Kamis11232017

Last update05:00:00 AM

Back Rubrik Menyanyah

Menyanyah

"Membaca Karya Sastra, Melihat Dunia"

"Membaca Karya Sastra, Melihat Dunia"
Oleh: Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Sebelum menjabarkan isi pada tulisan sederhana ini, penulis ingin menyatakan (ke)sepakat(an) bahwa, sastra sangat dibutuhkan dalam kehidupan, terutama untuk memberikan keindahan, keseimbangan, keselarasan, harmoni, irama, dan wajah manusiawi dalam setiap gerak aktifitas manusia. Jika hal ini tidak ada, semua terasa gersang dan manusia menunjukan watak aslinya.

"Warisan Melayu Satukan Kita"

"Warisan Melayu Satukan Kita"
Oleh: Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Jika bertanya pada diri, "Tahukah kita tentang sejarah bahasa yang kita gunakan saat ini?" Mungkin (baca: sebagian kita) akan menjawab "Tidak". Soalnya, kita memang (mungkin) tidak pernah tertarik untuk menelaah masalah tersebut. Yang kita tahu hanyalah, saat lahir, orang tua telah mengajarkan kita bicara dengan menggunakan bahasa. Itulah bahasa ibu atau bahasa pertama kita (ada bahasa daerah dan ada bahasa Indonesia).

Potongan Sejarah itu Dilenyapkan..

"Potongan Sejarah itu Dilenyapkan..
Cerpen: Fery Heriyanto

Tahun 4545 Masehi
Pemimpin Tertinggi negeri melakukan pertemuan dengan seluruh aparatur pemerintahan. Semua, mulai dari pejabat terendah hingga level teratas, wajib hadir. Tidak boleh ada yang absen. Jika pun ada agenda lain, tinggalkan. Pertemuan itu penting. Sebuah agenda yang tidak lazim. Selama ini, jika ada pertemuan-pertemuan yang membahas masalah negeri, hanya diikuti oleh level petinggi. Kalau ada keputusan, maka akan disosialisasikan dan langsung dilaksanakan. Tapi, kali ini tidak. Hal itu menimbulkan pertanyaan besar bagi seluruh peserta pertemuan.

"Tampaknya situasi lagi panas...," ucap seorang peserta pada koleganya.
"Ya... tampaknya negeri sedang dalam kondisi darurat," timpal yang lain.
"Darurat apa? Ekonomi terus meningkat. Masyarakat makmur. Lihat saja, untuk wisata, mereka tidak lagi mau di Bumi. Rata-rata rakyat piknik ke luar angkasa. Darurat apa ya?" tanya yang lain sambil berbisik.
Dari rumor yang beredar, pemantik diadakannya pertemuan itu adalah laporan dari para ahli sejarah, budaya, dan sosial. Berdasarkan penelitian mereka, ada satu periode yang hilang dari sejarah mereka. Sudah bertahun-tahun dilakukan penelitian, benang merah sejarah itu tidak dijumpai. Seperti hilang ditelan bumi. Sementara, pemimpin tertinggi sudah berkali-kali meminta agar sejarah negeri itu dibukukan. Dibuat silsilahnya. Tujuannya, agar masyarakat dan generasi selanjutnya tahu, bagaimana tambo negeri mereka. Kapan didirikan, siapa pendirinya, apa saja periode-periode penting yang terjadi, siapa tokoh-tokohnya, dan lain sebagainya. Tapi, setelah dilakukan penelitian dan urut sejarah, para ahli tidak bisa merampungkan tugas mereka. Bahkan ada diantaranya yang bergelar Sang Guru Profesor mundur dari tim peneliti. Secara fair dia menyatakan tidak sanggup melaksanakan tugas yang diembankan. Sikap Sang Guru Profesor juga diikuti oleh tim yang lain. Bahkan hampir setengah dari seluruh anggota tim mengangkat bendera putih. Hal itu jelas membuat Pemimpin Tertinggi meradang.


Ada apa? Apakah honor mereka kurang? Apakah bonus dan tunjangan lain tertunggak? Atau...Setelah dicek, semuanya lancar. Bahkan tunjangan yang diberikan melebihi dari kebijakan yang telah disepakati. "Kenapa ini terjadi?" Demikian gumam pemimpin tertinggi. Sikap tidak puas tergambar saat dia memimpin pertemuan tersebut.
"Ada masalah besar yang tengah kita hadapi," ucapnya saat memberikan sambutan.
"Semua tahu, negeri kita telah mencapai titik kulminasi yang luar biasa! Semua pembangunan berjalan sangat baik! Ekonomi tumbuh luar biasa! Kesejahteraan dirasakan seluruh masyarakat! Angka pengangguran nol persen! Tidak ada yang berada dalam kategori masyarakat pra sejahtera. Semua sangat sejahtera! Cadangan devisa negeri cukup untuk seribu tahun kedepan! Anak cucu kita berada dalam kondisi aman! Sejak dua ratus tahun terakhir, kita bahkan telah bisa memberikan bantuan pada planet-planet miskin yang ada di tata surya ini. Dan tidak sedikit pula negeri-negeri yang terpencil melakukan studi banding ke negeri kita, guna mengetahui bagaimana kita bisa mencapai taraf kehidupan yang luar biasa saat ini!" papar Sang Pemimpin Tertinggi.
"Tapi, prestasi yang telah kita raih ini belum sempurna! Ada PR besar yang sampai kini belum selesai. Para ahli sejarah, budaya, dan sosial telah berusaha untuk melakukannya. Namun, setelah bekerja 45 tahun, mereka belum juga bisa merampungkan pekerjaanya. Ini sangat bertentangan dengan tradisi kita!" papar Sang Pemimpin Tertinggi lagi.
"Padahal mereka adalah orang-orang terbaik di bidangnya. Mereka para pakar terbaik kita! Namun, kenapa mereka tidak sanggup menyelesaikan tugasnya? Ada apa ini?" tanya Sang Pemimpin Tertinggi lagi.
Mendapat pertanyaan itu, semua diam. Tidak ada yang bisa memberikan komentar. Wajah mereka tegang. Suasana gedung pertemuan jadi senyap. Yang terdengar hanya desiran tipis penyejuk ruangan.
"Ini tugas kita bersama! Saya minta, seluruh aparatur mencarikan solusi masalah ini! Apapun caranya! Saya minta semua bekerja! Lupakan dulu program yang lain! Semua diminta untuk mencari potongan sejarah negeri kita yang hilang!" ucap Pemimpin Tertinggi dengan tegas.

***

Sejak pertemuan itu, seluruh aparatur negeri sibuk. Semua bekerja mencari dimana potongan sejarah itu. Mereka bekerja, mulai dari cara manual hingga digital. Segala kecanggihan ilmu dan teknologi mereka keluarkan untuk mencari ceceran sejarah itu. Sehari, dua hari, tiga hari, hingga sepuluh tahun, apa yang dicari, tidak juga dijumpai. Bahkan cara irasional pun telah mereka tempuh. Tapi, hasilnya nihil. Hal itu telah membuat sebagian dari mereka mulai pesimis.
"Ini pekerjaan sia-sia," ucap salah seorang aparatur tingkat kota.
"Ya, untuk apa mencari barang yang sudah lenyap," balas yang lain.
"Tak usah lah mengetahui masa lalu... Toh, kita semua sudah makmur...," timpal yang lain.
"Betul! Jangankan kita, para pakar saja menyerah...!" ucap yang lain.
Begitulah. Segala upaya dan cara yang dilakukan belum juga menunjukan hasil positif. Walaupun sudah diusahakan secara masif, tapi, hasil yang diperoleh belum dijumpai. Pemimpin Tertinggi pun juga tampak mulai cemas. Sebagai pemimpin tertinggi, dia telah mengeluarkan kebijakan yang tidak populer. Bahkan, dia pun telah mengeluarkan anggaran pribadi untuk mendanai super mega proyek pencarian potongan sejarah itu.
"Jika memang hasilnya nol, secara pribadi, saya akan meletakan jabatan yang saya pegang sekarang. Saya malu jika tidak bisa menyelesaikan proyek ini...," ucapnya pelan kepada penasehat kepercayaanya di ruang kerja pemerintahan.
"Kita masih punya waktu, Pak. Usaha kita belum maksimal. Jangan pupus budaya kita yang bisa menyelesaikan pekerjaan secara profesional, tepat waktu, dan berkualitas. Saya percaya pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik," saran salah seorang penasehat.
"Apa langkah yang harus kita lakukan lagi?" tanyanya.
Semua terdiam. Ruangan itu langsung sunyi.

***

Nun di sebuah flat mewah lantai 45 di sudut negeri, seorang lelaki paroh baya menggenggam erat sejumlah buku kuno. Dia tampak resah. Sesekali dia melihat keluar jendela. Kabar mengenai super mega proyek negeri yang belum selesai sampai ke telinganya. Keresahannya makin menjadi.
"Apakah saya harus menghadap pemimpin tertinggi?" tanyanya dalam hati.
Lama dia mematung di tengah kegusaran di ruang mewah itu. Setelah berpikir sekitar lima hari, akhirnya diberanikannya untuk keluar dan menuju ke istana pemerintahan.
"Maafkan, mungkin saya bisa memberikan sedikit potongan sejarah yang dicari selama ini," ucapnya kepada Pemimpin Tertinggi.
"Apakah Bapak bisa membantu?" balas Pemimpin Tertinggi bertanya.
"Maafkan saya. Sesungguhnya, sedikit potongan sejarah negeri kita ada di sini," ucapnya menyodorkan buku-buku kuno itu.
Sang Pemimpin Tertinggi pun menerimanya. Tapi, keningnya berkerut. "Bapak tahu arti tulisan-tulisan ini?". Lelaki paroh baya itu pun mengangguk.
"Buku-buku ini memang warisan leluhur kami turun temurun. Izinkan saya terjemahkan inti sarinya. Dalam buku ini disebutkan, setelah negeri kita merdeka dulu, ada periode dimana euforia masyarakat kita terlalu berlebihan. Perjuangan para pahlawan pendiri negeri kita ini sempat dinodai oleh keserakahan, ambisi, kemunafikan, kelicikan, dan hukum rimba. Ketika itu situasi negeri kita sangat tidak baik. Korupsi, judi, prostitusi, narkoba, kelicikan, kemunafikan, sikut menyikut, dan permainan kotor lainnya merajalela. Adapun hukum, hanya runcing ke bawah. Lalu, sampai pada titik puncaknya, masyarakat marah! Mereka bumihanguskan semua itu! Setelah itu, dimulailah tatanan hidup baru. Pelan-pelan, kondisi membaik," ucapnya bercerita.
"Tapi, euforia negatif itu terus membayang. Berdasarkan kesepakatan seluruh masyarakat, periode itu harus dibuang. Caranya, hilangkan dari catatan sejarah. Keputusan itu dibuat karena masyarakat malu dan tidak mau periode itu diketahui generasi selanjutnya, apalagi terulang di kemudian hari," jelas lelaki paroh baya itu.
"Cerita lengkapnya ada dalam buku-buku ini. Sekarang buku-buku ini saya hibahkan. Segala keputusan, saya serahkan pada Pemimpin Tertinggi, apakah periode kelam itu mau dituliskan dalam sejarah negeri kita...," ucapnya seraya menyodorkan kembali buku-buku itu. ***


Batam Centre, 16 Maret 2016



-----------
Fery Heriyanto, alumni Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Sekarang tercatat sebagai salah seorang jurnalis di Haluan Kepri, Batam, dan pengajar paruh waktu (part time) di Politeknik Negeri Batam.***

"Sedikit Bakti Ananda..."*)

"Sedikit Bakti Ananda..."*)
Cerpen: Fery Heriyanto

"Asslkum, Da Riq. Apa kabar? Semoga sehat...Insha Allah..Ibu Ayah jadi naik haji tahun ini, masuk Kloter 5...Kami berencana pulang ke rumah dua pekan lagi..Da Riq bisa pulang? Biar kita bisa kumpul semua di rumah..." Sebuah pesan singkat diterimanya dari Mila, sang adik.
Langsung ditekannya keypad telepon genggamnya.
"Assalamualaikum, Bu...Ibu sehat?"
"Waalaikumsalam, Nak..ibu ayah, sehat..Ariq bagaimana? Sehat kan, Nak..?" balas sang ibu dari ujung telepon.
"Alhamdulillah.. Kata Mila, ibu ayah masuk kloter 5 ya?"
"Insha Allah, Nak..kalau kamu tak sibuk, pulanglah barang sehari sebelum kami masuk asrama haji..bawa cucu-cucu ibu sekalian.."
"Insha Allah, Bu..Ibu Ayah jaga kesehatan ya.."
"Ya, Nak..Baik-baik kamu ya.."
Selama perjalanan menuju rumah, dia membuka jadwal penerbangan yang harus dijalaninya. "Kloter 5..29 Oktober..jadwal penerbangan ke Yogya.." ucap dalam hati.
Terbayang di benaknya, setiap musim haji, dirinya selalu sibuk untuk penerbangan domestik. Kalaupun ada penerbangan internasional, itu lebih dikarenakan ada rekan sesama pilot minta diganti karena urusan penting di keluarga.
"Kloter 5..29 Oktober..." Jadwal itulah yang selalu diingatnya.

***

Sepekan menjelang keberangkatan orang tuanya ke Tanah Suci, Ariq belum juga bisa memberikan kabar untuk bisa pulang ke rumah orang tuanya. Sementara sang kakak dan adiknya terus menanyakan hal itu.
"Da Riq..Kapan bisa pulang?" Sebuah pesan singkat kembali diterimanya.
"Iya, Mila..Da Riq lagi usahakan..Penerbangan sangat padat. Da Riq tak dapat cuti...Bantu sampaikan sama ibu ayah, jaga-jaga kesehatan," ucapnya saat bicara langsung dengan sang adik.
Kerap mendapat pertanyaan untuk kapan bisa pulang, sedikit mulai menggangu pikirannya. Jika dia ingat itu, terbayang wajah sang ibu dan ayahnya. Menari-nari di benaknya wajah renta kedua orang tuanya itu dipenuhi dengan kerinduan. Saat kakak, adik, serta seluruh ponakannya sudah berkumpul di rumah, sementara dia sendiri belum juga datang. Jangankan untuk datang, memastikan kapan bisa pulang, dia masih bimbang.
"Assallamualaikum, Bu...Bagaimana, sehat-sehat kan?" tanya dia dari ujung telepon selulernya.
"Alhamdulillah, Nak..tanggal 28 kami sudah masuk asrama haji...Ada waktu kamu pulang?"
"Ariq lagi usahakan, Bu..soalnya, jadwal penerbangan sangat padat..."
"Ya, tak apa-apa, Nak..Jika memang tidak bisa, jangan dipaksakan. Utamakan orang-orang yang sangat membutuhkan kamu. Baik-baik ya, Nak..Oya, maaf lahir bathin ya, Nak.. Kalau selama ini ibu ayah telah membuat kamu susah. Doa kami, semoga kamu diberi kesehatan, keselamatan, dan selalu mendapat lindungan dariNya...sampaikan salam ibu ayah untuk cucu-cucu kami..Doakan, semoga ibu dan ayah bisa menjalankan ibadah ini.." ujar sang ibu.
Mendengar ucapan sang ibu seperti itu, dia mulai merasa bersalah. Pikirannya makin tak tenang. Perasaan makin bersalah itu pun makin menghantui manakala usai komunikasi dengan sang ibu, jadwal penerbangan yang harus dilaksanakannya, kembali datang.
"Makin tipis harapan untuk pulang..." gumamnya dengan hati gusar.
Secara langsung, bayangan wajah orang yang telah memberikan seluruh hidupnya demi kesuksesan dirinya  kian menyeruak. Secara bersamaan, hari-hari kecil yang dilaluinya hingga kini, tergambar di benaknya. Bagaimana dulu ibu mengantarkannya pergi sekolah taman kanak-kanak. Bagaimana ibu dengan ikhlas menyiapkan sarapan setiap hari. Bagaimana ibu, meski hujan deras datang ke sekolah membawa payung agar dia tidak kehujanan. Meskipun dalam kondisi tidak sehat, ibu masih tetap mengerjakan pekerjaan rumah. Tengah malam ibu bangun, dan mengusap kepala anak-anaknya usai shalat tahajud. Doa-doa terus dipanjatkanya untuk kesuksesan anak-anaknya.
Yang paling diingatnya ucapan sang ibu, "Kalau berhasil setelah dewasa nanti, jadilah orang berhasil yang berguna bagi orang banyak. Berguna untuk agama, keluarga, dan masyarakat."
Terbayang juga saat mau ujian kelas, ibu yang paling memberikan perhatian. Seluruh keperluan disiapkan. Kalau tidak ada soal untuk simulasi, ibu langsung menjumpai tetangga untuk foto copy materi kisi-kisi soal punya anaknya. Ibu tidak pernah kenal lelah. Ibu rela menahan seluruh keinginannya agar segala kebutuhan sekolahnya dapat dipenuhi. Tergambar juga bagaimana saat wisuda pilot 15 tahun lalu, ibu sujud syukur di mesjid di dalam lingkungan akademi penerbangan.
Kini ibu ayah hanya minta waktu sehari untuk pulang sebelum dia pergi haji.
Ariq makin tak dapat menyembunyikan kegusarannya. Terbayang lagi, dalam mengisi hari tuanya, sering juga ibu ayah berkunjung ke rumah Uda Ikhwan atau Mila si Bungsu, atau ke rumah keluarga di kota lain dalam waktu yang lama, namun tidak pernah meminta perhatian seperti ini. Tapi, kali ini tidak.
Sesampai di mess para pilot, Ariq berusaha untuk tenang. Tapi, lagi,  wajah ibu ayahnya terus menari di pikirannya. Usai makan malam dan akan istirahat, tiba-tiba telepon genggamnya berdering.
"Kapten Ariq, apa kabar?" suara sang pimpinan dari ujung teleponya.
"Baik, siap..sehat, komandan. Ada perintah?"
"Tanggal 29 Oktober Anda dialihkan untuk penerbangan ke Arab Saudi membawa Kloter 5, menggantikan Kapten Satria yang dialihkan untuk penerbangan ke Tokyo. Surat perjalanan segera dikirimkan"
"Siap, perintah diterima..."

***
"Nak, kami sudah di asrama haji.. Insha Allah, siang besok berangkat..Doakan kami. Baik-baik bekerja. Di Tanah Suci, Insha Allah kami panjatkan doa agar kamu sekeluarga, Uda Ikhwan dan Mila juga bisa berhaji nantinya," ucap sang ibu melalui telepon selulernya.
"Ya, Bu..Aamiin"
Tepat pukul 08.00, seluruh jamaah calon haji Kloter 5 sudah diberangkatkan menuju bandara untuk diterbangkan ke Tanah Suci. Sesampai di Bandara, seluruh jamaah langsung masuk pesawat. Para panitia haji dan seluruh kru pesawat sibuk melayani seluruh jamaah. Di luar Bandara dan sebagian di ruang keberangkatan, para keluarga jamaah tampak melambaikan tangannya pada jamaah Kloter 5. Wajah haru tergambar dari seluruh para pengantar.

"Assalamualaikum, Wr. Wb..selamat datang dalam perjalanan ke Tanah Suci. Beberapa saat ini, kita akan menuju Arab Saudi.......Pesawat ini dipiloti oleh Kapten Pilot M Ariq Al Habsyi..." ucap kru pesawat di sela-sela para pramugara dan pramugari melayani seluruh jamaah.
Setelah menempuh penerbangan sekitar delapan jam, akhirnya pesawat yang membawa 450 jamaah calon haji itu landing di Bandara King Abdul Aziz, Arab Saudi. Seluruh penumpang diarahkan untuk bersiap turun seraya diminta mengemas barang-barangnya. Para pramugara dan pramugari langsung aktif membantu para jamaah yang mengumpulkan segala bawaannya. Sementara, dari kockpit, Ariq dan co pilot segera keluar dan langsung mengambil posisi di depan pintu keluar pesawat. Setiap calon jamaah yang turun, disalami satu per satu dengan senyum mengembang.
"Selamat menunaikan ibadah haji, Pak..Bu.." ucap mereka kepada setiap jamaah.
Lebih setengah dari seluruh penumpang sudah turun pesawat. Dari balik kacamata hitam yang dipakainya, dilihatnya kedua orang tuanya mulai mendekat pintu keluar. Usia renta menyebabkan orang tua itu tak dapat berjalan cepat. Tepat di pintu pesawat, disalami kedua orang tua itu dan dipeluknya erat.
"Ariq...Ariq kah ini, Nak...?" ucap sang ibu dengan pandangan tak percaya.
Ditatapnya sang anak dengan penuh rindu dan kasih sayang. Diusapnya pipi sang anak yang basah oleh air mata. Sang anak pun melepas kaca mata hitamnya. Matanya memerah.
"Ibu tak percaya... Ibu rindu padamu, Nak...terobati sudah rindu ibu sama kamu, Nak..Ariq telah antar kami ke Tanah Suci..Terima kasih, nak..." ucap sang ibu dengan mulut bergetar. Air mata berlinang di pelupuk matanya.
"Selamat datang di Tanah Suci, Bu..Ayah... Ini yang baru bisa Ariq berikan pada Ibu..Ayah. Selamat menunaikan ibadah haji...Semoga menjadi haji mabrur...," ucapnya seraya langsung bersimpuh di kaki kedua orang tuanya.***

Asrama Haji, Batam, 1436 H/2015

*) "Oleh-oleh" selama meliput penyelenggaraan haji di Embarkasi/Debarkasi Batam.


fery heriyantoFery Heriyanto, alumni Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan tahun 1999. Hobby membaca karya sastra. Sekarang masih tercatat sebagai salah seorang jurnalis di Haluan Kepri, Batam, dan pengajar paruh waktu (part time) di Politeknik Negeri Batam.***

UMK dan Mie Instan

UMK  dan Mie Instan

PEMERINTAH Kota Batam mengusulkan nilai Upah Minimum Kota (UMK)  tahun 2015 sebesar  Rp2.664.302 untuk ditetapkan  Gubernur Provinsi Kepulauan Riau. Usulan nila UMK sebesar itu,  dibawah tuntutan pekerja yang menghendaki nilai UMK sebesar Rp3,3 juta.

BBM dan Lebih Cermat

BBM dan Lebih Cermat

Kemarin sore saya mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan di Batam Centre. Menunggu arus lalu lintas yang cukup padat, saya berhenti terlebih dulu sebelum menyebrang. Tidak jauh dari tempat saya berdiri, terdapat sejumlah supir taksi yang menunggu penumpang sedang membahas isu yang sangat santer diperbincangkan belakangan ini: Rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak Bersubsidi (BBM).

Sepak Terjang Menteri Tomboy

Sejak dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi), menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan belum lama ini, nama Susi Pudjiastuti, wanita pemilik saham perusahan penerbangan Susi Air, seakan meroket bak pesawat yang ia miliki.

Sejak dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi), menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan belum lama ini, nama Susi Pudjiastuti, wanita pemilik saham perusahan penerbangan Susi Air, seakan meroket bak pesawat yang ia miliki.

Ada Guru yang Tak Patut Ditiru...

Sesuai dengan kepanjangannya, Guru itu digugu dan ditiru. Digugu dan ditiru, sama juga segala tindak tanduk seorang guru baik di sekolah maupun di luar sekolah menjadi tauladan untuk pantas dicontoh oleh seorang murid. Sehingga menempatkan guru pada posisi yang terhormat dalam mencerdaskan generasi muda, mencerdaskan bangsa secara luas.

Sani dan Laut

Nyentrik, akhirnya saya pun terpancing mengikuti berita seputar Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Wanita bertato, perokok  dan hanya tamat SMP juga membuat gundah para akademisi ningrat yang duduk di menara gading.

Kabinet Bersih

Kabinet Bersih

Hampir sepekan sudah Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) mengangkat sumpah sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019. Tugas pertama keduanya mengawali periode kepemimpinannya adalah memilih orang-orang terbaik untuk menjadi menteri. Pengumuman anggota kabinet itulah yang kini paling ditunggu masyarakat.

Hijrah dan Bekerja

Hijrah dan Bekerja

TAHUN Baru 1436 Hijriah baru saja dimulai. Meski tidak segemerlap penyambutan tahun baru masehi namun bukan berarti penyambutan Tahun Baru Hijriah, sepi sama sekali dari acara. Di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Kepri, perayaan tahun baru Islam, tetap berlangsung. Ada tabligh akbar, shalawat badar, parade obor serta berbagai kegiatan yang bernuansa islami.

Batam Kota Terbanjir

Batam tidak termasuk kota yang terparah tingkat kemacetannya di Indonesia versi Kementerian Perhubungan. Kota yang terparah kemacetanya adalah Bogor dengan kecepatan kendaraan rata-rata 20 kilometer per jam.

Penggembala Bebek

Penggembala Bebek

Ternyata, tidak mudah menjadi seorang pemimpin. Membayangkan diri saat berada di posisi puncak dalam sebuah perusahaan, memang membuai dan mengayunkan perasaan.