Rabu05222013

Last update12:00:00 AM

Back Sijori Xin Wen Perahu Naga Warisan Leluhur

Perahu Naga Warisan Leluhur

TANJUNGPINANG (HK) - Masyarakat etnis Tionghoa mulai mendiami Pelantar Tanjungpinang sejak 140 tahun silam. Hingga saat ini, mereka masih tetap melaksanakan suatu tradisi lomba perahu naga yang diyakini akan memberikan keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat.


Menurut kisah yang diwarisi turun temurun, sewaktu masyarakat Etnis Tionghoa mulai memasuki daratan Pelantar 3, Tanjungpinang sekitar 140 tahun lalu, mereka membawa patung dewa perang Guan atau disebut juga Guang Gong beserta dua patung batu yang diangkat menjadi pembantunya. Sampai saat ini, kedua patung tersebut masih tersimpan di Tapekong Kwan Ti Kung Pelantar 3 yang juga merupakan nama lain dari Dewa Guan Di.

Sebagian masyarakat etnis Tionghoa juga menyebut Dewa Guan sebagai Guan Kong, yang berarti paduka Guan. Nama tersebut merupakan nama panglima perang kenamaan yang hidup pada masa San Guo (221-269 Masehi) yang memilki nama asli Guan Yu alias Guan Yun Chan. Pada masa kaisar Han ia diberi gelar Han Sou Thing Hou, Ia sangat dipuja rakyat pada masa itu karena kejujurannya. Dirinya menjadi lambang suri tauladan kesatria sejati yang selalu menepati janji dan setia pada sumpahnya.

Karena itu Guan Kong sangat dipuja di kalangan masyarakat ataupun di klenteng-kelenteng, gambarnya banyak dijumpai di rumah masyarakat, toko, kantor polisi, pengadilan, sampai ke markas organisasi mafia. Para anggota organisasi tersebut akan bersumpah setia di hadapan Guan Kong. Perayaan sembahyang keselamatan laut dimulai setiap tanggal 5 bulan ke-5 kalender Tionghoa.

Keyakinan yang berkembang tersebut tetap dilakukan masyarakat Tiong Hoa sampai sekarang. Pada masa lalu ritual sembahyang keselamatan laut dilakukan dengan sampan-sampan sederhana yang juga digunakan nelayan untuk melaut. Setelah berlangsung cukup lama seorang warga pelantar 3 yang bernama apek Thua Dhau (alm) berinisiaif membuat perahu naga sebagai mana yang dipergunakan nenek moyangnya didaratan Tiongkok dulu.

dengan kreatifitasnya, dia berhasil membuat perahu naga yang ukiran dan coraknya diyakini sama dengan asli perahu naga leluhur Tiongkok. Corak dan motif ukirannya yang unik dan menjadi daya tarik bagi banyak orang yang minta replika perahu yang sama dengan yang dimilki Apek Thua Dhau (Alm). Perahu tersebut sampai saat ini masih ada, tapi sudah banyak yang mencoba meniru tapi tetap saja tidak ada yang mirip.

Sedangkan Lomba Perahu Naga itu sendiri mulai rutin dilombakan sejak tahun 1950-an, dam sampai saat ini kegiatan tersebut telah ditetapkan Pemerintah sebagai suatu even pariwisata yang sangat terkenal hingga kenegara lain. Hal tersebut juga didukung oleh keunikan corak perahu naga tersebut. (cw40)

Share