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Bintan akan.

Bukit Kerang ini merupakan situs prasejarah yang berlokasi sekitar 5 km dari pantai dengan ketinggian sekitar 12 m dari permukaan laut.

Menurut Lurah Kawal, Zulkhairi Leksan, dari studi arkeologi yang telah dilaksanakan oleh Dinas Arkeologi, menemukan artifak berupa batu pemecah dan sendok atau pencungkil terbuat dari tulang iga rusa purba di daerah tersebut.

Diduga bahwa benda-benda ini berasal dari periode mesolithicum atau zaman batu menengah yang merupakan periode peralihan dari kebudayaan berburu ke budaya pertanian yang menetap.

"Dengan adanya penemuan ini, maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan akan menjadikannya sebagai andalan objek wisata di Bintan kedepan," ujar Zulkhairi, belum lama ini.

Dikatakan, objek wisata Bukit Kerang nantinya akan dibenahi melalui program PNPM pariwisata untuk dijadikan objek wisata, kemudian Pemkab melalui Dinas Pariwisata Bintan akan melakukan penataannya. Untuk tahap awal lanjut Zul, akan disiapkan dana sebesar Rp70 juta yang dipergunakan membangun rumah singgah, pelataran, pondok dan pagar disekitar lokasi. "Harapan kita akan dijadikan paket wisata mangrove di tahun yang akan datang," katanya.

Tujuan dijadikannya objek wisata kata Zulkhairi untuk membangkitkan geliat pariwisata yang ada di Bintan, dimana salah satunya adalah di Kawal dan beberapa daerah lainnya yang ada di Bintan.

Sementara itu, sejarahwan asal Kepri Aswandi mengatakan, situs Bukit Kerang telah dilindungi Undang-undang tentang Benda Cagar Budaya, dan berada di bawah pengawasan Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Bintan.

Pengamatan yang baru dilakukan disini mengungkapkan, bahwa Bukit Kerang ini sepenuhnya terdiri dari cangkang-cangkang kerang dihasilkan oleh manusia purba yang hidup  sekitar lima ribu tahun lampau.

Aswandi menuturkan, kata orang Melayu yang berdomisili disekitar Bukit Kerang, dulunya tempat tersebut merupakan benteng atau pagar yang dilokasinya terhampar kerang.

Setelah direspon oleh Dinas Pariwisata Bintan, kemudian Bukit Kerang diteliti dan tinjau kembali, sekitar tahun 2009 hasil dari penelitian itu dibawa ke Batusangkar. Sebelumnya, dari hasil penelitian Batusangkar belum ada respon. Dan setelah itu sampai Kepala Arkeologi bawah tanah dari Medan sempat turun ke lokasi, dan meneliti asal muasal Bukit Kerang tersebut.

"Setelah dilakukan excavasi pada tahun 2010 lalu, baru terbukti bahwa Bukit Kerang merupakan sebagai prasejarah dimana zaman ketika itu belum ada tulisan. Dengan demikian, sejarah adanya Bukit Kerang ini lebih tua dari Pulau Penyengat maupun Kerajaan Riau Lingga," kata Aswandi.        

Aswandi mengatakan, sampel kulit kerang yang diambil kedalaman 80 cm terluar diukur dan kemudian diteliti dengan campuran carbonat di Bandung, dan hasilnya bahwa kerang tersebut bermula pada tahun 1.680 BP atau sekitar tahun 331 Masehi. "Jadi,  cukup alasan bahwa sejarah di Kepri dimulai dari Kawal, karena sebuah peradaban paling tua dan ada bukti ilmiahnya terjadi di sini," ujar dia. (eza)

Melancong Ke Ranai, Mampir ke Tanjung Datuk

Mengujungi Ranai, tidak lengkap jika Anda tidak mampir ke Tanjuang Datuk Desa Teluk Buton. Daerah ini menyimpan pemandangan alam yang eksotik.

Tanjung Datuk merupakan objek wisata pegunungan yang menjulang ke Laut China Selatan, dimana deburan ombak menjadi pemandangan utama. Menariknya lagi, ketika pengunjung bisa hadir menyaksikan sinar mentari pagi dan matahari terbenam di  sore.

Para wisatawan lokal menilai, lokasi tersebut cocok untuk dijadikan tempat perkemahan, sebab lokasinya berada di atas bukit, sehingga malam hari, udara di lokasi itu sangat sejuk bak terasa di puncak.

"Pemerintah daerah melalui dinas terkait semestinya mempoles tempat itu agar lebih menarik lagi. Lokasinya sangat bagus sekali. Dan kalau bisa dijadikan tempat perkemahan,"ujar Yanto warga Natuna.

Objek wisata di Natuna sangat banyak, tinggal bagaimana pemerintah mengembangkannya. Tidak monoton pada satu tempat saja, tetapi banyak lokasi wisata yang menjadi tujuan para wisatawan.

"Selain untuk bumi perkemahan  Tanjung Datuk juga cocok untuk lokasi pemancingan, batu karang yang indah menjadi alasan utamanya," paparnya.

Yanto mengatakan, Tanjung Datuk juga cocok dijadikan lokasi pemotretan, dengan latar belakang laut China Selatan, membuat Tanjung Datuk memiliki nilai plus di mata dunia. (leh)

Share