Jumat04182014

Last update12:00:00 AM

Back Karimun Kisah Pengajar di Sekolah Hinterland

Kisah Pengajar di Sekolah Hinterland

Ardian Tinggal di Rumah Beratapkan Rumbia

KARIMUN (HK) - Nasib Ardian, SPd,  salah seorang guru yang mengajar di hinterland demikian  memprihatinkan sehingga  mengundang simpati dari berbagai kalangan  termasuk Komisi A DPRD Karimun.  

Guru matematika di SMAN 6 Kundur ini  menempati sebuah rumah yang terbilang sangat sederhana sekali. Rumah beratap rumbia dan berdinding papan itu berukuran hanya 3X4 meter.  Nyaris tak ada perabotan mewah di rumah yang terletak  di samping SMAN 6 Kundur itu.

Sebelum mengajar di SMAN 6 Kundur, Ardian adalah guru di SMA Binaan Karimun. Dirinya tiba-tiba ditugaskan mengajar di sekolah hinterland, tepatnya di Desa Penarah, Kecamatan Belat, kecamatan baru hasil pemekaran dari Kecamatan Kundur Utara pada akhir 2012 lalu.

"Begitu mendapat tugas mengajar di SMA 6 Kundur, langsung saya iyakan. Saya bersedia ditempatkan dimana saja, termasuk di daerah baru seperti Desa Penarah ini. Saya hanya ingin mencari pengalaman yang baru," kata Ardian saat diwawancarai Haluan Kepri, Rabu (17/4) kemarin.

Pertama kali ditugaskan, Ardian belum memiliki tempat tinggal. Perlahan-lahan dirinya menyisihkan sebagian gajinya untuk membangun rumah sederhana itu, yang saat ini ditempati dirinya bersama istri dan dua orang anaknya. "Alhamdulillah, sekarang kami sudah punya rumah, meski sederhana," ungkapnya.

Selain menetap di rumah yang sangat sederhana, tinggal di Desa Penarah juga penuh keterbatasan. Disana, listriknya hanya menyala delapan jam satu hari. Listrik mulai menyala pada pukul 17.00 WIB dan dimatikan pada pukul 01.00 dinihari. Setelah itu, daerah itu hidup dalam keadaan gelap gulita.

Meski mengajar di sekolah terpencil dengan keterbatasan sarana pendukung, ternyata semangat mengajar pria lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Pekanbaru ini tak pernah padam. Bahkan, disela-sela waktu luang habis mengajar, dirinya sempat menulis buku.

Buku yang ditulisnya tak jauh-jauh dari bidang studi yang diajarnya, yakni matematika. "Buku yang saya tulis itu, buku pelajaran matematika, tapi belum diterbitkan. Masih dalam tahap penyusunan akhir, saat ini baru ditulis sekitar 120-an halaman. Mulai saya tulis sejak 2011 lalu, mudah-mudahan sebentar lagi kelar," kata Ardian.  

Buku itu ditulis di teras rumahnya yang sederhana itu. Rumah bersahaja bagi seorang guru. Namun, rumah yang ditinggali Ardian justru berbanding terbalik dengan sekolah tempatnya mengajar. Sekolah itu terlihat cukup megah dengan konsep bangunan modern. Bangunan sekolah beratap seng, berlantaikan keramik.

SMAN 6 Kundur dibangun pada 2006 lalu menggunakan dana block grant dari APBN. Sekolah itu berdiri diatas perbukitan dengan luas 2,2 hektar. Untuk mencapainya, butuh perjuangan yang berat karena harus melewati jalan setapak sepanjang 15 kilometer dari pelabuhan Belat yang menjadi akses utama masyarakat disana.

Jumlah siswa di SMAN 6 Kundur tercatat sebanyak 160 orang, yang mengikuti ujian nasional (UN) 45 orang. Jurusan IPA diikuti 18 siswa terdiri dari 3 orang laki-laki dan 15 orang perempuan. Untuk jurusan IPS diikuti 27 orang siswa, 20 orang laki-laki dan 7 orang perempuan.

Guru disana berjumlah 13 orang, 2 orang sudah pegawai negeri sipil (PNS), sementara 11 orang lainnya masih berstatus guru honor insentif Kabupaten Karimun. Ternyata, 9 orang guru honor itu sudah sarjana penuh (S1) dan tiga orang lainnya merupakan lulusan ahli madya (D3).

Komisi A DPRD Karimun yang membidangi pendidikan sengaja turun ke lokasi sekolah itu, Selasa (16/4) lalu. Mereka sengaja turun untuk melihat langsung kondisi pendidikan di daerah hinterland. Komisi A meminta kepada Pemkab Karimun agar segera membangun perumahan yang permanen bagi guru disana.

Ketua Komisi A Jamaluddin mengatakan, selain meminta pembangunan rumah guru, pihaknya juga meminta kepada Pemkab Karimun untuk membangun jalan ke sekolah itu dengan aspal, karena jalan yang ada sekarang masih jalan setapak. "Jika asrama guru belum bisa, minimal bangun jalan dulu biar anak-anak bisa lebih aman ke sekolah," kata Jamaluddin.

"Saya melihat guru yang ada di sekolah itu sudah berkompeten semua. Dari seluruh guru yang ada, semuanya merupakan lulusan sarjana dan diploma 3. Berarti semangat mengajar guru-guru di hinterland sudah sangat tinggi. Tinggal bagaimana pemerintah daerah saja yang harus memperhatikan kesejahteraan guru tersebut," kata Jamaluddin.

Selain meminta pembangunan asrama guru, Komisi A juga meminta agar dua bangunan sekolah yang tidak dilengkapi meubiler seperti meja, kursi dan lemari agar segera dilengkapi. Bukan itu saja, Komisi A juga meminta agar tahun 2014 mendatang bisa dibangun suang pustaka dan ruangan komputer, karena saat ini sudah ada kurikulum teknologi informatika komputer (TIK). (ilham)

Share