Rabu11262014

Last update12:00:00 AM

Back Meranti Bandar Niaga Selatpanjang Semakin Menggeliat

Bandar Niaga Selatpanjang Semakin Menggeliat

SELATPANJANG (HK) -  Provinsi Riau, memiliki sejumlah kawasan yang bersentuhan langsung dengan perairan Selat malaka, yang menjadi jalur perniagaan internasional. Diantaranya Dumai, Bagan Siapi-Api, Rupat, Bengkalis dan Selatpanjang Kabupaten Kepulauan Meranti. Untuk mengoptimalkan posisi ini, Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan Kota Dumai sebagai pintu masuk perdagangan lintas batas. Demikian juga, Pulau Rupat dengan pesona pantai pasirnya yang berhadapan dengan Selat Malaka, diplot sebagai kawasan wisata bahari.
Dengan ditetapkannya kebijakan tersebut, Pemerintah Riau berharap mampu menjadi pusat ekonomi baru untuk daerah. Namun, kebijakan ini belum mampu menjawab harapan tersebut. Kota Selatpanjang yang dari dulunya menjadi “kuda beban” yang menghubungkan Riau daratan dengan Riau Kepulauan, kini mulai menggeliat tumbuh menjadi harapan. Kota yang terletak dibantaran Selat Air Hitam ini, muncul menjadi Bandar niaga yang terus berkembang. Dengan segala potensi dan keunggulannya, kota yang nyaris lumpuh akibat peristiwa Selatpanjang kelabu 18 Februari 2001 lalu, jadi tumbuh  pesat sebagai pusat perekonomi baru  di bibir Selat Malaka.

Sejarah memang membuktikan Selatpanjang memiliki ruh untuk tumbuh dan berkembang menjadi sebuah kota niaga yang memiliki keunggulan. Pada zaman Kerajaan Siak Sri Indrapura, Kota Selatpanjang menjadi perhatian serius. Hal ini dibuktikan dengan dikirimnya Panglima Besar Muda Tengku Bagus Rasyid pada tahun 1805 untuk mendirikan bandar niaga di Pulau Tebing Tinggi. Keberhasilannya membangun daerah ini, Sultan Siak VII Syarif Ali mengangkatnya menjadi penguasa Bandar. Pada zaman colonial Belanda, Konteliur Van Huis, secara sepihak mengubah nama Bandar menjadi Selat Panjang. Namun upaya ini ditolak J.M. tenkoe Soelong Tjantik Saijit Alwi menolak. Melalui kesepakatan bersama pada tanggal 4 September namanyapun diubah menjadi Negeri Makmur Bandat Tebing Tinggi Selatpanjang.

Posisi strategis dan roh yang dimiliki Selatpanjang, ternyata menarik perhatian Pemerintah colonial belanda. Untuk itu, Pemrtinah colonial Belanda membangu tata kota dan perkantoran serta penjara. Belanda bermaksud menjadikan Selatpanjang sebagai gerbang startegis untuk menguasai perairan Selat malaka, untuk menguasai semenanjung Malaya (Malasyia dan Singapura) yang dikuasai Inggris. Hal ini dibuktikannya dengan adanya sejunlah bukti sejarah berupa bangunan gedung zaman Belanda dan makam keluarga Belanda di kota Selatpanjang.

Disisi lainnya, fakta sejarah juga membuktikan, bahwa dari dulunya Selatpanjang, telah memiliki masyarakat yang heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghua. Maka tak heran bila banyak sekali terdapat jejak sejarah kebudayaan kedua suku tersebut di kota ini. Keharmonisan kegiatan cultural sangat terasa, demikian pula dengan aktifitas perdagangan. Semua ini tidak terlepas dari tyoleransi kuat diantara suku-suku yang bermukim diwilayah ini. Factor ini pulalah yang kemudian menyebabkan suburnya perdagangan dan lalu lintas barang maupun manusia dari daratyan Cina ke Nusantara maupun sebaliknya. Sejarah ini meninggalkan jejak mental bisnis pada banyajk suku Tionghua di Selatpanjang.  Bahkan banyak sejarawan berpendapat, bahwa para pengusaha keturunan Tighua di kota Pekanbaru, berasal dari Selatpanjang.

Geliat Selatpanjang untuk tumbuh menjadi Bandar niaga yang maju dan unggul, nyaris runtuh dengan terjadinya peristiwa Selatpanjang kelabu. Terbakarnya ratusan unit toko yang menjadi nadi ekonomi kota ini, menyebabkan ribuan warga Tioghoa resah dan berniat eksodus dari Selatpanjang. Namun, kesadaran akan rasa memiliki daerah ini membuat  semua kegelisahan tersebut sirna. Para pengusaha Tioghoa tetap bertahan dan membangun kembali ekonomi kota Selatpanjang. Mental bisnis yang menjadi darah para penghusaha Tionghoa ini, secara perlahan mampu membangun kota Selatpanjang menjadi pusat ekonomi yang terus berdenyut.

Meskipun guliran dana APBD Bengkalis waktu itu sangat kecil dan lambat, Selatpanjang tetap mampu memainkan perannya sebagai lokomotif ekonomi Riau. Hal ini jugalah yang menarik perhatian Pemkab Siak, Bupati Arwin AS sempat menawari para penghusaha Tionghoa Selatpanjang untuk pindah, membangun Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB). Tidak tanggung tanggung, 100 hektar lahan dipersiapkan untuk aktifitas ekonomi bagi para pengusaha tersebut.

Namun, kembali rasa memiliki daerah ini yang menjadi tumpah darahnya para pengusaha Tionghoa tetap tak bergeming dan memilih Selatpanjang sebagai basis bisnisnya. Tidak heran bila mantan Bupati Bengkalis H. Azaly Johan mengatakan Selatpanjang sebagai mutiara terpendam. “Andaikan Riau sebagai untaian kalung permata, Selatpanjang adalah berlianya. Suatu saat kota ini, akan tumbuh dan berkembang menjadi Bandar Niaga yang unggul dan maju. Tidak hanya menjadi noktah penting bagi ekonomi Riau. Selatpanjang akan menjadi bagian percaturan ekonomi regional dan global” ungkap H. Azaly Johan.

Menjadi Gerbang Ekonomi Sumatera

Geliat kota Selatpanjang terus meningkat semenjak Meranti defenitif lepas dari Bengkalis. Kebijakan Pemkab Kepulauan Meranti yang mampu menciptakan iklim usaha dan investasi yang kondusif, menjadikan kota Selatpanjang dengan segala keunggulannya semakin berkembang pesat. Jaminan keamanan dunia usaha dan investasi, mampu menarik dunia usaha menamkan modalnya di kota Selatpanjang. Berdasarkan catatan kantor Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu, dalam tiga tahun terahir lebih dari 153 lembar izin mendirikan pertokoan di keluarkan. Disamping itu, sampai akhir 2012 total nilai investasi di Meranti mendekati angka Rp1 triliun.

Iklim impestasi yang positif, berdampak luas pada aktifritas perputaran uang di kota Selatpanjang. Sebagai Bandar niaga yang tidak hanya menjadi penyangga ekonomi masyarakat Meranti, tapi juga meluas ke kabupaten Siak dan Pelalawan. Peningkatan aktifitas uang yang beredar, tidak hanya terjadi di sejumlah bank di Kota Selatpanjnag yang setiap harinya diperkirakan mencapai 3-4 miliar rupiah. Kondisi yang sama, juga terjadi peningkatan jumlah uang yang beredar di pasar Kota Selatpanjang.

Dari proses transaksi di pasar Selatpanjang, berdasarkan data Dinas Pasar kabupaten Kepulauan Meranti, setiap harinya diperkiranan uang yang beredar mencapai Rp2-Rp3 miliar  yang melibatkan masyarakat diberbagai komunitas. Tidak heran bila kondisi ini semakin meningkatkan kepercayaan dunia perbankan untuk menamkan investasinya di Selatpanjang.  Selain bank-bank Pemerintah, sejumlah bank swasta hadir di Selatpanjang diantara Bank Panin, Bank Perkereditan Mulia, bank Perkereditan Seraya dan Ban Muamalat dan ban Syariah Mandiri. Kehadiran bank-bank ini, semakin memperkuat posisi kota Selatpanjang untuk tumbuh dan berkembang pesat.

Pertumbuhan Kota Selatpanjang yang meningkat, tidak hanya mennjadi magnet bagi aktifitas dunia perdagangan. Disisi lain, perkembangan kota Selatpanjang turut menraik para pencarin kerja menjadikan kota ini sebagai tujuan. Dampak dari kondisi ini, pertumbuhan jumlah penduduk di kota Selatpanjang turut meningkat drastic. Berdararkan catatan Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, sampai ahir 2012 jumlah penduduk di Kota Selatpanjang telah mencapai 56.192 jiwa, dari total jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Meranti sebesar 182.659 jiwa.  Kondisi ini menunjukkan betapa pesatnya pertambahan penduduk di Selatpanjang pasca pemekaran. (rus).

Share