Selasa04242018

Last update05:00:00 AM

Back Karimun Ada Kotoran di Dalam Air Kemasan Merek Atarin

Ada Kotoran di Dalam Air Kemasan Merek Atarin

images/stories/Berita/2018/Februari/13Februari18/01-13feb18 karimun air atarin berlendir 1.jpgKARIMUN (HK)-  Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) merek Atarin ditemukan mengandung lumut, kotor dan berlendir di Karimun. Dinas terkait diminta menarik minuman tersebut dari pasaran.

Mencuatnya air kotor tersebut berawal ketika pegawai Kantor Lurah Baran Barat, Karimun hendak minum air kemasan gelas plastik tersebut di sela-sela gotong-royong. Namun alangkah terkejutnya, begitu hendak diminum ternyata airnya kotor dan berlendir.

"Kami lagi tengah gotong royong persiapan MTQ tingkat Kecamatan Meral. Karena haus, maka pegawai mengambil air merk Atarin kemasan gelas yang disimpan di atas meja. Begitu hendak diminum, ternyata air di dalamnya ada gumpalan-gumpalan kotoran warna hitam dan coklat, ada juga semacam lendir," ungkap salah seorang staf Kantor Lurah Baran Barat, Kecamatan Meral, Senin (12/2) sore.

Pegawai yang meminta namanya jangan ditulis itu mengatakan, begitu pegawai kantor menemukan adanya air kemasan gelas Atarin yang berisi kotoran dan lendir, maka staf yang lain ikut memeriksa gelas lainnya. Ternyata, dalam dus berisi sejumlah gelas itu juga airnya kotor. Tentu saja, temuan itu menjadi pembicaraan di kantor tersebut. Para pegawai pun heboh membicarakan air Atarin yang penuh kotoran itu.

"Ini airnya kok seperti ada lendirnya. Semacam ada lumut atau ingus. Kami yang tadinya kehausan tiba-tiba tak haus lagi. Gimana mau minum air seperti itu, seperti ingus orang isinya. Akhirnya, air itu disimpan saja diatas meja. Kalau memang ada keperluan untuk uji sampel, maka air ini bisa dijadikan sebagai bahan uji di laboratorium," terang staf kantor tersebut.

Lurah Baran Barat, Al Mizan ketika dikonfirmasi membenarkan kalau beberapa gelas air kemasan merk Atarin yang ada di kantornya kotor berisi seperti cincau warna hijau dan hitam. Dari beberapa gelas yang ditemukan di atas meja, ada gelas yang sudah ditusuk pakai pipet. Namun, jika dilihat dari isi gelasnya sepertinya air itu sudah terlanjur diminum orang.

"Memang benar, tadi sewaktu kami gotong royong ada pegawai yang menemukan air kemasan dalam keadaan kotor. Isinya seperti cincau warna hijau dan hitam. Kalau yang saya temukan ada satu gelas yang sepertinya sisa di minum orang. Karena, di gelas itu sudah ada pipetnya. Kalau gelas lainnya ada juga yang berisi seperti cincau," ungkap Al Mizan.

Terpisah, Ketua LSM Kiprah, Jhon Syahputra mengatakan, kalau memang informasi yang disampaikan staf Kantor Lurah Baran Barat tersebut benar ada air kemasan yang kotor dan berlendir, maka itu bukan hanya kelalaian dari perusahaan Atarin semata. Melainkan, Dinas Kesehatan Karimun juga ikut bertanggungjawab terkait pendistribusian air yang dikonsumsi masyarakat.

"Perusahaan Atarin harus bertanggungjawab, kenapa air dalam kemasan yang penuh kotoran dan lendir bisa sampai diedarkan ke masyarakat. Bukan hanya itu, Dinas Kesehatan juga harus ikut bertanggungjawab dalam mengawasi kandungan air kemasan yang diedarkan untuk konsumsi publik. Harusnya, mata air sebagai air kemasan betul-betul dalam keadaan layak konsumsi. Keseimbangan PH nya harus selalu terjaga," ungkap Jhon.

Menurut Jhon, Dinas Kesehatan harus menindaklanjuti temuan ini dengan mengambil sampel dan mengujinya ke laboratorium. Kalau memang air kemasan itu mengandung zat yang berbahaya, maka institusi tersebut bisa mengambil langkah tegas dengan membuat laporan ke polisi. Bahkan, izin perusahaan yang memproduksi air kemasan merk Atarin itu bisa jadi dicabut.

Bukan hanya Dinas Kesehatan, Jhon juga meminta Dinas Perdagangan Koperasi, UKM dan ESDM Karimun untuk mengawasi pendistribusian air kemasan di Karimun. Bisa jadi, masih ada air kemasan merk lainnya juga terindikasi bercampur kotoran dan tak layak untuk dikonsumsi. Semua institusi terkait harus turun ke toko dan supermarket untuk memeriksa dan memastikan kalau air kemasan yang dijual layak konsumsi. Kalau memang tidak layak harus ditarik dari pasaran. (ham)

Share