Bentrokan di Planet Holiday Hotel
BATAM (HK)- Aparat kepolisian menetapkan 28 orang tersangka dalam kasus bentrokan dua kelompok di Planet Holiday Hotel, Senin (18/6) lalu. Dari 28 tersangka yang sudah ditahan itu satu diantaranya pimpinan kelompok, Basri. Sementara pimpinan kelompok lainnya Tony Fernando, Manager Operasional dan Pemasaran PT HMI hingga saat ini masih dalam pengejaran polisi.
Kapolda Kepri, Brigjen Yotje Mende mengatakan ke-28 tersangka saat ini masih menjalani pemeriksaan di Mapolresta Barelang. Polisi masih mendalami kasus itu dan mengejar tersangka lainnya.
" 28 orang telah kita tetapkan sebagi tersangka termasuk Basri yang merupakan pimpinan kelompok yang diserang tersebut. Sementara Toni Fernando dan kelompoknya yang melakukan penyerangan ke hotel planet masih kita kejar," katanya.
Kapolda lantas meminta kepada Toni untuk bersikap kooperatif. Polisi dengan satu bintang di pundaknya itu menghimbau agar Toni segera menyerahkan diri ke pihak kepolisian secara sukarela agar bentrokan tidak semakin membesar dan memperburuk keadaan.
"Untuk Tony saat ini sudah kami tetapkan sebagai DPO dan kami harap dia bisa datang dan berani untuk menyelesaikan masalah agar tidak simpang siur sehingga membuat masyarakat lain tidak nyaman" tegasnya lagi.
Seperti diberitakan sebelumnya bentrokan berdarah ini dipicu perebutan lahan PT Hyundai Metal Indonesia (HMI) di Batuampar oleh kubu Toni Fernando (Manager Operasional dan Pemasaran PT HMI) dengan kubu PT Lord Way Accommodation Engineering (LWAE) yang didukung Basri. Pada 14 Juni lalu sengketa lahan seluas 4.300 meter persegi antara PT LWAE dengan PT HMI diputus di Pengadilan Negeri (PN) Kota Batam.
Dalam putusannya, PN Batam memenangkan sebagian gugatan PT LAE. Namun pihak PT HMI langsung menyatakan banding atas putusan tersebut, mengingat banyak fakta persidangan yang diabaikan pengadilan. Namun setelah putusan pengadilan itu diduga pihak PT LWAE langsung menguasai lahan PT HMI dengan menurunkan ratusan orang ke lokasi, sengketa lahan tersebut. Tidak puas dengan aksi massa itu, kelompok PT HMI melakukan serangan balik ke massa kelompok LWAE yang berada di Hotel Planet tersebut.
Akibat serangan itu, seorang warga tewas dan 11 lainnya luka. Namun demikian kini, Polri mengaku telah melakukan dialog dengan pihak terkait dan akan menuntaskan kasus ini melalui mekanisme hukum.
"’Situasi Batam sudah kondusif,aktifitas warga berjalan dengan normal sebagai mana biasa. Tadi malam sudah ada pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat,tokoh-tokoh agama, dan aparat pemerintahan di sana. Sudah menyepakati masing-masing akan menjaga, tidak akan saling menyerang lagi,"’ kata Kapolda.
105 Brimob Kelapa Dua
Sehari pascabentrokan, Polresta Barelang terus memperketat pengamanan. Selain menerjunkan anggota Polresta Barelang dan Polda Kepri juga mendapatkan bantuan pasukan dari Mabes Polri, Polresta Tanjungpinang, Polres Bintan, Polres Tanjungbalai Karimun dan anggota TNI Yonif 134/TS.
Wakapolresta Barelang, AKBP Misbahul Munauwar mengatakan, selain Mabes Polri mengirim 105 pasukan Brimob, pihaknya juga mendapatkan tambahan pasukan, masing-masing 27 pasukan dari Polres Tanjungpinang, 30 dari Polres Bintan, 30 dari Tanjungbalai Karimun, serta 60 pasukan dari TNI Yonif 134 TS.
"Tambahan pasukan ini bergabung, untuk melakukan pengamanan seluruh wilayah Kota Batam," ujar Misbahul.
Selanjutnya, kata Misbahul, seluruh pasukan tersebut dibagi dalam enam kelompok. Mereka akan melakukan pengamanan ke seluruh tempat di Kota Batam dengan sistem patroli keliling.
Kabag Ops Polresta Barelang, Kompol Anton Sujarwo saat memimpin apel sebelum pelaksanaan patroli gabungan mengingatkan, agar semua pasukan yang tergabung dalam pengamanan kota, bertindak wajar dan tidak berlebih-lebihan.
"Ini sifatnya pengamanan saja, sehingga teman-teman dapat menjaga sikap dan tidak berlebihan," ujarnya di depan seluruh pasukan pengaman yang siap melakukan patroli.
Kapolres Karimun AKBP Benyamin Sapta di Tanjung Balai Karimun mengatakan 30 personel atau satu pleton pengendalian massa (dalmas) itu itu dilengkapi tameng dan tongkat serta perlengkapan antihuru hara lainnya.
Menurut dia, pengiriman personel itu merupakan respons Polres Karimun atas permintaan Polresta Barelang. Ia berharap dengan penambahan pasukan dalmas dapat memperkuat serta membantu personel Polresta maupun Polda Kepri untuk mencegah kerusuhan susulan.
Mengenai penempatan di Batam, Kapolres mengatakan sepenuhnya diserahkan kepada Polresta Barelang dan Polda Kepri.
"Personel bantuan itu akan bertugas di Batam hingga waktu yang belum ditentukan, tergantung pihak Polda. Kalau situasi sudah benar-benar kondusif mungkin baru ditarik kembali ke Karimun," katanya.
Pantauan di lapangan aparat kepolisian dan dibantu TNI bersenjata lengkap berjaga-jaga sejumlah titik, seperti di Center Ocarina, seputaran Batuampar dan sejumlah Rumah Sakit, tempat korban dirawat
Komandan Kodim 0316 Batam, Letkol Czi Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, TNI AD akan melakukan peningkatkan pengamanan sehingga kerusuhan itu tidak terulang kembali.
"Setiap dua jam sekali, kami akan melakukan patroli untuk memantau semua wilayah agar tetap aman dan kondusif," ujar Rizal yang di dampingi Kapolres Barelang, Kombes Pol Karyoto.
Tembak di Tempat
Anggota Komisi I DPRD Batam geram dengan pelaku kerusuhan tersebut. Wakil rakyat ini mengecam aksi premanisme yang menyebabkan satu orang tewas. Untuk mencegah kekisruhan kembali, mereka merekomendasikan kepada polisi agar pelakunya ditembak di tempat.
Anggota Komisi I DPRD Kota Batam, Helmy Hemlton mengatakan aksi-aksi preman tidak boleh mendapat tempat sehingga harus ditindak tegas.
"Kita minta kepolisian tembak di tempat kalau ada anggota atau kelompok yang ingin berbuat onar di Batam," kata Helmi, kemarin.
Helmy melanjutkan perintah tembak di tempat kepada perusuh adalah hal yang wajar. Apalagi kata dia, Batam merupakan kota industri dan investasi. "Jadi harus kita jaga bersama baik dari segi keamanan," ucapnya.
Politisi Demokrat ini mengatakan Kapolresta Barelang Kombes Karyoto harus berani bertindak tegas untuk memberantas premanisme di Batam. Menurutnya, kerusuhan yang terjadi di Hotel Planet Holiday merupakan bukti bahwa preman di Batam betul-betul nyata.
“Siapapun orangnya tidak boleh pandang bulu. Kapolresta harus tegas dan berani berantas premanisme di kota Batam terutama mereka yang membawa senjata tajam. Tembak di tempat tentunya harus sesuai dengan prosedur yang berlaku," pungkasnya. (cw42/lim/56)



TANJUNGPINANG (HK) - Pajar pagi baru saja beranjak dari peraduannya, suara kokok...
Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis... 

