Minggu09242017

Last update05:00:00 AM

Back Natuna Warga Tolak Pengangkatan Harta Karun

Warga Tolak Pengangkatan Harta Karun

Warga Tolak Pengangkatan Harta Karun

NATUNA (HK) - Warga kabupaten natuna menolak rencana Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengangkat harta karun berupa Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) dari perairan Semapi, Kecamatan Bunguran Utara untuk dibawa ke Jakarta.

Benda-benda  bernilai sejarah berupa komoditi, loki, tempayan, piring, mangkok dan sebagainya itu teridentifikasi sebagai peninggalan Dinasti Yuan pada abad 13 hingga 14. Bahkan benda-benda yang berada di dasar laut Semapi itu dinyatakan sebagai peninggalan terbagus dari Dinasti Yuan di antara benda-benda yang telah ditemukan di Indonesia.

"Rencananya benda-benda itu akan diangkut ke Jakarta untuk dijadikan galeri di museum Jakarta. Ini yang serasa susah bisa diterima oleh masyarakat," kata Ketua LSM Lappan Natuna, Zahardin di Masjid Agung Natuna, Sabtu (10/9).

Pria yang akrab disapa Deng itu menilai, langkah pemerintah itu berpotensi melukai perasaan masyarakat dan menodai rasa keadilan, karena benda - benda bersejarah itu sudah jelas berada di Natuna dan menjadi situs sejarah di Natuna.

Selain itu, pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan di semua sektor yang berada di Natuna termasuk pariwisata. Sementara situs sejarah bawah laut itu berpotensi besar untuk menjadi bagian dari destinasi wisata Natuna.

Akan tetapi pemerintah ujuk-ujuk mengangkutnya ke Jakarta sebagai bahan galeri yang ada di sana. Hal ini dinilainya sebagai tindakan yang tidak tepat.

"Kalau diangkat untuk dipergunakan di Natuna, saya rasa tidak ada masalah, tapi ini mau dibawa ke Jakarta. Aneh saja menurut kami, coba kalau situs sejarah seperti candi-candi yang ada di Jawa dipindah ke Jakarta, apakah masyarakat setempat bisa terima. Nah begitu juga dengan kami di Natuna. Kami tidak ingin situs bersejarah Natuna dibawa keluar Natuna," tandas pria pemilik Museum Sri Srindit Ranai itu.

Langkah pengangkatan dimulai dengan proses penelitian yang digelar sejak Rabu (6/9) lalu hingga 13 September ini. Mereka mempergunakan kapal Pengawas Perikanan yakni Hiu Macan 1 dengan dukungan pompong warga yang disewa.

"Sesuai rencananya, habis penelitian ini mereka langsung angkat barangnya dan dibawa ke Jakarta. Sekarang mereka masih melakukan penelitian," tuturnya.

Ia berharap pemerintah pusat dapat berlaku aspiratif terhadap apa saja yang dibutuhkan dan yang tidak diinginkan masyarakat.

"Ya kita sampaikan protes kepada pemerintah dengan harapan keingian masyarakat juga bisa dipahami dan dipenuhi," tuntasnya. (fat)

 

Share