Kamis10302014

Last update12:00:00 AM

Back Ramadhan Oase Ramadhan Mensyukuri Nikmat

Mensyukuri Nikmat

Selama Ramadhan manusia sering dihadapkan dengan cobaan, baik untuk pribadi, pekerjaan, maupun dalam keluarga. Cobaan itu selalu datang silih berganti. Namun sebagai manusia berimana, kita harus tetap bersyukur dan menjalani cobaan secara ikhlas.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mengaruniakan kepada sesuatu kaum itu nikmat yang kekal berada bersama mereka selagi digunakan untuk menunaikan hajat mereka yang memerlukan. Apabila mereka ini berpaling daripada berbuat sedemikian, maka Allah akan pindahkan nikmat tersebut kepada kaum yang lain pula." (riwayat Tabrani) Artinya segala nikmat yang dikaruniakan Allah SWT kepada kita hendaklah digunakan dan disyukuri. Karena itulah tanda kesyukuran yang dituntut Islam. Setiap muslim janganlah bersifat kedekut untuk melakukan amal kebajikan dan bersedia memperbaiki segala amal perbuatannya kerana Allah akan memberi ganjaran walau sekecil mana pun amalan tersebut.

Dalam menahan diri, haruslah bersabar, sabar menahan emosional, baik untuk diri pribadi, pekerjaan, maupun untuk keluarga. Allah berfirman dalam hadis qudsi yang bermaksud," Tiada balasan bagi seseorang hamba-Ku yang telah Aku ambil kembali kekasihnya, kemudian orang itu mengharapkan pahala daripada-Ku melainkan orang itu akan mendapat balasan syurga." Riwayat Bukhari

Sabar ialah mengawal diri daripada kegelisahan dan menerima segala dugaan, rintangan dan segala suruhan Allah dengan hati yang tenang yaitu tidak merasa jemu dan berputus asa dalam menghadapi kesulitan hidup. "Kita hendaklah bersabar ketika menghadapi kematian, kerana semua makhluk adalah menjadi milik Allah. Malah kita dinasihatkan untuk berkata: Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali. (surat al-Baqarah :156).

Sabar perlu dilakukan sejak mula-mula menghadapi bala kesusahan kerana seseorang yang menghadapi kesusahan dengan penuh kesabaran akan dihapuskan dosanya dan dimasukkan ke dalam syurga. Sesungguhnya setiap mukmin yang beriman kepada Allah, imannya belum dapat diperakui sebelum diuji keimanannya itu dan berjaya pula menghadapi dugaan tersebut di mana tiada balasan yang lebih besar di dunia dan akhirat daripada balasan bagi seseorang yang bersifat sabar dalam menghadapi bala ketika di dunia.

"Setiap ujian yang diturunkan Allah mempunyai hikmah yang tersendiri. Oleh karena itu untuk menjadi hamba Allah yang dikasihi, hendaklah kita bersedia menghadapi setiap ujian yang menimpa dengan penuh kesabaran, sebaliknya bagi seseorang yang tidak ridho menerima ujian Allah, maka ia akan menjadi hamba yang dibenci serta jauh daripada rahmat Allah".

Selanjutnya sebagai umat muslim harus bisa menahan diri untuk tidak berkata jorok atau memperolok. Karena itu perbuatan tidak terpuji. "siapa yang menolak kata-kata buruk terhadap kehormatan diri saudaranya, niscaya Allah menolak api neraka daripadanya pada hari kiamat." Hadis riwayat Ahmad dan Tirmizi

Memperolok-olok, mengejek, menghina, memanggil dengan gelaran yang memalukan, menyatakan kekurangan orang secara terang-terangan dan sebagainya adalah perbuatan yang sangat dilarang oleh Allah.

"Siapa yang mencaci orang lain sebenarnya dia mencaci dirinya sendiri. Sebaiknya selaku umat Islam kita hendaklah hidup saling hormat-menghormati, bantu-membantu dan tolong-menolong. Apabila mendengar celaan, kita sepatutnya bertindak menyembunyikan keburukan tersebut sekalipun seseorang yang dicela itu memang telah melakukan sesuatu dosa yang mengaibkan, karena kemungkinan orang itu telah bertaubat dan taubatnya diterima oleh Allah. Sesungguhnya siapa yang berbuat demikian ganjarannya sangat besar di akhirat kelak".

Ibadah puasa yang sedang dilalui umat Islam sekarang akan lebih sempurna apabila orang mukmin semakin berhati-hati menjaga mulut ketika berkata, menjaga mata dan telinga ketika melihat dan mendengar. Sabda Rasulullah SAW “Ramai yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan dahaga" maksudnya kita berpuasa haruslah ikhlas dan jangan melanggar norma-norma agama yang nantinya bisa membuat amal ibadah puasa kita tidak ada.

Kemudian ada lima perkara yang bisa menghapus pahala puasa seperti berdusta, mengumpat, mengadu, membuat sumpah palsu dan melihat wanita bukan muhrim dengan nafsu syahwat. ***

Share