Rabu10182017

Last update05:00:00 AM

Back Rubrik Tajuk Waspadai Bancana Alam

Waspadai Bancana Alam

Di musim penghujan ini memberikan isyarat kepada kita bagaimana pentingnya mewaspadai semua gejala bencana alam. Saat ini selain banjir, kini yang terasa menonjol adalah angin kencang.
Berita mengenai banjir, baik di Batam, Karimun dan kota/kabupaten lainnya di Kepri makin sering muncul beberapa minggu terakhir. Teranyar, Rabu (4/10) hampir seluruh wilayah Karimun dikepung banjir. Terparah, nyaris seluruh rumah di Komplek Taman Anggrek, Kelurahan Baran Timur direndam banjir dengan ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.

Memang, bencana itu muncul tidak terduga atau secara tiba-tiba. Namun demikian dengan kita mengenal gejala-gejala awal yang menyebabkan kerusakan di beberapa daerah, kesiapan itu setidak-tidaknya bisa digalang bersama masyarakat dan pemerintah.

Salah satunya, pentingnya peringatan dini kepada masyarakat. Artinya bagaimana memaksimalkan analisis data dan prediksi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) tentang cuaca dan sifat-sifatnya.

Informasi mengenai perkiraan cuaca itu umumnya disampaikan media masa kepada publik. Namun di sisi lain terkadang informasi media itu belum tentu bisa diserap secara luas oleh masyarakat. Penyebabnya boleh jadi karena faktor ketidakpedulian, atau juga karena keterbatasan akses kepada media. Jadi memang perlu ada yang menjembataninya.

Kita akui, belum semua masyarakat benar-benar sadar dan melek informasi. Ada yang karena keterbatasan-keterbatasan akses sehingga belum menyadari pentingnya analisis data dari BMG. Jadi, di sinilah mestinya otoritas yang terkait dengan tanggung jawab penanggulangan awal bencana alam membentuk semacam jaringan informasi.

Badan tersebut paling tidak secara aktif menyerap data, lalu memberi penyadaran-penyadaran kepada masyarakat mengenai hasil analisis cuaca. Dengan demikian langkah-langkah kesiapan antisipasi masyarakat bisa cepat dilakukan.

Antisipasi, itulah kata kunci dalam menghadapi perubahan musim. Dengan antisipasi, boleh jadi kita tidak bisa melakukan pencegahan terjadinya akibat, tetapi setidaknya bisa mengeliminirnya.

Sekali lagi kita, tidak menggampangkan sifat bencana, misalnya bencana puting beliung yang bahkan bisa mencabut pohon bersama seluruh akarnya. Kita hanya mengingatkan mengenai pentingnya kewaspadaan, agar kemungkinan-kemungkinan akibat yang terkait dengan korban nyawa bisa dihindarkan. Di sinilah pentingnya membudayakan manajemen antisipasi bencana. Jangan hanya tergopoh-gopoh menyusun rencana setelah terjadi sesuatu.

Selain mendorong kesiapan total pemerintah dengan sikap antisipatif dengan jaringan informasi di semua level, kita juga mengajak masyarakat meningkatkan kebersamaan, memelihara simpati dan empati dalam kondisi bencana sekarang ini.

Setiap musim, pelajaran datang silih berganti, kepanikan juga berjalan dengan segala dinamikanya. Sikap sering lupa setelah musim berlalu harus dihindarkan dalam budaya manajemen bencana. Jadi dalam perputaran hidup selama setahun, paling tidak langkah-langkah kesiapan dan antisipasi itu tetap terus melekat. Sekali lagi, semua itu bertujuan menekan sekecil mungkin munculnya resiko. Semoga***

Share