Selasa09262017

Last update05:00:00 AM

Back Rubrik Menyanyah Dalam Keheningan

Dalam Keheningan

Dalam Keheningan
Menyanyah Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Kami biasa memanggilnya dengan sapaan "Pak Ketua".  Sapaan itu terlanjur lekat pada dirinya, karena memang dia dulunya ketua RT di lingkungan kami. Meski sekarang tidak lagi menjabat ketua RT, namun sapaan itu kadung melekat pada diri lelaki usia 50-an itu. Dan dia pun sepertinya nyaman dengan sapaan itu.
Akhir pekan kemarin, ba'da Isya, beberapa jemaah termasuk Pak Ketua, duduk santai dalam masjid. Seperti biasa, suasana seperti itu dijadikan para jemaah untuk ngobrol, diskusi, atau menyampaikan sejumlah hal. Ketika itu ada seorang dari jemaah yang melontarkan pujian.
"Sungguh hebat tukang di rumah kami. Hanya dengan mendengar, dia tahu dimana lokasi pipa yang bocor."
"Itu karena dia berada dalam keheningan yang khusu'," kata Pak Ketua.
"Dalam keheningan?" tanya seorang jemaah.

 

"Ya, dalam keheningan kadang kita akan bisa merasakan dan menemukan jawaban dari pertanyaan yang kita rasakan," kata Pak Ketua lagi.
"Maksudnya bagaimana?"
"Maksudnya, cobalah untuk beberapa saat berada dalam keheningan. Rasakan apa yang menjadi keinginan kita. Lewat keheningan itu, kita bisa mendapatkan jawabannya. Seperti tukang pipa air di rumah saudara kita tadi," terang Pak Ketua.
"Kok bisa seperti itu?" tanya yang lain.
"Setahu saya, si tukang pipa itu sangat khusu' dengan pekerjaannya. Jika pikirannya galau, atau suasana hatinya tengah "ribut", dia tak akan dapat menemukan pipa yang bocor. Namun dengan ketenangan hati, konsentrasi dan kekhusukan, dia dapat tahu dimana kebocoran pipa itu," terangnya lagi.
Namun penjelasan itu belum juga dipahami jemaah tersebut.
"Contoh lain sesuai cerita seorang kawan," katanya. "Ketika seseorang mencari jam tangan di tumpukan jerami dengan suasana hati dan pikiran yang galau. Sekeras apapun usahanya, jika dalam kondisi seperti itu, dia akan susah mendapatkan jam tangan tersebut. Namun apabila dengan pikiran dan hati yang tenang, jam tangan itu akan cepat dapat ditemukannya. Karena apa? Karena dia berada dalam ketenangan. Lewat ketenangan itu dia mendengar bunyi putaran jarum pada jam tangan tersebut," jelasnya lagi.
"Untuk mencapai ketenangan dalam keheningan itu, memang sesuatu yang sulit," papar Pak Ketua lagi.
"Mencapai keheningan itu memang sesuatu yang paling sulit diraih selama hidup. Sebab, kita secara tidak sadar kerap terjerumus dalam seribu satu macam 'kegaduhan'."
"Dari hal-hal tersebut, mungkin itu pula hikmah dari shalat malam yang dianjurkan. Shalat itu dilakukan ketika orang banyak disekeliling kita terlelap. Suasana sunyi dan kita berada dalam keheningan. Ketika itulah kita bisa merasakan apa yang kita rasakan. Dalam keheningan itulah kita akan lebih merasakan kasih sayang dan kedekatan Allah kepada kita," ujarnya lagi
"Tapi mengapa banyak dari kita merasa berat menunaikan shalat sunat tersebut?" ucap Pak Ketua bertanya. ***

 

Share