Jumat11242017

Last update05:00:00 AM

Back Luar Negeri AS Bombardir Suriah, 15 Orang Tewas

AS Bombardir Suriah, 15 Orang Tewas

Damaskus (HK)- Serangan 59 rudal Tomhawk yang dilakukan Amerika Serikat (AS) ke Suriah telah menewaskan sembilan warga sipil, empat di antaranya anak-anak dan enam tentara Suriah.

Serangan militer AS yang pertama kali sejak perang saudara pecah di Suriah enam tahun lalu, menarget pangkalan angkatan udara Suriah, Shayrat hanya beberapa jam sebelum memasuki hari Jumat (7/4) waktu setempat.

Menurut Presiden Donald Trump, serangan militer itu untuk membalas serangan gas beracun pasukan presiden Suriah, Bashar al-Assad yang menewaskan sedikitnya 100 orang di provinsi Idlib, 4 April lalu. Trump menyatakan serangan ke Suriah sengaja dilakukan demi keamanan AS dan mencegah penyebaran penggunaan senjata kimia.

"Serangan itu demi melindungi kepentingan dan keamanan nasional AS. Selain itu juga untuk mencegah penggunaan senjata kimia," kata Trump dalam sebuah pidato di Mar-a-Lago Resort, Florida, Jumat (7/4) malam waktu setempat.

AS menembakkan 59  misil Tomhawk dari kapal perang yang berlabuh di tengah Laut Mediterania dan jet tempur ke pangkalan militer Suriah pada Kamis (6/4) malam waktu setempat. Aksi militer AS mendapat tanggapan keras anggota Senat dari Partai Republik, di antaranya adalah Ted Cruz.

Cruz mengatakan, Presiden Trump harus membawa persoalan ini ke Kongres guna menjelaskan apa yang telah diperintahkan kepada pasukan militer. "Setiap tindakan militer di Suriah harus demi melindungi kepentingan keamanan nasional AS, termasuk mencegah penyebaran senjata kimia ke kelompok radikal," kata Cruz dalam sebuah pernyataan.

Pernyataan Crus tersebut mendapatkan dukungan dari rekannya separtai, Rand Paul dan Brian Kilmeade.

"Kita semua memang mengutuk kekejaman di Suriah, namun Amerika Serikat tidak perlu melakukan serangan. Presiden membutuhkan otorisasi Kongres untuk aksi militer seperti yang dipersyaratkan oleh konstitusi. Saya memanggil beliau datang ke Kongres untuk melakukan perdebatan," kata Paul yang pernah bersaing dengan Trump maju jadi calon presiden dari Republik pada 2016.

Senator Partai Republik dari Kentucky, Rand Paul, menentang serangan itu. Presiden Trump seharusnya lebih dulu membahasnya di Kongres baru kemudian mendeklarasi perang secara resmi. Sikap Senator Paul itu disampaikan sesaat setelah Petangon mengumumkan bahwa AS menembakkan lebih dari 50 misil Tomhawk ke pangkalan militer Suriah.

"Kita semua memang mengutuk kekejaman di Suriah, namun Amerika Serikat tidak perlu melakukan serangan. Presiden membutuhkan otorisasi Kongres untuk aksi militer seperti yang dipersyaratkan oleh konstitusi. Saya memanggil beliau datang ke Kongres untuk melakukan perdebatan," kata Paul yang pernah bersaing dengan Trump maju jadi calon presiden dari Republik pada 2016.

Paul menambahkan, serangan AS akan membuat situasi di Suriah kian buruk. Menurut pejabat Pentagon yang tak bersedia disebutkan namanya kepada kantor berita Reuters, serangan AS itu sengaja dilakukan untuk membayar dosa Suriah yang menggunakan senjata kimia.

Kerajaan Arab Saudi  mendukung sepenuhnya serangan tersebut.
"Seorang sumber layak dipercaya di Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa Kerajan Arab Saudi mendukung penuh operasi militer Amerika terhadap fasilitas militer Suriah yang dianggap bertanggung jawab atas penggunaan senjata kimia melawan warga sipil tak berdosa," tulis kantor berita SPA, Jumat, 7 April 2017.

Dalam pernyataan tersebut juga berisi pujian terhadap Presiden Donald Trump yang telah mengambil keputusan berani. "Pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad harus bertanggung jawab atas serangan militer yang dilakukan Selasa pekan lalu."

Selain Arab Saudi, pemerintah Selandia Baru juga memberikan dukungan sepenuhnya. Sekutu AS di ANZUs, Pakta Pertahanan Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, ini bisa memahami apa yang dilakukan oleh Trump terhadap Suriah.

Dukungan Selandia Baru itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Murray McCully. "Serangan itu untuk merespon senjata kimia mematikan," kata McCully dalam sebuah pernyataan kepada NZ Newswire, Jumat (7/4).

Dia menambahkan, "Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak memberikan respon memadahi terhadap penggunaan senjata kimia di Suriah. Kami bisa memahami bila AS melakukan tindakan sepihak terhadap rezim Suriah." (tmp/bbc)

 

Share