Minggu11192017

Last update05:00:00 AM

Back Rubrik Menyanyah Cuci Mata

Cuci Mata

Cuci Mata
Menyanyah: Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Oleh sebagian kita, akhir pekan sering digunakan sebagai waktu untuk bersantai dan rehat sejenak dari aktifitas yang menumpuk. Waktu tersebut kerap digunakan untuk melakukan hal-hal ringan yang dapat menghilangkan beban fisik apalagi beban pikiran. Hal itu bisa dilakukan di tempat kediaman. Namun, tidak sedikit pula orang pergi keluar rumah sekedar jalan-jalan. Dalam bahasa umumnya, keluar rumah bersantai dan "cuci mata".
"Inilah waktu yang tepat untuk menghilangkan stres," ucap seorang teman saat dijumpai tengah bersantai di sebuah cafe di salah satu pusat perbelanjaan.

"Enak juga santai disini?," tanya saya.
"Ya...sekaligus bisa cuci mata," jawabnya singkat.
Lalu tidak jauh dari situ, saat beranjak dari cafe tersebut, saya jumpai seorang teman tengah duduk santai di salah satu tempat permainan anak-anak.

"Hei, lagi apa kamu disini?," tanya saya.
"Biasalah...hari keluarga. Rileks sejenak sambil membawa anak-anak main. Kita juga bisa sekalian 'cuci mata'," jelasnya pula.
"O, gitu. Selamat bersantai," kata saya sambil berlalu.
Banyak sekali hal serupa yang saya lihat. Akhir pekan memang menjadi waktu yang paling berharga bagi orang untuk melepaskan diri dari kekangan rutinitas mereka. Tidak hanya orang kantoran dan pegawai swasta, anak sekolah dan mahasiswa juga melakukan itu. Saya saksikan, bagaimana riangnya mereka bersama teman-temannya. Bagaimana bebasnya dia mengekspresikan diri dengan tertawa dan senyum. Kenyataan itu yang banyak saya jumpai di pusat-pusat perbelanjaan dan tempat-tempat hiburan lainnya. Semuanya mengatakan, "santai, rileks, dan cuci mata."
Lalu sekitar lima kilometer dari lokasi tersebut, saya kembali berjumpa dengan salah seorang teman. Dia sepertinya baru saja mengerjakan shalat di mesjid paling besar di kota kami.

"Apa kabar?," tanya saya.
"Baik, alhamdulillah," jawabnya sambil menjabat tangan saya dengan erat.
Lalu kami duduk di korikor mesjid itu sambil bicara ringan. Saat itu saya melihat ada sesuatu yang beda padanya.
"Kenapa matamu, kok merah? Apa sakit mata?," tanya saya. Pertanyaan itu sebenarnya hanya sebuah basa basi saja, sebab setahu saya dia  habis menangis.
"Ah, tidak. Saya baik-baik saja," jawabnya.

"Tapi kenapa matamu sembab?," tanya saya lagi.
"Mata ini suatu waktu memang perlu juga dicuci dengan air mata. Sebab tanpa kita sadari, banyak kotoran-kotoran yang menempel di situ. Ya, harapannya, usai dicuci dengan air mata, mata ini bisa kembali terang berikut tubuh yang penuh debu ini," jelasnya kepada saya. ***

Share