SINGAPURA (HK)-- Pengusaha nasional Sudono Salim atau Liem Sioe Liong wafat dalam usia 96 tahun. Sudono menghembuskan napas terakhirnya di Raffles Hospital Singapura, Minggu (10/6) sekitar pukul 15.00 WIB.
Meninggalnya pengusaha yang terkenal dekat dengan mantan Presiden RI Soeharto ini diperoleh dari rekan bisnisnya, Ketua Apindo, Sofjan Wanandi. "Saya sudah cek, betul beliau meninggal di Singapura," kata Sofjan, Minggu (10/6).
Meski belum mengetahui secara detil penyebab kematian pengusaha yang tenar di masa orde baru ini, Sofjan memperkirakan Sudono meninggal akibat sakit. Dugaan itu berdasarkan pengalamannya ketika menengok pengusaha yang masuk dalam daftar 100 orang terkaya di dunia ini di Singapura. "Memang dia sakit sudah setahun yang lalu, bahkan sekarang dia sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi," kata Sofjan.
Hingga saat ini belum ada informasi kepastian pemakaman Sudono Salim.
Direktur PT Indofood Sukses Makmur yang juga menantu almarhum, Franciscus Welirang, membenarkan kabar itu. "Belum ada kabar sama sekali apapun juga. Belum bisa hubungan juga ke sana," katanya.
Pengusaha yang pernah merajai orang terkaya di Indonesia dan Asia ini merupakan pendiri Grup Salim. Kepemilikan Grup Salim meliputi Indofood, Indomobil, Indocement, Indosiar, BCA, Indomaret, Indomarco dan lain-lain. Sementara di Kepulauan Riau, Salim Grup berkibar antara lain melalui PT Bintan Inti Industrial Estate di Kawasan Industri Lobam, serta Kawasan Wisata Terpadu Lagoi di Kabupaten Bintan, Kawasan Industri Batamindo dan Lapangan Golf Southlinks di Kota Batam, serta Sembawang Shipyard di Kabupaten Karimun. Selama beberapa tahun ini dia tinggal di Singapura. Korban mulai hijrah ke Singapura setelah pecahnya kerusuhan Mei 1998.
Peristiwa tersebut menjadi catatan kelam Sudono. Betapa tidak, rumahnya yang berada di Jl Gunung Sahari, Jakarta, ikut diobrak-abrik dan porak-poranda diamuk massa.
Sejak saat itu, bos Indofood ini trauma dan hengkang ke Singapura. Selama berada di Singapura, kendali bisnis sejumlah perusahaannya di Indonesia dipegang oleh anaknya Anthony Salim dan menantunya Franciscus Welirang.
Meskipun hijrah ke Singapura, almarhum telah memberikan kesan tersendiri bagi pengusaha di Kepri. Menurut mereka Sudono adalah sosok pengusaha sejati dan luar biasa.
Ketua Apindo Kepri, Ir Cahya mengatakan Sudono Salim adalah tokoh pebisnis yang luar biasa. Almarhum pantang menyerah dan jeli melihat peluang. Berangkat dari Cina ke Indonesia tanpa membawa bekal dan modal yang cukup, ternyata dia mampu menjadi seorang pengusaha sukses.
" Kita semua mengenalnya. Beliau pekerja keras dan pebisnis sukses. Ia teladan bagi pengusaha dan tentu saja menjadi contoh. Sebagai pengusaha, kita belajar banyak dari dia," kata Cahya saat dihubungi tadi malam.
Cahya mengaku telah kehilangan seorang entrepreneur/ wirausahawan yang luar biasa dan memiliki visi bisnis yang sampai saat ini mungkin sulit ditandingi. Almarhum merupakan sosok pengusaha sejati yang patut diteladani. "Dia pengusaha yang hebat dan sangat sukses. Pengusaha banyak belajar dari almarhum," ujarnya.
Hal yang sama dirasakan mantan Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Philip S Purnama.
Mantan anak buahnya inimengingat Om Liem, panggilan akrab Sudono sebagai pimpinan yang memiliki pendekatan yang baik kepada rekan bisnis maupun karyawannya. "Kepemimpinannya sangat kuat dan pendekatannya luar biasa bagus," kata Philip, yang saat ini menjadi Presiden Direktur Integra Mining Group.
Menurut Philip, tidak hanya menggunakan akal pikiran, Om Liem memimpin perusahaan dengan menggunakan hatinya. Dia pun mengingat Om Liem sebagai pemimpin yang sangat perhatian. "Beberapa kali melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, Pak Sudono terus memperhatikan personel eksekutifnya," katanya.
Tak hanya itu. Meski sibuk, kata dia, Om Liem menyempatkan hadir di pernikahannya 16 tahun lalu. "Padahal saya waktu itu masih sebagai staf di Indofood dan bapak pun sudah pensiun dari Indofood," ujarnya.
Sudono lahir di Fuqing, Fujian, Cina pada 16 Juli 1916. Dia menikahi Lie Las Nio (Lilani) dan memiliki empat orang anak yakni Albert, Andre Halim, Anthony Salim, dan Mira.
Sementara itu hingga pukul 20.00 WIB, pihak keluarga masih membahas tempat peristirahatan terakhir atau pemakaman bagi almarhum Sudono Salim. "Masih dibahas keluarga langsung. Tunggu yang resmi saja," kata Senior Liasion Manager PT Bintan Inti Industrial Estate, Jamin Hidajat, di Singapura, tadi malam.
Belum ada keputusan apakah jenazah Liem akan dikremasi, dimakamkan, di mana dan kapan, kata Jamin Hidayat.
Penyalur Cengkeh
Di dunia bisnis dan ekonomi Indonesia, nama Sudono sudah melegenda. Dialah yang mendirikan kerajaan bisnis yang menggurita di bawah bendera Grup Salim.
Ia meninggalkan negaranya dan berlabuh di Medan, Sumatera Utara pada 1936. Ia bergabung dengan saudaranya, Liem Sioe Hie, dan saudara iparnya, Zheng Xusheng.
Hijrah ke Kudus, Jawa Tengah, Salim mulai mencoba pertaruhan sebagai penyalur cengkeh. Bisnisnya terus berkembang pesat dari permintaan untuk produksi rokok kretek.
Salim membangun hubungan baik dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat membantu suplai obat ketika perang kemerdekaan 1945. Ia pun dekat dengan Soeharto, saat itu masih tentara biasa, yang kemudian menjadi presiden RI selama 32 tahun. Sejak itulah ia dikenal dekat dengan Soeharto di zaman Orde Baru.
Pada 1952, Salim memperluas bisnis perdagangannya dengan bekerja sama dengan pengusaha etnis Cina di Singapura dan Hong Kong. Pabrik sabunnya menjadi salah satu pemasok utama untuk TNI.
Pada 1968, ia mendapatkan hak untuk monopoli impor cengkeh. Sebuah joint venture dengan pebisnis Hokchia, Cina, membuatnya menjadi produsen terbesar tepung di Indonesia. Kedua perusahaan inilah yang memberinya modal untuk mendirikan perusahaan semen Indocement pada 1973.
Pada 1990, ia mendirikan perusahaan makanan yang saat ini menjadi salah satu perusahaan raksasa Tanah Air, yaitu Indofood. Tak berhenti di situ, ia juga merambah perbankan, yang akhirnya membentuk Bank Central Asia, bank swasta terbesar di Indonesia. (dtc/viv/tmp/ant)
Share



Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis... 
