Rabu02222017

Last update05:00:00 AM

Back Rubrik Opini Selamatkan Pecandu Narkoba dengan Rehabilitasi

Selamatkan Pecandu Narkoba dengan Rehabilitasi

Berbicara tentang rehabilitasi bagi para penyalahguna narkoba (pecandu narkoba), saya jadi teringat dengan kisah sahabat lama saya. Sahabat saya itu memiliki dua orang adik yang kini terjebak dalam penyalahgunaan narkoba. Tapi, mereka menolak ketika akan dibawa untuk berobat atau mendapatkan upaya penyembuhan. Mereka merasa dapat mengatasi masalah untuk berhenti dengan sendirinya. Namun, kenyataannya sampai saat ini mereka masih mengonsumsi barang atau zat terlarang itu.
Inilah kenyataan yang masih terjadi didalam masyarakat. Masyarakat masih mempunyai pikiran bahwa seorang penyalahguna narkoba jika ketahuan atau tertangkap polisi akan dipenjarakan. Oleh karena itu, penyalahguna narkoba sangat takut jika keberadaannya diketahui orang lain apalagi jika harus melaporkan dirinya sendiri. Masyarakat juga terkesan menutupi jika terdapat teman, kerabat, atau keluarga yang menjadi penyalahguna narkoba.

Padahal “kesukarelaan” untuk melapor dan meminta rehabilitasi ini mendapat perlindungan hukum. Seperti yang termaktub di dalam Undang-Undang no 35 tahun 2009 tentang Narkotika pasal 54 yang menyatakan bahwa pecandu narkotika dan korban penyalahguna narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Bakan BNN telah menggaungkan hal inisejak 2015, dengan program bertajuk rehabilitasi bagi 100.000 penyalahguna narkoba di seluruh Indonesia.

Masyarakat diajak untuk berpartisipasi dalam program ini, jangan ada lagi rasa takut untuk melaporkan dirinya atau orang lain yang menjadi pecandu narkoba ke BNN, Balai Rehabilitasi, atau Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) lainnya.

Masyarakakat bisa melaporkan dirinya di seluruh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia dan di Kota Tanjungpinang bisa melaporkan diri ke BNN Kota Tanjungpinang, RSAL Dr Midiyato, RSU ProvinsiBatu 8 dan Klinik Ananda, atau bagi warga Bintan dapat melaporkan diri ke RSUD Kabupaten Bintan, RSU Provinsi Tanjung Uban dan Puskesmas Toapaya.

Program ini adalah angin segar bagi penyalahguna narkoba, demi menyelamatkan generasi bangsa dari barang perusak masa depan ini. Meski di tahun 2016 ini program rehabilitasi bagi 100.000 penyalahguna narkoba telah berakhir, namun program rehabilitasi secara umum masih tetap berjalan.

Manfaatkan sebaik-baiknya program ini untuk menyelamatkan diri sendiri dan teman, kerabat, atau keluarga yang sedang sakit karena penyalahgunaan narkoba, secara gratis semua biaya rehabilitasi ditanggung pemerintah. Perlu diketahui, biaya rehabilitasi bagi pecandu narkoba rawat inap rata-rata Rp3,5 juta per bulan, jika butuh waktu 6 bulan proses rehabilitasi, atau 1 tahun bahkan ada yang 2 tahun tergantung tingkat kecanduannya.

Bayangkan jika anda harus membayar biaya rehabilitasi dengan uang pribadi? Mungkin setelah penjelasan diatas, akan muncul pertanyaan-pertanyaan ini di benak para pembaca sekalian. Mengapa Pemerintah rela mengeluarkan dana yang begitu besar untuk para penyalahguna narkoba? Mengapa tidak dipenjara saja biar jera dan jelas tidak keluar banyak biaya?

Baiklah, mari kita bahas satu persatu, melalui data-data yang dimiliki oleh BNN. Berdasarkan hasil penelitian BNN, Tahun 2008 jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia sebanyak 3,3 juta jiwa, dan Tahun 2011 meningkat menjadi 4 juta jiwa, sementara pada 2015 diproyeksikan meningkat menjadi 5,2 juta jiwa. Selama menggunakan paradigma yang lama penyalahguna narkoba selalu dimasukan ke penjara, terjadi peningkatan yang signifikan dari penyalahgunaan narkoba.

Mulai tahun 2015, paradigma tersebut diubah menjadi penyalahguna narkoba lebih baik di rehabilitasi daripada dipenjara. Indonesia memiliki harapan dengan paradigma baru tersebut serta didukung dengan program rehabilitasi 100.000 penyalahguna narkoba dari BNN, paling tidak dapat menahan laju prevalensi penyalahgunaan narkoba di negara kita ini.

Jika para penyalahguna narkoba ini dimasukkan ke penjara maka mereka akan berkumpul dengan kurir, pengedar, bandar, atau produsen narkoba. Setelah keluar dari penjara, bukannya pulih dari kecanduan malah semakin parah dan bisa masuk jaringan karena adanya transformasi ilmu di sel penjara.

Yang tadinya hanya sebatas memakai narkoba, bisa jadi saat keluar sudah menjadi bagian dari jaringan peredaran gelap narkoba. Apakah kita mau jika mantan napi penyalahguna narkoba naik kasta menjadi pengedar narkoba setelah keluar dari penjara? Tentunya kita tidak menginginkan hal tersebut terjadi.

Lebih memilukan lagi di dalam jeruji penjara para pengedar narkoba bukannya malah jera, bukan lagi rahasia umum bahwa  mereka mengendalikan dan mengedarkan narkoba dari dalam lapas.

Menurut penelitian BNN, sekitar 75% peredaran narkoba dikendalikan dari dalam lapas. Mengagetkan bukan? Jadi jangan heran, jika hukuman seumur hidup masih belum mempan. Oleh karena itu, Presiden Jokowi sangat tegas untuk menerapkan hukuman maksimal (hukuman mati) untuk para pengedar narkoba kelas kakap di Indonesia.

Masih berpikir bahwa penjara akan membuat pecandu dan penyalahguna narkoba jera? Saya yakin para pembaca sudah dapat menjawabnya sendiri setelah penjelasan diatas. Pecandu dan penyalahguna narkoba lebih baik dan memang seharusnya direhabilitasi.

Beberapa alasan mengapa pecandu dan penyalahguna narkoba sebaiknya direhabilitasi; jika kita mengatakan bahwa penyalah guna dan pecandu adalah pelanggar hukum, itu benar tapi mereka bukanlah penjahat, mereka  hanyalah korban dari bujuk rayu para pengedar dan bandar. Sifat adiktif yang terkandung didalam narkoba, membuat para penyalah guna dan pecandu ketergantungan untuk mengkonsumsi narkoba.

Penggunaan narkoba yang terus-menerus akan berdampak pada kerusakan fisik seseorang, mudah terserang penyakit dan bisa merusak system saraf pusat sehingga membuat mereka menjadi gila atau keterbelakangan mental bahkan menimbulkan kematian.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa penyalahguna dan pecandu narkoba merupakan orang sakit yang harus kita tolong dan disembuhkan dari ketergantungannya sebelum efek narkoba mematikan fungsi otaknya.

Berbicara tentang narkoba, berarti berbicara tentang supply and demand. Semakin banyak permintaan (demand), berarti pasokan (supply) narkoba akan terus ada atau bertambah. Merehabilitasi penyalahguna dan pecandu narkoba hingga pulih adalah suatu langkah untuk menekan permintaan. Idealnyajika sudah tidak ada permintaan dari konsumennya, pengedar dan bandar akan gulung tikar dengan sendirinya.

Berdasarkan penelitian BNN RI, setiap harinya 40-50 generasi bangsa Indonesia meninggal dunia karena narkoba. 1,2 juta jiwa sudah tidak bisa direhabilitasi karena kondisinya yang terlalu parah. Langkah merehabilitasi penyalah guna dan pecandu narkoba adalah salah satu langkah  agar bangsa Indonesia tidak kehilangan generasinya kembali.

Rehabilitasi merupakan keputusan yang arif dan bijak dari pemerintah serta jalan terbaik bagi penyalahguna narkoba agar tidak semakin terjerembab dalam ke jurang pesakitan.

Saya yakin, masyarakat akan mendukung program pemerintah dengan tidak memenjarakan para penyalahguna ini melainkan direhabilitasi agar pulih. Hal ini tidak akan bisa terjadi, tanpa dukungan dari masyarakat untuk pro aktif melapor ke BNN,

Balai Rehabilitasi atau rumah sakit dan layanan kesehatan lainnya yang telah bekerjasama dengan BNN. Ayo dukung "gerakan stop cuek". Generasi bangsa harus bergegas untuk diselamatkan. Laporkan segera. BNN merehabilitasi bukan memenjarakan. Salam Anti Narkoba.(Sri Murdiningsih, A.mk, Kasi Rehabilitasi BNNK Tanjungpinang)

Share