Rabu04262017

Last update09:02:46 AM

Back News Nasional Terdakwa Gayus Tambunan Ngaku Plesiran ke 3 Negara

Terdakwa Gayus Tambunan Ngaku Plesiran ke 3 Negara

JAKARTA - Setelah sempat membantah, terdakwa kasus mafia pajak, Gayus Tambunan, akhirnya mengaku pergi plesiran ke luar negeri. Kepada penyidik, Gayus mengaku pergi ke Makau, Singapura, dan Kuala Lumpur. Gayus berangkat ke tiga negara itu didampingi istrinya Devina. Namun Gayus belum mau mengungkap motif jalan-jalan ke luar negeri tersebut. Sehubungan dengan kepergian Gayus ke luar negeri Kepala Imigrasi Jakarta Timur pun terancam dijatuhi sanksi.


“Gayus diinterogasi dan yang bersangkutan benar ke sana, yaitu ke Makau, Singapura, dan Kuala Lumpur,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bahrul Alam, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (7/1). Gayus berangkat didampingi istrinya. “Dia pergi ke Makau, pergi tanggal 24 September 2010,” jelasnya.

Gayus, menurut Anton memang berangkat ke Macau, Cina, pada 24 September 2010 menggunakan pesawat Mandala. Sementara tanggal 30 September 2010, nama Gayus ada dalam manifes pesawat AirAsia menuju Singapura. Sementara perjalanan Gayus ke ibukota Malaysia, dikatakan Anton sebagai bagian dari perjalanannya ke Singapura. Dalam rangkaian perjalanan tersebut, Gayus didampingi istrinya, Milana Anggraeni.

Namun demikian, penyidik belum mendapatkan jawaban mengenai alasan Gayus rela repot-repot mengurus dokumen palsu demi pergi keluar negeri. "Itu pasti didalami," jawab Kepala Bagian Penerangan Umum Divhumas Mabes Polri, Kombes Boy Rafli Amar.

Ini menjadi catatan penting mengingat dalam plesir Gayus ke Bali November 2010, penyidik menerima alasan bahwa Gayus hanya ingin jalan-jalan menonton tenis. Keterangannya bahwa ia ingin bertemu Maria Sharapova diterima, padahal petenis Rusia tersebut tidak bertanding kala itu.

Perjalanan Gayus kali ini lebih repot. Penyidik sejauh ini mendapatkan keterangan ia membuat KTP palsu atas nama Sony Laksono di tempat usaha di Jakarta Pusat. Paspor, ia dapatkan di tempat berbeda.

"Yang pengakuan dapat paspor itu sementara kita dapatkan ia dapat dari calo. Jadi lewat orang dibayar," kata Anton. Calo ini, menurut Anton, belum jelas keterkaitannya dengan Kantor Imigrasi Jakarta Timur, tempat paspor Sony Laksono diterbitkan. Namun, ini tak menutup kemungkinan adanya permainan orang dalam kantor imigrasi tersebut. Apalagi mengingat buku dan blanko paspor itu asli, walaupun isi paspor tersebut merupakan identitas palsu.

Seperti diketahui kasus plesiran Gayus diketahui dari pengakuan Devina di surat pembaca Harian Kompas. Devina menyebut dirinya pernah di penerbangan yang sama saat pergi menggunakan AirAsia pada September tahun lalu. Fakta kepergian juga diperkuat dengan adanya paspor atas nama Sony Lasknono yang menggunakan foto Gayus.

Direktorat Jenderal Imigrasi terus mengusut pembuatan paspor asli tapi palsu Gayus Tambunan alias Sony Laksono. Imigrasi belum menyimpulkan siapa petugas yang terlibat dalam pembuatan paspor dan yang lalai tak memusnahkan nomor blangko paspor Margaretha, yang diduga dipakai untuk pembuatan paspor Sony, padahal semestinya dimusnahkan pada April 2009.

Menurut juru bicara Imigrasi, Maroloan J. Barimbing, bila benar nomor itu diambil dari blangko Margaretha, Kepala Imigrasi Jakarta Timur saat itu ikut bertanggung jawab sebab tak memastikan blanko tersebut hancur. “Tapi nomornya sama kan bukan berarti identik. Siapa tahu nomornya diambil secara kebetulan,” kata Barimbing, di kantornya, Jumat (7/1).

Barimbing menjelaskan, dalam setiap kali menghancurkan blangko paspor yang tak dilanjutkan proses pembuatannya, semestinya ada berita acara pemusnahannya. Tapi dia mengunci mulutnya saat ditanya apakah tim Imigrasi sudah mendapatkan bukti pemusnahan blangko Margaretha atau belum. “Nanti setelah tim selesai bekerja, kami buka semuanya,” ujarnya.

Pada April 2009, Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Timur masih dijabat Edi Sukamto. Edi sendiri pensiun pada Agustus 2009. Sementara, Kepala Kantor Imigrasi saat ini, Ngasrul Ngabdimasa, menjabat sejak akhir 2009. Ngasrul sendiri tak berhasil ditemui hingga siang tadi. Didatangi ke kantornya, seorang petugas mengatakan Ngasrul sedang rapat. Dihubungi lewat telepon genggam, dia juga tak menjawab.

Barimbing mengatakan, petugas Imigrasi yang ketahuan lalai tak memusnahkan blangko paspor Margaretha pasti dijatuhi sanksi. “Sanksinya tentu sesuai Peraturan Disiplin Pegawai Negeri,” kata dia. Persoalannya, bila Edi Sukamto benar ikut bertanggung jawab, dia tak lagi tercatat sebagai pegawai negeri.

Adapun bila ada pegawai Imigrasi yang terlibat secara pidana dalam pembuatan paspor ‘aspal’ tersebut, Barimbing menyerahkannya pada proses hukum. Sejauh ini, dia yakin paspor Gayus itu dibikin di luar kantor Imigrasi.

Komisi III DPR akan segera memanggil Menkumham Patrialis Akbar terkait kasus pelesiran mafia pajak Gayus Tambunan ke luar negeri. Komisi III ingin mendengarkan pertanggungjawaban Patrialis terkait keteledoran bawahannya di Ditjen Imigrasi.

Ada Harta yang Belum Diketahui


Polri telah menyita harta Gayus Tambunan. Antara lain, kepolisian telah menyita harta Gayus dalam safety box yang nilainya mencapai sekitar Rp75 miliar, termasuk uang senilai Rp28 miliar. Namun, Gayus yang berada di dalam tahanan pada kenyataannya masih mampu menyuap petugas tahanan hingga ratusan juta rupiah supaya bebas keluar masuk. Bahkan, seperti kini terungkap, ia juga bisa bepergian ke Makau, Kuala Lumpur, dan Singapura.
Dari mana asal uang itu?

Terkait hal itu, Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Pol. Boy Rafli Amar mengatakan kemungkinan ada pihak lain yang masih memegang uang Gayus.
"Seperti kita ketahui, dia kan uangnya banyak, mungkin ada uang yang dipegang pihak-pihak lain," kata Boy di Mabes Polri. "Bisa saja ada harta karun milik Gayus yang tidak kita ketahui, itu bisa saja." Untuk itu, Boy meminta siapa saja yang memiliki informasi terkait keberadaan harta Gayus untuk melaporkannya kepada aparat. "Itulah, kami butuh informasi dari masyarakat," kata dia.

Dijatuhi Sanksi


Direktorat Jenderal Imigrasi terus mengusut pembuatan paspor asli tapi palsu Gayus Tambunan alias Sony Laksono. Imigrasi belum menyimpulkan siapa petugas yang terlibat dalam pembuatan paspor dan yang lalai tak memusnahkan nomor blangko paspor Margaretha, yang diduga dipakai untuk pembuatan paspor Sony, padahal semestinya dimusnahkan pada April 2009.

Menurut juru bicara Imigrasi, Maroloan J. Barimbing, bila benar nomor itu diambil dari blangko Margaretha, Kepala Imigrasi Jakarta Timur saat itu ikut bertanggung jawab sebab tak memastikan blanko tersebut hancur. “Tapi nomornya sama kan bukan berarti identik. Siapa tahu nomornya diambil secara kebetulan,” kata Barimbing, di kantornya, Jumat (7/1).

Barimbing menjelaskan, dalam setiap kali menghancurkan blangko paspor yang tak dilanjutkan proses pembuatannya, semestinya ada berita acara pemusnahannya. Tapi dia mengunci mulutnya saat ditanya apakah tim Imigrasi sudah mendapatkan bukti pemusnahan blangko Margaretha atau belum. “Nanti setelah tim selesai bekerja, kami buka semuanya,” ujarnya.

Pada April 2009, Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Timur masih dijabat Edi Sukamto. Edi sendiri pensiun pada Agustus 2009. Sementara, Kepala Kantor Imigrasi saat ini, Ngasrul Ngabdimasa, menjabat sejak akhir 2009. Ngasrul sendiri tak berhasil ditemui hingga siang tadi. Didatangi ke kantornya, seorang petugas mengatakan Ngasrul sedang rapat. Dihubungi lewat telepon genggam, dia juga tak menjawab.

Barimbing mengatakan, petugas Imigrasi yang ketahuan lalai tak memusnahkan blangko paspor Margaretha pasti dijatuhi sanksi. “Sanksinya tentu sesuai Peraturan Disiplin Pegawai Negeri,” kata dia. Persoalannya, bila Edi Sukamto benar ikut bertanggung jawab, dia tak lagi tercatat sebagai pegawai negeri.

Adapun bila ada pegawai Imigrasi yang terlibat secara pidana dalam pembuatan paspor ‘aspal’ tersebut, Barimbing menyerahkannya pada proses hukum. Sejauh ini, dia yakin paspor Gayus itu dibikin di luar kantor Imigrasi.

Pukulan Hebat Bagi SBY

Bebasnya Gayus melenggang ke luar negeri di saat menjalani masa  tahanan, menjadi pukulan hebat bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mengingat SBY sangat gencar dengan program memberantas mafia hukum.  Demikian dikatakan Ketua Presidium IPW Neta S Pane Jumat (7/1).

“Sebenarnya ini kecolongan dari (kasus) yang lama ya (ke Bali). Terungkapnya kasus ini menunjukkan buruknya kinerja aparat penegak hukum kita, sehingga seorang tahanan bisa lenggang kangkung ke luar negeri dengan leluasa. Dan saya kira ini pukulan hebat bagi Presiden SBY yang katanya mempunyai program memberantas mafia hukum,” paparnya.

Untuk itu, lanjut Neta, IPW berharap agar SBY introspeksi diri dan seluruh aparat penegak hukum yakni Polri, Kejaksaan dan Kemenkum HAM melakukan konsolidasi dan pembenahan total.

“Kita harus mendorong KPK menyelesaikan kasus Gayus. Kami berkeyakinan kalau KPK menangani kasus Gayus soal uang Rp28 miliar itu, siapa pejabat yang menjadi beking Gayus bisa terungkap semuanya. Sebab tanpa beking dari orang kuat posisinya, dia tidak akan mungkin bisa (keluar tahanan). Semua itu bisa terjadi karena ada bekingan,” tandas dia.

Ditanya siapa beking itu, Neta enggan menyebut secara rinci. Yang jelas menurutnya, dia pasti orang yang kuat hingga bisa menjamin Gayus bebas pelesiran. Sementara itu, terhadap KPK Neta berpesan agar lembaga antikorupsi itu tidak khawatir dengan intervensi.

“Soal aliran dana Rp28 miliar itu kan tinggal manggil Susno Duadji, Arafat, Gayus dan Adnan Buyung Nasution untuk dimintai keterangannya. Presiden harus mendesak KPK untuk tangani kasus ini. Terbongkarnya borok Polri jelas menunjukkan ketidakmampuannya menangani kasus ini,” katanya mengakhiri. (hk/oke,mi,ti,vv,dtc)

 

Share