Rabu06192013

Last update12:00:00 AM

Back News Batam Anggaran Panti Rehabilitasi Mubazir

Anggaran Panti Rehabilitasi Mubazir

Sidak Anggota DewanPembinaan Tak Maksimal, Bangunan Terbengkalai

NONGSA (HK)- Selama sembilan bulan, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batam menghabiskan anggaran sebesar Rp1.164.000.000 untuk pembinaan anak-anak di Panti Rehabilitasi Sosial non Panti Nilam Sari, Kecamatan Nongsa. Sayangnya, anggaran tersebut terkesan mubazir.


Ratno, Kasubag Tata Usaha Panti Rehabilitasi non Panti Nilam Sari  mengatakan, panti tersebut usdah berjalan sejak tiga tahun lalu. Tahun 2011 ada 10 orang anak, dan tahun ini ada 30 orang anak. Rata-rata penghuni panti adalah anak jalanan dan anak putus sekolah.

"Program kegiatan seperti otomotif (las) dan sablon berjalan tiga bulan dalam satu tahun. Jadi sembilan bulan itu tidak ada kegiatan. Ini berjalan sudah tiga tahun. Sementara menjahit, belum berjalan. Karena hingga saat ini tidak ada anak perempuan yang tinggal di panti rehabilitasi," kata Ratno dan diamini Wagiman, Kepala Panti Rehabilitasi saat menerima kunjungan Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Batam, Udin P Sihaloho, Kamis (14/6).

Kata Ratno, untuk pelatihan bengkel otomotif, pihak Dinsos bekerjasama dengan pihak ketiga, yaitu Lembaga Pendidikan di Batuaji.

"Untuk pelatihan kita kerja sama dengan pihak ketiga. Baik otomotif maupun sablon.  Jadi alatnya memang dari kita (Pemko). Tapi bahannya dari pihak ketiga tadi, yaitu Lembaga Pendidikan ada di Batuaji. Tapi saya lupa nama lembaga pendidikan itu," kata Ratno. Kata dia, dalam seminggu, ada tiga kali pelatihan yakni hari Selasa, Rabu dan Kamis.

Penjelasan Ratono sempat membuat Udin P Sihaloho tercengang. Pasalnya, anggaran untuk program kegiatan anak-anak Panti Rehabilitasi setiap tahunnya sangat besar. Namun fakta di lapangan, kata Udin, sangat jauh dengan apa yang diutarakan oleh pihak Dinsos Kota Batam.

Kata Udin, berdasarkan APBD tahun 2010, Dinsos Kota Batam menganggarkan anggaran Rp400 juta untuk 60 orang anak. Anggaran tersebut  untuk program menjahit, praktek otomotif dan sablon. Lalu tahun anggaran 2011, Dinsos kembali menganggarkan di APBD Rp484 juta untuk 30 orang anak. Anggaran tersebut merupakan program menjahit dan otomotif (las). Untuk APBD tahun anggaran 2012, anggaran sebesar Rp280 juta untuk program pembelian alat-alat bengkel otomotif.  

Meskipun anggaran di APBD untuk satu tahun, namun praktek di lapangan berbeda. Untuk program otomotif dan sablon hanya berjalan 3 bulan, dalam 1 tahun. Itu berjalan selama 3 tahun (dari 2010, 2011,2012). Sehingga total kegiatan praktek selama 3 tahun hanya berjalan 9 bulan. Sementara 27 bulan (untuk 3 tahun) sama sekali tidak ada kegiatan.

"Seperti inilah anggaran banyak yang jadi mubazir. Tidak ada hasil apa-apa. Anak-anak jalanan pun, tidak semuanya diakomodir. Bahkan alat-alat bengkel pun hanya kompresor satu unit. Itu pun tak bisa hidup. Sementara bahan las juga dari pihak ketiga. Kegiatannya pun hanya berjalan tiga bulan dalam satu tahun. Sementara anggaran di APBD untuk 1 tahun," ujar Udin.

Selain melihat peralatan seperti bengkel dan kegiatan sablon yang amburadul, Udin juga merasa prihatin dengan kondisi bangunan. Dimana cat-cat maupun saklar lampu banyak yang sudah mulai rusak. Termasuk pintu-pintu, gorden jendela, maupun WC pun ada yang mulai rusak. Pada hal, bangunan itu baru ditempati.

"Anggaran  pembangunan gedung ini Rp6 miliar, pada APBD tahun 2007-2010. Dengan sistem proyek multiyears. Dan baru ditempati Desember 2010 lalu. Gedungnya ada empat unit," kata Udin.

Pantauan di lapangan, kondisi bangunan sangat memprihatinkan. Dari sekian banyaknya ruangan, hanya sebagian yang terisi. Itu pun tampak tak tertata dengan baik. Untuk asrama putra saat ini hanya 20 orang anak. Sementara asrama putri kosong. Begitu juga ruangan lainnya. Satu ruangan berisi 10 unit mesin jahit menggunakan listrik, hingga saat ini tidak pernah digunakan tampak tersusun rapi dalam satu ruangan pintu terkunci.

Ruangan bengkel, hanya terisi satu mesin kompresor yang sudah tak bisa digunakan. Itu pun diletakkan di dalam satu kamar tersendiri, campur dengan barang-barang rongsokan lainnya dari sepeda motor. Alat-alat las diletakkan di ruang tanpa dirawat.

Ketika rombongan Wakil ketua komisi IV, Udin bersama staf DPRD dan wartawan tiba di lokasi, pengurus Panti tampak berpura-pura membagikan stiker maupun kain hasil samblon kepada anak-anak yang menempati panti rehabilitasi Nilam Sari itu. Mereka sempat salah tingkah, ketika menunjukkan hasil sablon, yang katanya karya dari mereka (anak-anak). (lim)


 

Share

Fokus

Dilema Gas 3 Kg, Pangkalan Liar dan Ulah Spekulan

Sabtu, 08 June 2013
Dilema Gas 3 Kg, Pangkalan Liar dan Ulah Spekulan

SEJAK program konvensi minyak tanah ke gas bergulir tahun lalu, persoalan keters...

Jejak

Jalan Tanah Bekas Jepang

Senin, 15 April 2013
Jalan Tanah Bekas Jepang

Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis...