Sabtu11182017

Last update05:00:00 AM

Back Meranti Dapur Arang Dijadikan Kedok Aktivitas Pengusaha Lintas Batas

Dapur Arang Dijadikan Kedok Aktivitas Pengusaha Lintas Batas

SELATPANJANG (HK)- Dugaan kegiatan melanggar hukum berupa penyeludupan barang ke luar negeri tampaknya akan terkuak lebar di Meranti. Konon kabarnya kegiatan usaha lintas batas yang menggunakan belasan armada speddboat dengan kecepatan tinggi bermesin tempel 600 PK itu, telah berjalan mulus leih kurang sejak lima tahun silam.
Sebelum berlokasi di tempat yang baru, yakni di Sungai Baru, kegiatan ini dulunya bermarkas di Desa Selat Akar – dahulu masuk Kecamatan Merbau dan sejak tahun 2012 lalu, menjadi masuk ke Kecamatan Tasik Putri Puyu.

Entah apa masalahnya, belakangan sekira 2 tahun terakhir, usaha yang katanya mempekerjakan karyawan yang siap pakai itu berpidah ke Sungai Baru Kecamatan Pulau Merbau.

Lokasi operasional atau kegiatan mereka dijadikan di sebuah kilang arang, sehingga tentu saja tidak mudah bagi orang lain untuk mengklaim kegiatan mereka sebagai objek lintas batas alias kegiatan lundup.

Kilang arang itu dijadikan sebagai bemper sehingga kehadiran pengusaha itu selama ini tidak menjadi silau bagi warga sekitar, maupun bagi pejabat pemerintah kabupaten. Dan anehnya, operasional mereka selama ini tetap berjalan mulus, hingga terjadi tabrakan antara speedboat pengusaha tersebut dengan kapal nelayan. Dan terakhir, pengusaha selaku pemilik dapur arang tersebut yakni bernama  Ayau, dilaporkan ke Polres Meranti karena merampas kamera wartawan. Wartwan ingin mendapatkan wajah pengusaha itu setelah sebelumnya berhasil diwawancarai terkait kejadian tabrakan kapal dengan nelayan yang beberapa hari sebelumnya.

Tabrak Kapal Nelayan Speedboat milik pengusaha lintas batas yang bermarkas di Sungai Baru Kecamatan Pulau Merbau Kepulauan Meranti, belum lama ini menabrak kapal nelayan di perairan Teluk Ketapang.

Mesin 600 PK tersebut menurut korban melaju kencang menuju perairan Selat Malaka ketika naas itu terjadi.

Menurut pengakuan para nelayan di Meranti mengungkapkan, kegiatan lintas batas tersebut selama ini menggunakan motor boat laju adalah sebuah rutinitas pengusaha yang diduga menyelundupkan berbagai rokok kretek dari Indonesia itu.

Informasi di lapangan, kapal nelayan mengalami tabrakan itu, langsung menemui nelayan di Desa Mayang Sari dua hari setelah kejadian.

Tengku Kitan, warga Desa Mayangsari mengakui ia mengalami kerusakan motor pompongnya, serta mengalami cedera akibat ditabrak speedboat milik pengusaha lintas batas itu. Didampingi Kades Mayang Sari Mukari, mengakui motornya saat kejadian memang tidak berlampu akibat batrei kapal pompongnya saat itu lemah. Saat itulah tiba-tiba datang boat pancung dengan kecepatan tinggi menabrak motor pompong kami tersebut,”ungkap Tengku.

Untungnya katanya lagi, saat kejadian, tekong boat itu langsung menolong dan membawanya ke Sungai Melibur untuk mendapatkan pertolongan. Dan tak lama berselang di antara kedua belah pihak itu juga sudah dilakukan perdamaian,”aku nelayan ini.

Sementara tekong speedboat pelintas batas tersebut saat ditanya wartawan kenapa harus terjadi tabrakan tersebut mengatakan, "kalau dah tak lihat telanggolah, apa lagi gelap mana kita nampak,”sebutnya enteng.

ABK lainnya bernama Budiman menambahkan, nelayan tersebut saat itu tidak pasang lampu. Sementara kita pasang lampu, kita lihat cuma macam tumpukan sampah hitam, karena cuaca gelap saat itu", sebut Budiman.

Dari pengakuan Budiman jugalah diketahui, mereka berangkat dari Sungai Baru setiap harinya  2 trip dan hanya sampai ke perbatasan saja. Atau lewat perbatasan sedikit, dan selanjutnya di perbatasan itu sudah ada speedboat, atau kapal lain yang akan membawa rokok itu, dan kita juga tak tahu kemana tujuannya,”aku ABK ini.

Kepala Desa Mayangsari Mukari mengatakan, masalah ini sudah dilakukan pertemuan antara kedua belah pihak dan juga telah dilakukan perdamaian.

Diungkapkannya, pihak pengusaha bersedia mengganti kerugian korban, mulai dari biaya pengobatan, memperbaiki motor, dan biaya korban selama tidak bisa melaut, dengan total perdamaian sebesar Rp10 juta.

Akiong melalui teleponnya saat itu mengatakan, speedbot mereka terlalu laju mungkin, suasana di sana juga gelap tak kelihatan. “saya rasa tak payah di exsposlah, orang itu kan dah damai juga,”sebut  Akiong kala itu.

Sementara Kapolres Kepulauan Meranti Z Padra Arsyad mengakui kalau keberadaan pengusaha lintas batas di Sungai Baru tersebut masih belum termonitor oleh pihaknya. Disebutkannya kala itu, terkait kecelakaan yang dialami nelayan tersebut telah diperintahkan kepada Polsek Merbau untuk menelusuri kejadian dimaksud.

Dan terkait keberadaan pengusaha yang bermarkas di Sungai Baru itu menurut Kapolres akan dirapatkan bersama Forum Komunikasi Pemerintah Daerah dan instansi terkait lainnya. "Apakah keberadaan mereka resmi atau tidak, akan diketahui,”sebut Pandra ketika itu.(hmg)

Share