Rabu12132017

Last update12:00:00 AM

Back Meranti Industri Rumahan Meranti Belum Terkelola

Industri Rumahan Meranti Belum Terkelola

SELATPANJANG (HK) – Industri rumahan (home industry) yang menjadi kantong ekonomi kreatif masayarkat di pedesaan belum dikelola dengan baik. Saat ini, Pemkab Meranti mengandalkan sektor tambang minyak dan gas bumi (migas) sebagai lumbung pendapatan daerah.
Ketua Komisi II DPRD  Kabupaten Kepualuan Meranti Basiran Sarjono, mengungkapkan hal ini terkait dengan minimnya perhatian Pemkab Meranti dalam pengembangan sektor home industry berbasis pengolahan hasil pertanian dan perkebunan di berbagai pelosok pedesaan.

“Sampai hari ini, para petani dan pengelola home industry harus tungkus lumus mencari pasar sendiri. Kalaupun ada upaya dari Pemkab, paling hanya menjadikan produk-produk home industry di even-even pemeran ataupun ekspo. Upaya konkrit lainnya dalam mencarikan pangsa pasar belum terlihat. Padahal, sector home industry kreatif ini sangat potensial menjadi salah satu pendulang PAD bargi daerah ini” ungkap ketua Komisi II DPRD Meranti tersebut.

Menurut Basiran, home industry kreatif bila dikeloal secara professional jelas akan memberikan multiefek yang sangat luas bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Upaya ini tidak hanya akan meningkatkan spriti petani untuk lebih produktif. Disisi lainya, pengembangan industri kreatif akan turut mampu membuka usaha baru yang akan menyerap banyak tenaga kerja di pedesaan. Terutama kaum perempuan yang selama ini dianggap tidak produktif. Dari berbagai hasil pantuan di lapangan, sebagian besar home industry kreatif yang tumbuh dipedesaan mengalami kondisi yang stagnan. Hal ini terjadi akibat minimnya pembinaan, kekurangan modal, tekhnologi yang sederhana dan tidak adanya terobosan Pemkab Meranti dalam menyiapkan pasar sebagai tempat melemparkan produk home industry itu sendiri.

“Kalau pemkab Meranti serius, potensinya akan sangat  luar biasa dalam menopang peningkatan PAD. Tapi akibat minimnya komitmen Pemkab Meranti, keberadaan home industry di pedesaana bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau” ujarnya.

Untuk itu, dengan terus meningkatnya APBD Meranti diharapkan mampu dimaksimalkan untuk mendukung petumbuhan  home industry. Hal ini sebagai bentuk komitmen Pemkab Meranti dalam mendukung tercapainya proram pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Serktor program ekonomi kerakyatan Meranti belum terlihat maksimal dalam kurun lima tahun APBD Meranti bergulir. Kalaupun ada, nilainya masih sangat minim dibandingkan dengan sektor lainya. Padahal, dampak positifnya sangat besar bagi penguatan pembangunan ekonomi daerah dalam menunjang PAD” tandas Basiran Sarjono.

Tahun 2014 Menurun

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kepulauan Meranti, Herman, melalui Kabid Energi dan Ketenaga Listrikan, Mufrizal, mengatakan saat ini dana bagi hasil (DBH) dari sektor Migas yang diterima Kepulauan Meranti sekitar Rp 400 Miliyar.

"Logikanya kalau angka lifting Migas KKKS menurun atau tidak memenuhi target SKK Migas, pasti akan menyebabkan penuruna angka DBH yang kita terima. Kita perkirakan  realisasi lifting pada tahun 2014 menurun jika dibandingkan 2013 lalu” tandas Alumni Fakultas Perminyakan UIR tersebut.(rus)

Share