Sabtu05252013

Last update12:00:00 AM

Back Opini | Memberdayakan Warung Rakyat

Memberdayakan Warung Rakyat

Oleh Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin

Masih dalam suasana Ramadhan, awal minggu ini Koperasi Wredatama PWRI yang diasuh oleh Dr Subiakto Tjakrawerdaja dan Dr Fadjar Sofyar, akan mengadakan pelatihan intensif untuk membangun dan memulai pengoperasian Koperasi Kulakan. Pelatihan dilaksanakan bekerja sama dengan Yayasan Damandiri, koperasi lokal serta pemerintah setempat. Koperasi Kulakan itu sendiri direncanakan menjadi pemasok bagi warung-warung milik keluarga posdaya, atau warung-warung yang akan dikembangkan oleh anggota posdaya yang tersebar di berbagai desa dan pedukuhan.

Untuk pertama kalinya akan dilatih tenaga penggerak untuk koperasi kulakan dari tiga kabupaten, yaitu dari Kabupaten Bantul dan Kulon Progo di Yogyakarta serta Kabupaten Pacitan di Jawa Timur. Dua kelompok tenaga dari tiga kabupaten tersebut akan dipekerjakan di tiga koperasi sekunder yang dibentuk untuk mengatur pembelian barang-barang kebutuhan sehari-hari masyarakat desa, yang akan dikirim secara reguler ke warung-warung yang tersebar di berbagai desa dan pedukuhan.

Pelatihan dan persiapan pengembangan koperasi kulakan tersebut akan diadakan di Kulon Progo bekerja sama dengan Koperasi Serba Usaha Panca Bhakti (Kopanti) yang telah berpengalaman dan sukses beroperasi sebagai pemasok lebih dari 50 ribu keluarga pedesaan di kawasan Bandung dan sekitarnya. Pengalaman dan keberhasilan koperasi di wilayah Bandung itu akan ditularkan untuk membantu warung-warung yang ada di kabupaten Bantul dan kabupaten Pacitan. Pengembangan koperasi kulakan di kedua kabupaten itu mendapat dukungan dari pemerintah kabupaten setempat, para pengelola posdaya serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan setempat sehingga diharapkan akan dapat berjalan lancar.

Barang-barang yang dibeli oleh koperasi kulakan itu pada prinsipnya merupakan pesanan atas dasar kebutuhan warung-warung yang jumlahnya diperkirakan sekitar 100 buah di setiap kabupaten. Barang dan produk itu berasal dari pabrikan atau pemasok utama dengan harga yang diberikan potongan tinggi. Akan diusahakan melengkapi warung-warung dengan barang-barang produk lokal yang berasal dari desa setempat, sehingga menumbuhkan ekonomi lokal yang hasil produknya laku jual di antara sesama penduduk lokal.

Untuk mendapatkan harga yang miring, atau potongan yang lumayan, kalau perlu barang-barang tersebut akan dibeli untuk persediaan yang lebih lama sehingga jumlahnya relatif banyak. Untuk keperluan di warung-warung akan diantarkan sesuai dengan kebutuhan dan dinamika setiap warung dalam melayani dan menjual barang dagangannya kepada konsumennya.

Untuk memperlancar proses pengulangan pengalaman dari wilayah Bandung, beberapa tenaga muda di tiga kabupaten itu akan dilatih. Hal ini dilakukan untuk lebih memudahkan proses pembelajaran dan pengulangan pengalaman sehingga bisa menjamin suksesnya proses pelayanan bagi ratusan warung pedesaan di wilayah-wilayah tersebut.

Selain tenaga pembelian yang bertanggung jawab untuk memproses pembelian kebutuhan masyarakat di pedesaan, akan dilatih dan ditempatkan pula tenaga gudang untuk memelihara agar barang yang disediakan mudah diakses dan segera dapat dikirim ke warung-warung yang membutuhkannya. Selain itu akan dipergunakan sistem pergudangan secara mudah, first in first out, sehingga dijamin bahwa barang-barang yang dikirim ke warung-warung tetap tinggi kualitasnya untuk memuaskan para pelanggan. Tenaga yang melayani warung-warung akan dilengkapi dengan mobil boks untuk pengiriman barang-barang pesanan dalam jumlah besar. Di lain pihak, disediakan pula sepeda motor yang dilengkapi dengan boks pembawa komoditas yang dibutuhkan agar dapat memenuhi kebutuhan mendesak secara lincah.

Di samping itu, akan dilatih pula secara cermat tenaga pemasaran untuk mempelajari keinginan dan keperluan masa depan penduduk desa agar koperasi dapat mengantisipasi penyediaan barang keperluan rakyat, mendahului permintaan kebutuhan oleh warung yang tersebar luas. Kecepatan koperasi untuk melayani warung akan menjadi penentu, apakah warung-warung yang banyak itu tetap setia belanja kepada koperasi pemasok. Kalau para konsumennya tidak puas atas pelayanan koperasi, hampir dapat dipastikan koperasi pemasok akan ditinggalkan oleh warung-warung yang banyak jumlahnya itu.

Barang-barang yang akan dijual di warung-warung itu diusahakan merupakan produk dalam negeri dan sebisa mungkin produk masyarakat desa di sekitarnya. Sehingga, ada pertukaran perdagangan dari produk satu desa dengan produk desa lain. Akan diusahakan agar produk itu berasal dari sesama anggota posdaya yang dewasa ini mulai mengembangkan kegiatan ekonomi mikro dengan aneka produk keperluan sehari-hari.

Untuk menjamin kebutuhan modal kerja, setiap warung milik anggota posdaya setempat akan diberikan kesempatan menjadi nasabah Bank Bukopin, BPD dan BPR (Bank UMKM) di Yogyakarta dan Jawa Timur yang mendapat dukungan dana dari Yayasan Damandiri. Setiap warung dimudahkan meminjam modal kerja pada bank-bank itu, sehingga bisa membayar kontan barang-barang yang dijualnya. Dengan pembayaran kontan akan diperoleh potongan harga lumayan yang tentu akan menambah untung warungnya. Apabila diperlukan barang yang melebihi kemampuan bayar kontannya, koperasi pemasok juga akan diberikan tambahan modal kerja agar bisa mengirim barang-barang kebutuhan warung dengan sistem konsinyasi.

Melalui sistem ini diharapkan kebutuhan tidak akan terlewati, tetapi potongan harga akan berbeda. Keuntungan warung relatif menjadi lebih kecil tetapi pasokan barang sesuai kebutuhan konsumennya akan tetap terjamin. Apabila kepercayaan warung terhadap koperasi meningkat diharapkan warung-warung pedesaan itu akan menjadi anggota koperasi dan dengan demikian ikut menjadi pemilik koperasi kulakan yang ada di tingkat kabupaten.

Share