Minggu11192017

Last update05:00:00 AM

Back Rubrik Menyanyah Jangan Dongeng Hilang di Bumi

Jangan Dongeng Hilang di Bumi

fery heriyantoJangan Dongeng Hilang di Bumi
Menyanyah: Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Dongeng merupakan produk sastra. Sebagai salah satu prosa lama Indonesia, Dongeng adalah kisah tentang sesuatu yang luar biasa, penuh khayalan yang dianggap masyarakat sebagai hal yang tidak benar-benar terjadi. Dalam perkembangannya, cerita tradisional ini disampaikan turun-temurun dari nenek moyang. Dalam Dongeng, ada ajaran moral sekaligus hiburan. Nenek moyang dimana Dongeng itu berkembang, berharap anak cucunya benar-benar dapat mengambil pesan moral dan hiburan dari Dongeng yang diceritakan itu.
Di Indonesia, cukup banyak cerita Dongeng. Sebut saja Dongeng Si Malin Kundang, Sangkuriang, Sei Jodoh, asal usul Danau Toba, Lutung Kasarung, Keong Emas, dan banyak lagi. Semuanya tersaji baik di dalam lingkungan masyarakat di tempat Dongeng itu berada. Harapannya, masyarakat benar-benar tahu dan mengambil hikmah dari Dongeng-Dongeng tersebut. Kini, meski cerita-cerita Dongeng banyak yang tak menggubrisnya, namun, dalam dunia nyata, ada secuil "kisah-kisah Dongeng" yang menjadi nyata.

Pada zaman modern sekarang, ada satu (lagi) kisah Dongeng yang tengah melanda pencinta sepak bola di dunia. Ya, cerita klub sepakbola Leicester City. Kisah sukses Leicester City menjadi juara liga Primer Inggris musim 2015/2016 banyak disebut orang sebagai Dongeng yang jadi kenyataan. Bahkan ada yang hiperbola dengan mengatakan, kisah manis tim asuhan Claudio Ranieri ini, Dongeng Keabadian. Sebab apa? Para penikmat sepakbola, khususnya Liga Primer Inggris tahu, Leicester City hanya sebuah klub kecil, tidak sekaya klub lainnya, dengan pemain dan pelatih "buangan", dan dinilai tidak punya keberuntungan di tengah ketatnya kompetisi. Modal yang diusungnya tidak untuk menjadi juara, tapi

tidak ter-
degradasi.

Jika dibandingkan dengan klub-klub yang punya sejarah juara, semacam Manchester United, Arsenal, Manchester City, atau Chelsea, Leicester City tidak ada apa-apanya. Jamak disampaikan media, sebelumnya, klub ini hanya berlaga di divisi Champion (liga kelas 2 Inggris), trus, pada musim lalu, mereka berjuang keras untuk dapat bertahan di Liga Primer Inggris. Dan pada musim 2015/2016 ini, hanya ditargetkan untuk meraih 40 poin agar bisa bertahan di kasta sepakbola tertinggi di ranah Inggris itu. Namun fakta yang terjadi, musim ini, mereka mampu melebihi ekspektasi sang pelatih apalagi pemilik klub.

Apa yang jadi rahasia kesuksesan Leicester City? Pemain mahal? Tidak. Uang Berlimpah? Juga tidak. Menurut sang pelatih, dia hanya menyentuh hati para pemain. Itu saja. Semua tahu, seluruh anak asuhnya, bukan pemain yang punya nama besar, apalagi berharga mahal. Namun mereka, ucap Ranieri, adalah sekelompok anak muda yang punya kemauan besar, memiliki skill, dan mau diasuh. Dalam bermain, mereka kolektif. Punya fighting spirit luar biasa. Lihat saja, setiap pertandingan yang dilakoni, dijalani penuh semangat. Sebagai pelatih, Ranieri mengarahkan apa yang menjadi strategi dalam setiap bertemu lawan. Terbukti, sampai pekan ke-37 dari 38 pertandingan yang harus dilakoni, mereka hanya kalah 3 dengan kemenangan 23 kali. Prestasi luar biasa di tengah kerasnya kompetisi di liga terbaik di dunia itu.

Apa yang diperlihatkan Leicester City kini, tidak berlebihan jika diambil cara yang dilakukannya. Uang bukan segalanya untuk sebuah prestasi. Yang diperlukan kolektifitas. Setiap orang yang berada dalam tim, bukan tidak punya kemampuan melakukan tugasnya. Tapi, bagaimana mengelola mereka yang ada dalam tim tersebut. Melihat Leicester City, tidak salah juga banyak orang menyebutnya sebuah Dongeng. Dongeng era digital modern.

Dan apa yang diraih Leicester City juga sebuah keadilan kemanusiaan. Kenapa? Ketika mereka telah melakukan yang terbaik, tidak hanya orang-orang dalam tim itu yang menikmati hasilnya, namun seluruh penghuni kota Leicester, bahkan dunia pun memetik rasa puasnya.

Leicester City telah menorehkan Dongeng. Ada cerita, pesan moral, hikmah yang disampaikan. Pesan inilah yang dapat dipetik untuk bekal melanjutkan cerita hidup ke masa depan. Demikian pula dengan Dongeng yang diceritakan moyang kita. Tinggal sekarang, apakah kita mau memahaminya? Karena banyak pelajaran disitu, jangan sampai Dongeng hilang di bumi.***

Share