Senin05272013

Last update12:00:00 AM

Back Opini | Jakarta Memilih vs Tanjungpinang Memilih

Jakarta Memilih vs Tanjungpinang Memilih

Nurhaida Alting, Aktivis Gerakan Kepulauan Riau Gemar Menulis (GKGM) Salimah Tanjungpinang

Rabu (11/7/2012) warga DKI memilih bakal calon pemimpinnya. Pilkada Jakarta tahun 2012 ini sangat menarik dan istimewa karena diikuti oleh 6 pasangan, dimana 2 pasangan calon berasal dari jalur perseorangan atau jalur independen. Selain itu sang incumbent Fauzi Bowo atau yang akrab disapa dengan Foke, Alex Noerdin, Gubernur Sumatera Selatan dan Joko Widodo (Jokowi) yang masih aktif menjabat sebagai Walikota Solo ikut bertarung.

Ada juga kolaborasi unik yang mencuri perhatian warga DKI dari jalur perseorangan yaitu pasangan Faisal Basri, seorang ekonom yang  berprofesi  sebagai dosen dengan Biem Benjamin, putra ke-3 almarhum seniman Betawi, Benyamin Sueb. Pepatah mengatakan, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Namun hal ini tidak berlaku bagi Biem yang selepas SMA merantau ke negeri Paman Sam untuk berkuliah di bidang Manajemen Komputer di Metropolitan States College Colorado. Tetapi Biem mengakui  bahwa nama besar sang ayah, Benyamin Sueb masih menjadi salah satu strategi  untuk lebih dikenal masyarakat.

Pilkada Jakarta kali ini nampaknya akan banyak mendapat perhatian berbagai kalangan, dan menjadi parameter bagi  pilkada atau pilwako di daerah lain karena Jakarta merupakan miniatur Indonesia. Oleh karena itu diharapkan ke-enam pasangan calon bertarung secara fair, tidak menggunakan politik uang dan menyalahgunakan jabatan serta tidak melakukan black campaign terhadap lawan. Hal ini mungkin tidak dapat dihindari, tetapi minimal kita berharap dapat diminimalisir.

Bila di DKI sudah pada tahap pemilihan, maka di kota Tanjungpinang, pemilihan walikota baru akan diselenggarakan pada Oktober 2012. Tahapan yang baru diselesaikan adalah pendaftaran para calon walikota dan wakil walikota ke KPU.

Merujuk pada pepatah yang sama “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, rasanya cocok disematkan pada salah satu kandidat yang satu-satunya perempuan. Dia adalah dr Maya Suryanti putri dari Suryatati A. Manan, walikota yang masih menjabat saat ini. Walaupun kiprahnya dalam dunia politik belum banyak terdengar, namun koalisi beberapa partai yang mengusungnya cukup percaya diri untuk mengamanahi beliau menjadi calon walikota Tanjung Pinang periode 2012-2017.

Yang menarik adalah ketika pasangan lain mempermasalahkan kehadiran ibu walikota yang mengantar anaknya mendaftar ke KPU. Akan hal ini, ada tudingan miring yang dialamatkan pada putri walikota. Menanggapi hal ini dr Maya meminta masyarakat maupun pihak terkait untuk objektif menilai.

Menurut hemat penulis, sah-sah saja seorang ibu mengantar anaknya. Bukankah ia mengantar putrinya bukan dalam kapasitas sebagai walikota. Sang bunda juga datang dengan tidak menggunakan fasilitas negara. Namun protes atau keberatan terkait hal ini akan dikomunikasikan oleh ketua Panwaslu kota Tanjungpinang ke Badan Pengawas Pemilu(Bawaslu) pusat.

Menurut  Mas Furqon, Ketua Panwaslu, untuk mendapat petunjuk, apakah kehadiran ibu walikota termasuk  melanggar pemilu, atau hanya pelanggaran etika saja (sumber : Batam Pos, Rabu 27 Juni 2012). Kita berharap agar masalah ini tidak perlu dibesar-besarkan mengingat tidak ada satupun pihak yang dirugikan. Dan harapannya tidak ada kandidat yang melakukan aksi-aksi licik yang menjatuhkan lawan seperti black campaign misalnya. Atau kita juga bisa bersama-sama panwaslu meminimalisir pelanggaran-pelanggaran dalam bentuk politik uang, penyalahgunaan kekuasaan atau kecurangan lainnya. Seperti jargon yang diusung oleh Bawaslu pusat, “jangan ambil uangnya, jangan pilih orangnya”. Jadi berbeda dengan dahulu yang mengatakan “Boleh ambil uangnya, jangan pilih orangnya”. Dengan demikian  warga DKI, warga kota Gurindam dan masyarakat daerah lainnya yang sedang atau akan menghadapi pilkada atau pilwako diharapkan dapat memilih pemimpinnya dengan kritis dan menggunakan akal sehat.

Namun sejatinya seorang calon pemimpin daerah sebaiknya mandiri dan kelak bila terpilih tidak dibayang-bayangi oleh nama besar orang tua. Begitupun untuk kandidat lainnya, rasanya tidak perlu  berbuntut protes hanya karena soal siapa mengantar siapa, bukankah itu justru menunjukkan ketidak pedean? Dari sini kita bisa belajar bahwa seorang pemimpin dalam demokrasi partisipatif, dimana rakyat berada dalam posisi menilai dan nantinya akan memilih langsung, tentunya menghendaki seorang figur atau sosok yang memiliki kepemimpinan (leadership).

Dalam konteks ini gagasan strong leadership menjadi relevan, menjadi seorang pemimpin dalam demokrasi partisipatif, tidak cukup hanya bermodal popularitas semata. Apalagi mengingat negeri segantang lada ini mirip dengan warga DKI Jakarta yang merupakan masyarakat urban dan sangat heterogen. Oleh karena itu dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dan bertumpu pada kualitas diri. Terkait dengan kapabilitas  inilah, diharapkan para calon pemimpin daerah juga memiliki  integritas yang tinggi dan kepribadian yang baik. Sehingga memudahkannya untuk masuk atau merangkul semua kalangan.

Figur yang memiliki kepemimpinan atau leadership juga tertantang untuk berani mengaktualisasikan visi dan misinya. Mampu memimpin bawahan dan rakyatnya, ucapannya didengar dan perintahnya diikuti. “Semua  tentang Kepemimpinan adalah soal pengaruh” demikian menurut John C. Maxwell, seorang pakar kepemimpinan.

Kembali ke masalah integritas, kita berharap agar calon walikota yang akan bertarung nantinya, adalah orang-orang amanah yang memiliki kesalehan sosial yang tinggi. Peduli dan dekat dengan rakyat kecil serta tidak melupakan janji-janji manisnya pada saat kampanye. Rasulullah bersabda, “ Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya”(HR Bukhori-Muslim).

Selain itu kita juga bisa belajar dari pilkada Jakarta  yang memiliki 2 pasangan calon dari jalur independen, sementara 4 pasangan yang sudah terdaftar di pilwako Tanjung Pinang semuanya diusung oleh partai politik. Sepertinya masih membutuhkan waktu lama bagi kota Tanjung Pinang untuk memiliki calon dari jalur independen yang diharapkan dapat meminimalisir politik kepentingan dan balas jasa. Sebagai warga kota Gurindam, rasanya penulis masih akan terus merindukan adanya calon pemimpin dari jalur perseorangan ini, yang kredibel dan punya kapabilitas mumpuni. Bagaimana, ada yang berani?

Share