Minggu12172017

Last update12:00:00 AM

Back Rubrik Opini Peran Muslimah dalam Dakwah

Peran Muslimah dalam Dakwah

Naning Wakhidya,  Aktivis LDK Ikatan Mahasiswa Muslim Politeknik Batam (IMMPB)

Dakwah berasal dari bahasa Arab, yang akar katanya adalah da’â – yad’û – da’watan yang berarti menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik , serta bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl : 125) Dari ayat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa dakwah ialah kegiatan menyeru manusia kepada jalan Allah SWT,  yang dilakukan dengan berbagai metode atau cara. Cara yang pertama bil hikmah, artinya “dengan hikmah”, mengambil pelajaran yang mendalam sehingga dapat membedakan yang haq dan bathil. Cara yang kedua ialah dengan mau’izhah hasanah, artinya “keteladan yang baik”.  Karena dakwah lebih bisa tertangkap melalui keteladanan dari seorang da’i atau da’iyah yang menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.

Cara yang ketiga adalah wa jaadilhum bil latii hiya ahsanu, artinya “dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”, barangsiapa yang membutuhkan dialog dan tukar pikiran, maka hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, lemah lembut, serta tutur kata yang baik. Hal demikian juga selaras dengan firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang dhalim di antara mereka,” dan ayat seterusnya. (QS. Al-‘Ankabuut: 46)

Mengapa Muslimah Harus Berdakwah?

Dakwah bukan sebatas kewajiban yang harus dijalankan, namun juga pilihan. Pilihan yang hadir bukan tersebab pemikiran sendiri. Hal ini harus diketahui, dipahami, dan dijalani dengan penuh kesadaran diri bahwa setiap langkah dalam dakwah ini berilham dari Rabbi.

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron : 110)

Pada ayat yang disebutkan pertama yaitu umat Islam terlahir sebagai umat terbaik. Umat dalam ayat ini bukan hanya kaum adam atau seorang muslim saja. Namun keseluruhan, termasuk muslimah. Kedua, tegaknya agama Islam adalah dengan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar yang berarti bahwa seorang muslim dan muslimah memiliki kewajiban untuk berdakwah, yaitu dengan menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Ketiga, beriman kepada Allah SWT. Iman ini merupakan modal utama bagi seorang yang beragama. Dari imanlah seseorang memiliki kekuatan untuk teguh dan bertahan dalam mengarungi takdir dan ketetapan yang Allah SWT gariskan.

Turut sertanya muslimah dalam dakwah memang tidak begitu terlihat seperti muslim. Namun, perannya sangat dibutuhkan dalam dakwah Islam sebagai da’iyah, untuk berdakwah menaungi sesama muslimah. Karena problematika muslimah begitu banyak, dan akan lebih efektif jika yang mengatasinya ialah sesama muslimah. Meskipun tidak menutup kemungkinan bagi seorang muslim, seperti ustadz atau da’i untuk memberi solusi atas masalah. Kewajiban muslimah dalam berdakwah ini bukan berarti mengabaikan kewajibannya sebagai ibu bagi anak-anaknya, istri bagi suaminya, dan bagian dari masyarakat luas.

Peran Dakwah Muslimahdi Rumah

“Al-ummu madrasatul ula”, ibu adalah sekolah/madrasah utama. Dari seorang ibu, anak mendapatkan kasih sayang dan pengajaran pertama dalam kehidupannya. Kasih sayang yang dicurahkan oleh seorang ibu akan membentuk pribadi anak yang belas kasih terhadap sesama. Dari penanaman nilai-nilai Islam, akan membentuk generasi yang kuat iman dan Islamnya, sehingga melahirkan generasi mujahid dan mujahidah dakwah di masa emasnya, serta kemampuan-kemampuan dasar bagi seorang anak untuk memulai pendidikannya.

Peran seorang muslimah sebagai istri ialah mendukung dan menyertai setiap pekerjaan dan dakwah yang dilakukan suaminya. Seperti yang dilakukan oleh Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid yang senantiasa membersamai jalan dakwah suaminya, Rasulullah Muhammad SAW hingga kematian menjemputnya. Khadijah begitu istimewa bagi Rasulullah SAW, bukan hanya karena Khadijah adalah istri Rasulullah, namun karena pengorbanannya teruntuk dakwah dan jihad bagi agama Allah SWT.

Rasulullah SAW pun bersabda: “Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku. Dia membenarkanku ketika orang-orang  mendustakanku. Dia menyokongku dengan hartanya ketika orang-orang memboikotku. Dan Allah mengaruniakan anak bagiku dari (rahim)-nya. Padahal dengan (istri-istriku) yang lain, aku tak mendapatkannya.”(HR. Ahmad)

Peran Dakwah Muslimah di Lingkungan

Muslimah yang melebarkan sayap dakwah menuju lingkungannya harus memiliki persiapan yang baik juga. Jika di dalam rumah, seorang muslimah menjadi seorang ibu dan istri dengan menjalankan kewajiban-kewajibannya dan menambah wawasan untuk menjadi madrasah di rumah. Maka, seorang muslimah harus lebih gigih lagi berjuang untuk berdakwah di lingkungannya. Mulai dari menambah wawasan keagamaan, mempelajari fiqih dakwah, dan mempelajari cara menyelesaikan masalah/problem solving bagi masyarakat. Tentunya berbagai problematika akan semakin banyak dihadapi, karena cangkupan dakwah sudah mulai luas. Apalagi dengan perkembangan zaman sekarang, kita bisa melihat berbagai penyimpangan yang terjadi secara nyata di sekitar kita.

Dakwah di lingkungan ini bisa sesuai dengan profesi maupun kegemarannya. Misalkan seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai guru Taman Pembelajaran Al Qur’an di lingkungan, anak-anak didik dan ibu dari anak didiknya menjadi ladang dakwah baginya. Mengajak ibu dari anak didik untuk berbicara dan bertukar pikiran merupakan salah satu jalan dakwah dengan lisan /bil lisan. Misalnya bagi seorang ibu rumah tangga yang pandai menjahit, bisa mulai membuat pakaian-pakaian syar’i dan memperkenalkannya kepada ibu-ibu di lingkungan melalui kegiatan pengajian. Itu juga menjadi sarana dakwah dan usaha tersendiri.

Bagi muslimah yang berjuang di jalan dakwah, kita memiliki teladan yang terang dari sosok Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar. Dengan wawasan ilmunya, beliau bisa berperan dalam lingkungan sekitar, hingga yang lebih luas yaitu kepemimpinan. Sejarah mencatat bahwa Sayyidah Aisyah r.anha adalah salah satu sahabiyah yang banyak menghafal hadits-hadits Nabi SAW,  sehingga para ahli hadits menempatkan Sayyidah Aisyah r.anha pada deretan para penghafal hadits terkemuka seperti Abu Hurairah, Ibnu Umar, dan Anas bin Malik. Sepeninggal Rasulullah SAW,  jika para sahabat berselisih pendapat tentang suatu masalah, mereka tidak segan-segan meminta penyelesaian dari ibunda Aisyah r.anha.

Banyak sekali peran muslimah dalam dakwah yang belum disebutkan. Banyak sekali mujahidah-mujahidah dakwah di zaman dahulu yang patut diteladani seperti Khadijah, Aisyah, Khansa’, Asma’ dan lain-lain dengan kemampuan, perjuangan, dan pengorbanannya masing-masing.

“dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab : 46)

Ayat itu menjadi penutup dan menjadi motivasi bagi kita, untuk terus berdakwah. Bahwa seorang penyeru merupakan cahaya yang menerangi gulita. Bahwa umat membutuhkan mata air dalam tandusnya padang kehidupan yang saat ini dijalani. Jadilah da’iyah yang dibutuhkan umat dengan keberadaannya, dirindukan umat saat jauh darinya, dan dido’akan umat saat ketiadaannya. Wallahu a'lam bishawab.***

Share