Rabu09202017

Last update05:00:00 AM

Back Meranti Ketika Ribuan Petani Kelapa Meranti Terjerat Utang

Ketika Ribuan Petani Kelapa Meranti Terjerat Utang

Lelaki paruh baya itu, terus mengisi gemo (gerobak motor) dengan butiran kelapa bulat yang baru disiap di bersihkan kulitnya. Dengan menggunakan kedua tangannya yang sudah berkeriput, lelaki paruh baya tersebut dengan lincah memindahkan kelapa dari pinggir jalan ke dalam gerbak motor untuk dibawa ke gudang penimbunan buah kelapa bulat di Peranggas. Kami Tak Punya Cara Menjual Hasil Panen

SELATPANJANG (HK)– Lelaki paruh baya itu, terus mengisi gemo (gerobak motor) dengan butiran kelapa bulat yang baru disiap di bersihkan kulitnya. Dengan menggunakan kedua tangannya yang sudah berkeriput, lelaki paruh baya tersebut dengan lincah memindahkan kelapa dari pinggir jalan ke dalam gerbak motor untuk dibawa ke gudang penimbunan buah kelapa bulat di Peranggas.
Rintik hujan yang mengguyur Desa Kedaburapat siang itu, seakan-akan tak membuat basah tubuh hitam yang tersengat matahari itu untuk berteduh. Seakan-akan tubuh kurus yang mulai keriput dimakan usia itu,  tak lagi merasakan sejuknya titisan hujan yang membasahi baju kaos kumalnya. Sambil menyeka titisan air hujan yang membasahi kedua pipinya yang kempot, lelaki tua dengan tujuh orang  cucu ini kemudian duduk melepas penat, berteduh di bawah rimbun pohon kopi yang berdiri di pinggir jalan. Dari balik saku celananya, lelaki paruh baya itu kemudian membuka bungkusan plastic hitam. Jari-jarinya yang keriput terlihat lincah melinting rokok tembakau cap rusa. Dalam hitungan menit, dari celah bibirnya yang tak lagi terlihat susunan gigi, mengepul asap dengan aroma kemenyan yang kuat menyengat.

“Beginila rutinitas kami petani kelapa di desa ini. Empat bulan sekali menurunkan buah kelapa untuk di jual ke penampung dan dibawa ke Malaysia. Sebulan sebelum puasa kemarin, harga kelapa sempat naik Rp 3000 kiligram per butir untuk ukuran besar. Sekarang, harga kelapa terjun bebas, tinggal Rp. 1400 kilogram atau per butir. Harga ini masih bagus ketimbang setahun yang lalu, yang hanya tinggal Rp 500 kilogram. Dari Rp1 juta hasil penjualan kelapa, yang kita terima hanya Rp400.000 Itu masih untung, kalau ada  utang paling hanya tinggal membawa pulang Rp200.000.” tutur Nuryadi (76), petani kelapa Desa  Kedaburapat Kecamatan Rangsang Pesisir.

Bagi Nuryadi dan ribuan petani kelapa di Kedaburapat maupun Rangsang Pesisir dan Ransang Barat, kelapa merupakan sumber penghidupannya. Dari hasil penjualan butiran kelapa inilah para petani mencukupi kebutuhan keluarganya. Tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari (makan  dan minum red) tapi juga untuk biaya berobat dan anak-anak sekolah. Perkebunan kelapa memang menjadi andalan petani desa Kedaburapat. Meskipun harga jual beli kelapa  tak pernah stabil dan tak menguntugnkan petani, banyak anak-anak petani di desa ini yang  berhasil meraih gelar sarjana. Paling tidak di desa yang terletak di ujung utara pulau Rangsang ini, lebih dari 100 sarjana dari berbagai disiplin ilmu mampu dilahirkan. Dan semuanya, adalah anak-anak petani kelapa tradisional.

“Kalau dibilang untuk membiayai pendidikan sampai kuliah, memang tak cukuplan Nak. Bayangkan dengan harga kebutuhan sehari-hari yang terus melambung dengan harga kelapa yang terus terjun bebas. Untuk makan saja tak cukup. Mau tak mau, ya harus membuka bon pinjaman dengan para toke kelapa. Untuk  membayarnya, harus dicicil dengan hasil penjualan kelapa saat panen. Hanya itu satu-satunya cara, tidak ada pilihan lain. Kami tidak punya alternatif lain untuk menjual hasil panen kelapa kami. Di Meranti tidak ada pabrik pengolah kelapa yang bisa menjadi patron kami para petani. Inilah yang menyebabkan ribuan petani kelapa di berbagai desa di Meranti, terlilit utang yang harus diwariskan secara turun temurun” beber Bapak dengan tujuh cucu ini.

Penuturan yang sama juga diungkapkan Maryati (60). Janda dengan enam orang anak ini terpaksa harus berhempas pulas, mengolah kebun kelapanya untuk menjadi sandaran hidup anak-anaknya. Sama dengan Pak Nuryadi, setiap empat bulan sekali penen kebun kelapanya harus dis setor ke penampung kelapa untuk mendapatkan lembaran rupiah. Dengan harga kelapa yang terus menurun, memang tak lagi mampu menampung kebutuhan ekonomi keluarga. “Seetiap menhetor panen kelapa, kita harus ketir-ketir. Soalnya, dengan hasil penjualan kelapa yang tak seberapa, masih harus dipotong untuk membayar utang. Apalagi kalau sampai anak-anak yang kuliah meminta kiriman uang untuk bayar uang semester. Jangankan untuk membawa lembaran rupiah pulang kerumah, terkadang harus menambah  utang untuk mengirimi biaya anak kuliah. Mau bagaimana lagi, memang inilah satu-satunya jalan bagi kami pera petani.Meskipun demikian, saya bersyukur, dengan jerih payah ini empat anak-anak saya jadi sarjana dan sekarang sudah bekerja. Dari kiriman anak-anak, saya sekarang bisa lega, bebas dari utang warisan penjualan kelapa setiap panen” ungkap Nenek dengan lima cucu ini.

Nuryadi dan Maryati, merupakan bagian dari ribuan petani Kelapa di Meranti yang bisa sukses  menyekolahkan anak-anaknya sampai menjadi sarjana dan sukses bekerja. Meeskipun dimata sebagian masyarakat, jerat tengkulak tak menguntugnkan petani tapi bagi sebagian petani kelapa di Meranti justru menjadi “dewa penolong”. Hingga hari ini, ribuan petani masih akur membangun  patron dengan para pedagang pengumpul yang disebut-sebut sebagai tengkulak. Bukan tidak ingin lepas bebas menjual kelapa dengan harga yang lebih baik, tapi seperti penuturan Pak Nuryadi dan Buk Maryati, tidak ada alternatif lain untuk menjual panen kelapanya. Tidak heran bila masih banyak petani kelapa di Meranti terjerat utang dengan tengkulak. (Ruslan Nahrowi)

Share