Selasa09262017

Last update05:00:00 AM

Back Rubrik Menyanyah Alam pun Ikut Menghibur Kita

Alam pun Ikut Menghibur Kita

Alam pun Ikut Menghibur Kita
Menyanyah Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Beberapa hari terakhir, Batam dan sebagian wilayah lain di sekitarnya kembali diguyur hujan. Padahal pagi harinya, ketika sebagian masyarakat hendak pergi menuju ke tempat aktifitas masing-masing, cuaca cukup bersahabat. Kondisi itu disambut suka cita oleh sebagian warga Batam.

 

Setiap awal pekan maupun hari selanjunya, banyak harapan yang digantungkan masyarakat. Ada yang ingin pekerjaannya pada hari itu berjalan lancar. Ada yang berharap, usaha yang mereka jalankan bisa lebih maju dari waktu-waktu sebelumnya. Ada yang ingin bisnis yang mereka jalankan bisa lebih berkembang. Ada juga yang berharap, jalan di Batam yang mereka lalui tidak macet saat mereka menuju ke tempat rutinitas masing-masing, dan sebagainya.

Namun, di tengah perjalanan, kenyataan yang dihadapi itu tidak sesuai dengan harapan mereka. Pekerjaan yang tengah dikerjakan, tiba-tiba tidak sepenuhnya selesai karena ada saja data-data yang kurang, hilang, atau memiliki masalah. Lalu, ada bisnis yang diharapkan mengalami perkembangan, ternyata tidak tercapai. Penyebabnya, mungkin banyak relasi yang belum memenuhi permintaan atau lainnya. Saat usaha yang dijalankan, harapan mendapat untung, ternyata rugi yang diperoleh. Begitu pula, saat akan menuju ke tempat relasi yang sudah dijanjikan, tidak bisa dipenuhi karena telat akibat jalan macet. Begitu pula, saat berharap matahari bersinar cerah hingga sore, ternyata hujan deras turun di siang hari.

Begitulah perjalanan kehidupan yang dijalani. Kadang ada yang mulus sesuai impian, tapi bukan sedikit pula yang tidak sesuai dengan keinginan hati. Akan kondisi itu, apakah ada sesal dalam hati? Barangkali masing-masing individu kita yang bisa menjawabnya.

Kata orang bijak, apa yang kita alami dari detik ke detik waktu adalah irama alam yang wajib dilalui. Itulah skenario yang dimainkan. Sesal atau senyuman kah yang kemukakan terhadap semua itu? Jawabannya tentu kembali lagi pada kita. Apakah kita masih bisa tersenyum dengan tidak tercapai harapan yang diinginkan? Atau malah menyesali semua kegagalan-kegagalan yang dijumpai?

Sebagian kita mungkin juga berpikir, mengapa keadaan seringkali tidak bersahabat? Keadaan itu seakan meledek, mengecoh, bahkan menertawakan dengan terbahak-bahak. Atau inikah yang disebut dengan ketidakmujuran?

Mungkin, kalau sepakat, situasi yang (kadang) tidak berpihak pada kita itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara alam mengajak kita tersenyum, menertawakan diri kita, dan bergurau. Jika ada rasa sesal, marah, atau jengkel yang muncul dalam diri, itu mungkin karena kita tak mencoba bersahabat dengan keadaan. Itu terjadi karena banyak diantara kita yang egois. Kita kerap lupa jika ada keinginan yang tidak tercapai, kita melepaskannya dengan kemarahan. Kenapa tidak melepaskannya atau menyambutnya dengan senyum, walaupun senyuman kecil. Bukankah itu adil? Atau...Mungkin Anda tidak sependapat? ***

Share