Minggu04222018

Last update05:00:00 AM

Back Karimun Oknum Pegawai PLN Kena OTT

Oknum Pegawai PLN Kena OTT

images/stories/Berita/2018/Februari/14Februari18/11-14feb18 karimun kantor pln karimun.jpgKARIMUN (HK)- Kelompok kerja (Pokja) Unit Tindak Saber Pungli Satuan Reserse Kriminal Polres Karimun melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Indra (29), oknum pegawai PLN Rayon Tanjungbalai Karimun di depan kantornya, Senin (12/2). Dari tangan pelaku, polisi berhasil menyita barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp15 juta dalam sebuah amplop.

Indra ditangkap karena berusaha memeras Ijal, salah seorang pelanggan yang berada di Pulau Buru, Kecamatan Buru. Uang Rp15 juta itu diminta Indra dengan alasan untuk membayar denda guna penyambungan kembali meteran listrik yang pernah diputus PLN. Transaksi itu dilakukan, karena sebelumnya Indra pernah menjabat sebagai Kepala Subrayon PLN Kecamatan Buru.

"Tersangka berusaha memeras korban dengan alasan adanya operasi Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL). Awalnya, tersangka meminta uang sebesar Rp32 juta kepada Ijal. Namun, yang bersangkutan tidak memiliki uang sebesar itu. Kemudian tersangka menawarkan kembali sebanyak Rp15 juta. Akhirnya disepakati dan terjadilah transaksi di depan kantor PLN Rayon Tanjungbalai Karimun," ungkap Kasat Reskrim Polres Karimun AKP Lulik Febyantara, Selasa (13/2) siang.

Lulik Febyantara mengatakan, OTT itu berhasil diungkap berkat adanya laporan dari warga yang menduga akan terjadinya transaksi antara oknum pegawai PLN Rayon Karimun dengan masyarakat Buru. Begitu menerima laporan tersebut, Pokja Unit Tindak Saber Pungli Satreskrim Polres Karimun langsung menuju lokasi bakal dilakukannya transaksi tersebut. Begitu sampai di lokasi, informasi itu benar adanya.

Kata Lulik, tersangka tidak berhasil menunjukkan putusan dari pembayaran denda tersebut. Penyidik juga masih terus mendalami kasus tersebut dengan memanggil sejumlah saksi dan alat bukti terkait dokumen-dokumen P2TL yang berhubungan dengan perkara tersebut. Hingga saat ini, tersangka belum ditahan polisi, dengan alasan tersangka masih kooperatif.

"Sampai saat ini, tersangka belum berhasil menunjukkan berapa besar denda yang harus dibayar oleh pelanggan ketika meteran listrik di rumahnya diputus karena menunggak melakukan pembayaran bulanan. Tersangka masih belum kami tahan. Tersangka kami sangkakan dengan pasal 8 dan pasal 12 huruf e UU Tipikor dan atau pasal 368 tentang Pemerasan," tuturnya.

Lulik menyebut, pihaknya masih mendalami apakah ketika menjabat sebagai Kepala Subrayon PLN Buru, tersangka sudah melakukan perbuatan serupa. Hingga kini, polisi masih terus membuka dan menerima laporan dari masyarakat Buru apakah pernah menjadi korban perbuatan serupa yang pernah dilakukan tersangka sebelumnya. Hingga sekarang, belum ada laporan yang masuk ke polisi.

Perwira dengan pangkat tiga balok di pundak ini mengatakan, terungkapnya kasus OTT oknum pegawai PLN Rayon Tanjungbalai Karimun merupakan yang pertama sejak adanya intsruksi dari Polri untuk menindak pungli melalui OTT minimal satu kasus dalam satu bulan pada 2018 ini. Pihaknya, akan terus menindak siapa saja dan dimana saja terjadinya praktek pungli.

"Bagi masyarakat yang melihat atau menerima informasi bakal terjadinya transaksi pungutan liar yang bisa berakibat terjadinya kerugian negara atau penyalahgunaan wewenang, maka silakan melapor kepada kami. Setiap laporan yang masuk pasti akan kami tindak lanjuti. Kita ingin memberangus setiap bentuk praktek pungutan liar di Kabupaten Karimun ini," pungkas Lulik. (ham)

Share