Rabu10182017

Last update05:00:00 AM

Back Rubrik Tajuk Banjir Kepung Karimun

Banjir Kepung Karimun

Hujan lebat sejak Rabu (4/10) dinihari hingga siang di wilayah Karimun menyebabkan banjir di sejumlah titik. Terparah terjadi di  kawasan Komplek Taman Anggrek, Gang Awang Noor dan Parit Lapis di Kecamatan Meral. Nyaris seluruh rumah di Komplek Taman Anggrek, Kelurahan Baran Timur direndam banjir. Ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa. Meski tidak ada korban jiwa, namun dilaporkan perabotan dan peralatan rumah tangga milik warga hanyut dibawa air.

Warga setempat menyatakan, penyebab banjir karena drainase di pemukiman tersebut tidak mampu menampung air sehingga meluap ke halaman dan rumah warga. Banjir yang cukup parah tersebut sudah yang kesekian kalinya. Ini juga dipicu adanya pembangunan kompleks perumahan yang berada di ketinggian sehingga airnya mengalir ke perumahan di dataran yang lebih rendah.


Bupati Karimun, Aunur Rafiq sebelumnya berjanji akan mencarikan solusi untuk mengatasi banjir tersebut. Ada beberapa langkah yang akan dilakukannya yakni melakukan revitalisasi drainase Se-Kabupaten Karimun. Contohnya, jika sebelumnya Jalan Poros menjadi langganan banjir, sekarang sudah tidak terjadi lagi pasca revitalisasi drainase di jalan protokol tersebut.

Terkait bencana itu, kita tentu terpanggil menyampaikan duka kepada masyarakat yang menjadi korban banjir. Selain itu, kita juga mengingatkan agar tidak mencari kambing hitam atau pembelaan di balik banjir tersebut. Jangan dibangun "tradisi" buruk, selalu berdebat tentang latar belakang peristiwa terutama menyangkut pemicunya. Jangan selalu latah berkelit untuk menutupi sebuah kesalahan.

Ini sengaja kita sampaikan, agar tidak ada yang menangguk di air keruh, mengambil kesempatan di balik banjir  itu. Kita tidak perlu berdebat, menyangkut penyebab banjir karena hanya akan memperkeruh suasana.

Curah hujan tinggi, jelas tidak bisa dinafikan karena itu memang salah satu pemicunya. Namun, kalau dilihat kerusakan lingkungan di atas bukit termasuk kawasan hutan, juga tidak bisa dikesampingkan.

Jadi, bencana alam ini, seyogianya harus jadi cermin untuk berkaca diri oleh semua pihak, baik masyarakat, para pejabat jajaran pemerintahan di mana pun berada. Tidak perlu menutupi sebuah kesalahan, hanya karena kepentingan pribadi. Bagaimana pun juga rakyat sudah menjadi korban sia-sia, karena bencana yang barangkali juga dipicu akibat perbuatan dan kelalaian manusia itu sendiri.

Untuk itu masyarakat, kita ajak agar selalu peduli dengan lingkungan. Bentuk kepedulian itu adalah, membangun kesadaran bersama bahwa hutan dan alam sekitar bisa mendatangkan berkah kalau dijaga. Begitu juga sebaliknya, dapat memicu bencana jika dirusak dan diobok-obok.

Jagalah hutan, peliharalah kelestarian alam dan lingkungan sekitar, terutama kawasan hutan alam. Degradasi lingkungan akibat perbuatan manusia, lambat laun juga akan membuat manusia itu sendiri jadi tumbal. Banjir jelas bukti aktual, betapa ancaman kehidupan itu justru datang dari lingkungan yang paling dekat dengan diri kita.

Mari belajar dari alam. Isyarat alam seperti halnya bencana alam berupa banjir  tentu jadi pelajaran berharga. Alam pun ternyata marah kalau dieksploitasi tanpa kendali. ***

 

Share