Tidak kurang dari 1.800 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, didampingi sekitar 100 tenaga dosen pendamping dari berbagai program studi di lingkungan perguruan tinggi yang anggun itu, baru-baru ini disebar ke lebih dari 180 masjid yang ada di berbagai kabupaten/kota Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Para mahasiswa akan tinggal di desa-desa sekitar masjid selama lebih dari satu bulan untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Posdaya. Mereka akan mengembangkan program interaksi dan integrasi dengan menempatkan keluarga sebagai titik sentral pembangunan.
Hampir sekitar 2.000 mahasiswa, dosen pembimbing, pengurus masjid dan relawan hadir dalam acara pembekalan dan pelepasan mahasiswa di masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga tersebut. Hadir pula wakil rektor, ketua LPM, dosen pembimbing lapangan, Ketua Yayasan Damandiri dan undangan lainnya. Acara pelepasan yang dikombinasikan dengan pembekalan secara paripurna itu diisi dengan berbagai ceramah dari para ahli, antara lain oleh Dr Mufidah Ch MAg yang sangat berpengalaman dalam KKN Tematik Posdaya di Jawa Timur. Sementara sebagai Ketua Yayasan Damandiri, saya berkesempatan memberikan kuliah umum setelah mendengarkan sambutan rektor.
Kegiatan KKN Tematik Posdaya ini untuk pertama kali mengambil tema sentral pengembangan integrasi dan interkoneksi, yang dilaksanakan bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Karenanya, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Dr H Musa Ansy'arie yang di masa mudanya nyantri di Pondok Pesantren Tremas Pacitan merasa perlu mengingatkan mahasiswanya untuk menempatkan keluarga sebagai titik sentral pemberdayaan. Rektor berpesan apabila keluarga bertambah baik niscaya seluruh masyarakat akan bertambah baik pula. Sebaliknya kalau keluarga porak-poranda maka dapat diprediksi bahwa masyarakat dan bangsa ini akan juga rusak dan tidak akan bertambah maju.
Rektor juga menyatakan agar para mahasiswa menjadi pembina secara berkelanjutan untuk masjid atau desa yang dikembangkan posdayanya agar masyarakat desa dapat mengentaskan kemiskinan secara sempurna. Untuk itu Rektor mengajak bekerja sama dengan Yayasan Damandiri dan akan mengembangkan kerja sama dengan berbagai lembaga lain untuk memberikan penghargaan kepada mahasiswa dan dosen pembimbing yang berhasil. Kepada mahasiswa diajak bekerja keras dengan kemungkinan mendapatkan penghargaan dari Rektor, antara lain berupa dukungan beasiswa untuk mendapatkan gelar akademik S2, atau pembebasan biaya SPP.
Sementara itu Ketua LPM, Dr H Maksuddin MAg dengan semangat tinggi melaporkan bahwa dalam KKN integrasi dan interkoneksi ini, para mahasiswa akan ditugasi mengembangkan 180 masjid menjadi pusat posdaya dengan kemungkinan mendampingi masjid lain di dekatnya. Diharapkan masjid-masjid itu akan menjadi pusat pemberdayaan umat dalam berbagai bidang yang mengacu pada upaya pengentasan kemiskinan, kebodohan dan pemberdayaan pada umumnya.
Penulis yang diberikan kesempatan memberikan sambutan pada acara pembekalan dan pelepasan mahasiswa meminjam konotasi pengembangan kupu-kupu yang asalnya dari ulat bulu yang tidak disukai, atau bahkan dihindari banyak orang. Setelah ulat bulu "semedi" sebagai kepompong dan kemudian berubah menjadi kupu-kupu, maka insan baru itu sangat disukai. Kupu-kupu yang terbang tidak pernah jauh dari tanah, diumpamakannya sebagai manusia baru yang saling kasih mengasihi, tidak sombong serta peduli terhadap lingkungannya. Kupu-kupu yang makan sari bunga akan menolong bunga menghasilkan munculnya buah yang membawa berkah. Kupu-kupu yang bersayap aneka warna akan sangat disukai dan mati pun kupu-kupu itu dipungut dan dijadikan hiasan yang menarik.
Di setiap desa dan sekitar masjid yang menjadi daerah KKN diharapkan agar mahasiswa membangun posdaya sebagai pusat integrasi dan interkoneksi, atau forum silaturahmi, sekaligus wahana untuk pemberdayaan keluarga. Posdaya berbasis masjid atau desa kiranya menjadi pusat penyegaran atau pusat pembangunan budaya gotong-royong dan kepedulian antar-sesama keluarga yang ada di desa. Karena itu, para mahasiswa diminta mencari "ulat bulu-ulat bulu" di desa tempat KKN berlangsung, yaitu keluarga miskin atau bodoh yang biasanya tidak disukai oleh penduduk sekitarnya. Keluarga miskin yang terlantar hendaknya dijadikan keluarga angkat oleh keluarga yang lebih kaya.
Sebagai keluarga angkat hendaknya dikembangkan dalam penggodokan semasa pelatihan menjadi kepompong melalui penyegaran delapan fungsi keluarga. Ke delapan fungsi keluarga itu ialah fungsi keagamaan, yang intinya selama bulan Ramadhan dan seterusnya diingatkan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Para mahasiswa mengajak keluarga miskin makin dekat dengan agamanya dan keluarga kaya makin peduli terhadap sesamanya, agar tumbuh budaya gotong-royong yang makin kental. Secara rinci tetapi santai dan populer, penulis menguraikan kedelapan fungsi keluarga yang dikembangkan untuk "kepompong" keluarga miskin di daerah KKN mahasiswa.
Lebih-lebih diingatkan agar para mahasiswa mengusahakan agar setiap anak usia sekolah, mulai saat sangat dini segera ditolong dikirim ke sekolah. Kalau perlu di setiap masjid dikembangkan pendidikan anak usia dini (PAUD) agar anak-anak balita bisa dimasukkan ke PAUD dan orangtuanya bisa segera mengikuti berbagai kursus untuk mengentaskan kemiskinan.
Mengikuti ajakan rektor, para mahasiswa diajak menjadi sukarelawan dengan tetap melanjutkan pembinaan di wilayah kerjanya setelah KKN usai. Kegiatan ini akan menumbuhkan penghormatan kepada almamater UIN Sunan Kalijaga secara utuh dan berkelanjutan. ***
- Antara IPO dan Obligasi untuk B'Rigt PLN Batam
- Krisis Tempe
- Puasa dan Spirit Antikorupsi
- Anak dalam Keluarga Miskin (Refleksi Hari Anak Nasional)
- Memuliakan Anak, Jalan Menuju Kebangkitan Pemuda
- Merestrukturisasi Kultur Korps Adhyaksa (Sempena Hari Bhakti Adhyaksa Ke-52)
- Remaja Menyambut Ramadhan
- KPK dan Pemberantasan Korupsi di Kementerian




