Jumat08012014

Last update12:00:00 AM

Back Opini | Mendorong Partisipasi Pemilih

Mendorong Partisipasi Pemilih

R Ghafur, Wartawan Haluan Kepri

Legitimasi pemilhan umum dan pemilihan kepala daerah di Batam belum didukung oleh partipasi pemilih yang signifikan. Buktinya partisipasi pemilih Batam  pada pemilu legislatif 2009 cuma 59,1 persen dan pemilihan presiden tidak lebih dari 61,05 persen.
Sementara  tingkat partisipasi politik masyarakat di Kota Batam berada di bawah 50 persen. Artinya sebagian besar masyarakat Batam belum peduli terhadap proses pemilihan kepemimpinan yang telah digulirkan.

Padahal, persentase nasional partisipasi pemilih nasional pada pemilihan legislatif lalu mencapai 70, 69 persen dan 73,11 pesen saat pilpres

Beberapa alasan mendorong lemahnya partisipasi pemilih dalam pemilu. Antara lain, kuatnya pandangan masyarakat, bahwa pemilihan tidak akan banyak mempengaruhi kehidupan pribadi.

Selanjutnya, masyarakat menilai, beberapa kali proses pemilihan, tapi tidak memberi dampak positif bagi perubahan ekonomi mereka. Hal ini mendorong mereka apatis.

Termasuk tingkah laku elit politik yang mempertontonkan keteladanan yang tidak baik. Kasus korupsi yang membelit para petinggi partai dan gaya hidup mewah para politisi bisa dikatakan termasuk salah satu faktor menjadikan masyarakat mereka malas ke TPS. Muncul anggapan, pemilu cuma menguntungkan para poltisi saja, tapi tidak memberi efek pada mereka.

Memang, dari sisi legitimasi pemilu, tinggi rendah partisipasi pemilih sendiri tidak akan berpengaruh terhadap hasil pemilu. Tapi hal itu cukup mengganggu kualitas pelaksanaan pemilu.

Penyelenggara pemilu akan dituding tidak berenergi untuk mendorong partisipasi pemilih tersebut. Komisioner dinilai gagal mensosialisasikan pemilihan umum itu sendiri.

Walau sesungguhnya KPU Batam telah berusaha mensosialisasikannya dengan berbagai cara. Seperti ketika KPU melakukan sosialisasi Pemilihan Kepala Daerah Batam beberapa waktu lalu di mal-mal. Termasuk juga mendatangi sekolah. Tapi masih saja tingkat partisipasi pemilih Batam masih jauh dari harapan.

Sebenarnya saya melihat langkah-langkah mengupayakan dan menyentuh kesadaran masyarakat datang ke TPS sudah dilakukan. Cuma saja tidak maksimal.

Pertama, sosialisasi secara maksimal ke tengah masyarakat. Polanya bisa mengajak segenap stakeholder untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap memilih.

Kedua mendorong partisipasi partai politik untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa pemilu merupakan instrumen amat penting dalam menentukan arah pembangunan bangsa ke depan. Sebab dengan memilih calon yang berkualitas, maka pemimpin yang terpilih bisa diharapkan membawa perubahan ke arah lebih baik. Termasuk memberikan keyakinan kepada mereka, tidak selamanya benar jika pemilu tidak memberikan dampak pada perubahan hidup mereka.

Ketiga, mendorong partai politik ikut mengajak masyarakat ke TPS, selain konstituen mereka. Sebagai instrumen demokrasi, partai bertanggungjawab menghasilkan produk demokrasi yang berkualitas dengan tingkat partisipasi pemilih yang tinggi.

Keempat, mempermudah masyarakat untuk memilih. Persoalan yang terjadi selama ini, terdapat sebagian masyarakat ingin memilih, tapi karena tidak sampai surat undangan memilih ke rumahnya membuat mereka malas datang ke TPS.

Kita berharap, keputusan Mahkamah Konstitusi yang memberikan legitimasi kepada masyarakat untuk memilih cukup dengan menunjukkan Kartu Tanda Penduduk dalam Pemilihan Kepala Daerah bisa diadopsi untuk Pemilu. Diharapkan kondisi ini memberi ruang masyarakat untuk berpartisipasi lebih besar. Walaupun mereka tidak terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Setidaknya ini bisa menimalisir upaya bermain dari kelompok partai tertentu yang mengharapkan sebagian masyarakat tidak datang ke TPS.

Kelima, mendorong peran media ikut mensosialisasikan pentingnya berpartisipasi pada pemilu. Karena peran media sebagai wadah pencerdasan bangsa sangat diharapkan untuk membantu mensosialisasikan tahapan pemilu dan isu-isu sretategis lainnya.

Keenam, memberi stimulus kepada masyarakat yang datang ke TPS. Seperti menggelar lucky draw dan lainnya. Walau ini belum bisa membuktikan keampuhan pendekatan itu, setidaknya masyarakat tergerak untuk datang ke TPS. Pemerintah bisa saja menjadi pihak penyedia hadiah.

Jika langkah ini bisa dimaksimal. Setidaknya harapan mewujudkan pemilu 2014 mendatang jadi berkualitas bisa tercapai. Demikian juga, kisruh pemilu yang dipicu oleh penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT) bisa dieleminir sedemikian rupa. Semoga saja.

Share