Selasa09262017

Last update05:00:00 AM

Sapaan

Sapaan
Menyanyah: Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Masing-masing kita punya sapaan. Dan kita pun juga memanggil seseorang dengan sapaan sesuai dengan siapa yang kita sapa. Jika lebih kecil dari kita, biasanya disapa dengan 'adik'. Kalau yang lebih besar dari kita, disapa 'kakak', 'abang', 'mas', 'mbak', dan lainnya. Lalu dalam keluarga, ada yang disapa 'ayah', 'ibu', 'papa', 'mama', 'kakek', 'nenek', lainnya. Lalu di lingkungan sosial dan pendidikan, ada yang disapa dengan 'dokter' jika dia seorang dokter. Jika dia seorang pendidik, disapa 'guru', 'pak dosen', 'pak RT', 'pak RW', 'pak lurah', 'pak camat', dan lainnya.
Sapaan tersebut bagi sejumlah orang mempunyai banyak arti dan pengaruh psikologi. Ketika disapa dengan sikap hormat, seseorang merasa dihargai.

"Saya sangat senang disapa dengan sapaan 'ayah'," kata seorang laki-laki paroh baya. Menurut dia, meskipun bukan anak dan keluarganya memanggilnya dengan sapaan tersebut, dia merasa dihargai.'

"Ketika seseorang memanggil saya 'ayah', saya sadar bahwa saya memang seorang 'ayah'. Semakin sering saya dipanggil dengan sapaan 'ayah', maka, secara langsung saya akan juga akan bersikap layaknya seorang 'ayah'," ucapnya memberi keterangan.

Demikian juga seorang ketua RT. Dia berkata, "Ketika seorang warga menyapa saya dengan sapaan 'pak RT', secara langsung saya harus bersikap dan bertingkah laku layaknya seorang ketua RT," jelasnya.

Apa yang dikatakan dua orang tersebut merupakan bukti jika mereka sangat sadar dengan posisinya masing-masing. Mereka secara langsung akan bersikap sesuai dengan sapaan yang diberi orang kepada mereka. Tentunya sikap seperti itu sangat dihargai.

Namun bagi sebagian orang lagi, sebaik apapun sapaan yang kita beritakan pada mereka, terkadang sikap yang mereka tunjukan tidaklah sesuai dengan sapaan yang kita b
erikan. Padahal sapaan yang kita sematkan pada mereka itu cukup tinggi, karena memang mereka berada dalam kasta yang lebih tingi dari kita. Tidak jarang sapaan di depan nama mereka kita sematkan kata 'yang terhormat...'.

Namun, seperti yang dikatakan, tingkah dan kelakukan mereka tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sebagai contoh, sering kita dengar mereka yang kita sapa dengan sapaan 'yang terhormat...', ternyata dia terlibat dalam kasus hukum. Ada orang yang kita sapa dengan sapaan 'yang terhormat...' ternyata terlibat kasus asusila. Dan banyak contoh lainnya.

Kalau direnungi lebih dalam, sapaan merupakan sebuah penghargaan dan penghormatan. Sudah bisakah kita untuk memegang dan memainkan peranan sesuai dengan sapaan yang diberikan banyak orang pada kita? Inilah yang barangkali perlu kita pahami. Mungkin seseorang yang kita hormati tidak mau dipanggil dengan sapaan yang jelek, seperti,'pak koruptor', 'pak penjahat', 'pak pemakai narkoba', dan lainnya.

Karena itu, siapkah kita memainkan peranan dan bertingkah laku sesuai dengan sapaan

yang diberikan orang pada kita?***

Share