
Rumah peribadatan Toa Pekong yang terletak di bagian Barat Pulau Buluh ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1880-an. Menurut penuturan pengelolanya, sebelum diubahsuai atau dipugar, bangunan aslinya hanya seluas 35 meter persegi.
Kecil dan bangunannya pun seluruhnya terbuat dari kayu. Saat dipugar, pengelola memang melakukan perubahan lumayan banyak. Luasnya, kini bahkan telah melebar hingga menjadi 15Mx30M.

Tetapi, ada beberapa komponen bangunan yang dibangun mengikut pada bentuk dan disain asal, seperti keberadaan atap serta tiang-tiang penyangganya. Sementara di bagian dalam, terdapat tumpukan batu cadas, yang menurut pengelola, telah ada di posisi itu sejak mula toa pekong itu dibangun pertama kali. Di sisi kanannya, tumbuh sebatang pohon Ketapang berukuran besar, yang diperkirakan telah berumur seratus tahun lebih.
Toa pekong ini terletak di pinggir laut, memiliki dermaga sendiri dan juga terdapat semacam tempat peristirahatan bagi pengunjung vihara. Ada pun sejak beberapa tahun belakangan, toa pekong ini telah berganti nama menjadi Vihara Samudra Bhakti.
Pada saat-saat tertentu, vihara ini ramai dikunjungi warga Tionghoa yang ada di sekitaran Pulau Buluh yang hendak sembahyang. Tetapi kadang, tidak sedikit juga dikunjungi warga dari luar Pulau Buluh, untuk sekedar melihat-lihat kondisi bangunannya yang memang unik dan berdisain klasik. (Edi Sutrisno)Share




