Akibat Lemahnya Pelayanan
ANAMBAS-Aditya Saputra Ramadan, harus rela mengalami kebutaan pada mata kanannya. Kebutaan yang ditanggung anak berusia 5 tahun ini terjadi hanya karena terkena pecahan kaca toilet. Cacat yang dialami bocah malang yang duduk di TK Al Quran Siantan ini karena kurang cepat mengambil langkah medis."Upaya sudah maksimal dilakukan, Namun pada akhirnya, mata cucu saya tidak dapat diselamatkan," ujar Awaluddin Warga Tarempa yang datang mengeluh ke Kantor Haluan Kepri Sabtu (21/4)
Menurut Awal, kejadian naas ini terjadi diduga akibat lemahnya pelayanan yang dilakukan di puskesmas Tarempa dan Rumas Sakit Lapangan. Soalnya, saat pemberian pertolongan pertama di puskesmas Tarempa, listrik di puskesmas dalam keadaan mati (dapat giliran mati). Sehingga dokter dan perawat di puskesmas melakukan pejahitan yang tidak sempurna. Bayangkan saja, saat melakukan penjahitan itu, dokter hanya menggunakan penerangan ala kadarnya yaitu lampu senter dan HP dari masyarakat bersimpati.
"Pada saat penjahitan hari telah malam yakni usai magrib. Dan listrik mendapat pergiliran mati," ujarnya.
Setelah penjahitan selesai, katanya, dokter merujut pasien ke rumah sakit lapangan. Ketika sampai di RSL, katanya, pasien kembali dijahit lukanya di bagian alis. Saat pelayanan di RSL langsung ditangani oleh dokter dan meminta waktu tiga hari untuk observasi. setelah tiga hari ditunggu, tambahnya, tidak ada perkembangan akhirnya dihari berikutnya pasien baru dironsen.
"Dari hasil ronsen inilah ada keretakan di tengkorak mata. Cucu saya tetap dirawat disana, sampai dengan tanggal 5 april. Dokter menyampaikan tidak ada masalah dan tidak perlu dirujuk. dan pasien disuruh pulang. Dan dokter menyarankan untuk chek kembali pada tanggal 9 april dan saat pulang ke rumah mata pasien masih dalam keadaan bengkak." ujarnya.
Mendengar keterangan dokter, katanya, keluarga senang. Namun setelah bengkak di mata Adit mengecel baru keketahui cucunya itu tidak bisa melihat.
Saat pengecekan yang dianjurkan, katanya, akhirnya dokter terkejut dengan kondisi pasien. Akhirnya, dokter minta pasien di bawa ke Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB). Namun karena keterbatasan dana, katanya, pasien agak terlambat dibawa ke Batam.
"Dari hasil pemeriksaan dokter sepesialis di Batam, dikatakan kejadian ini karena ada keterlambatan karena ada jaringan saraf mata yang putus dan menyarakan untuk dirujuk ke RSCM Jakarta." katanya.
Dari Peristiwa ini memang sangat terlihat pelayanan yang tidak tanggap sehingga akhirnya harus ada korban. Untuk ke depan, kejadian yang sama jangan sampai terulang karena lemahnya pelayanan.
"Untuk masyarakat seperti saya,mengharapkan agar pelayan kesehatan untuk benar-benar bekerja secara maksimal dan untuk melengkapi fasilitas penunjang yang ada jangan sampai saat listrik mati, tapi genset pun tidak ada," ujar Awal(yud)



Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis... 
