Kamis06202013

Last update12:00:00 AM

Back Sijori Xin Wen Tanaman Bambu Miliki Simbol Nilai Luhur

Tanaman Bambu Miliki Simbol Nilai Luhur

 ilustrasi lukisan bambuTANJUNGPINANG (HK)- Tanaman bambu banyak dijadikan sebagai objek lukisan oriental. Tentu kita bertanya-tanya, "Mengapa bambu?" Apanya yang menarik atau unik dari tanaman ini? Padahal kalau mau jujur, dari segi keindahan masih banyak tanaman atau objek lain yang jauh lebih menarik. Mengapa harus bambu?

Menurut Sekretaris Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN ) Sam Guang Bio Tanjungpinang, Suki Lim, di dalam tanaman bambu terkandung delapan simbolisasi nilai-nilai luhur yang diajarkan para Bijak jaman dahulu, terutama oleh Sheng Ren Kong Zi atau Nabi Khonghucu. Kedelapan nilai-nilai itu dikenal sebagai Ba De atau Delapan Kebajikan yang merupakan salah satu mutiara ajaran agama Khonghucu.

Nilai-nilai luhur itu kemudian diejawantahkan dalam lukisan bambu, yang biasanya diperkaya dengan seuntai puisi atau syair yang indah dan penuh makna.

Nilai pertama adalah tentang Xiao, Hauw atau Laku Bakti. Mulai dari berbakti kepada orangtua, guru atau yang dituakan, keluarga, masyarakat, bangsa, negara sampai pada kemanusiaan.

"Kalau kita lihat tanaman bambu, pada saat ia bertumbuh besar, secara hampir bersamaan ia juga beranak-pinak dengan cara bertunas. Artinya bambu melakukan dua hal penting sekaligus, yaitu merawat diri dan berkembang biak. Keduanya merupakan lambang Xiao atau Laku Bakti, menjaga warisan orangtua dan melanjutkannya sepenuh hati," ungkap Suki kemarin.

Mengapa bambu yang relatif jauh lebih kecil ketimbang pepohonan lain bisa lebih lentur dan liat? Salah satu faktor penyebabnya adalah adanya ruang kosong di dalam batang bambu. Ruang ini disamping bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan bunyi atau nada, juga melambangkan sifat kosong atau rendah hati (Di). Karena ada kerendahan hati, merasa diri masih kurang, maka seseorang bisa berniat atau berkeinginan untuk belajar. Kalau tidak kosong, maka tidak ada ruang untuk menerima pendapat orang lain alias sombong.

Sifat bambu ketiga adalah lurus. Hampir tidak pernah dijumpai ada bambu yang tidak lurus atau bercabang. Sifat ini melambangkan Zhong atau kesatyaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Makna lebih jauh yang bisa dipetik adalah lanjut Suki, sikap dapat dipercaya atau Xin. Meski berbeda pandangan, kalau sudah menyangkut hal mendasar, maka perbedaan akan luruh dikalahkan kepentingan yang lebih besar.

Ciri khas bambu yang kelima adalah beruas-ruas alias berbuku-buku pada batangnya. Ini melambangkan perlu adanya tahapan, tatanan atau aturan. Dalam bahasa yang lebih agamis filosofis bisa diartikan sebagai kesusilaan atau kesantunan sosial.

Nilai luhur keenam adalah Yi atau kebenaran. Simbolnya ialah akar bambu yang menghujam lurus masuk ke dalam tanah. Ini berarti semua tindakan kita haruslah mempunyai dasar pijakan yang tepat. Dengan demikian bisa dipertanggungjawabkan secara kuat.

"Akar yang kuat, lurus dan menghujam dalam jauh ke bawah permukaan bumi inilah yang membuat tanaman bambu kokoh dan tidak mudah tumbang. Demikian pula seharusnya setiap tindakan kita. Bila dilandasi oleh nilai kebenaran, maka setiap langkah atau tindakan yang kita ambil akan lebih pasti, mantap, tugas dan tidak gamang," imbuhnya.

Nilai moral ketujuh kata Suki adalah Lian, Suci Hati, Tulus Hati atau Ketulusan, yang dilambangkan dengan jalinan akar bambu.

Sebagai simbol Che adalah kemampuan bambu menyumbangkan semua bagian dirinya untuk kehidupan. Tunas muda yang disebut rebung dapat diolah menjadi makanan lezat seperti lumpia. Bambu berbagai ukuran bisa digunakan sebagai bahan: seruling, bambu runcing, angklung, calung, rakit, sampai bahan bangunan.

Bahkan daunnya pun dapat digunakan sebagai bungkus bacang, jajanan khusus yang terbuat dari ketan. Dengan simbol ini setiap orang dituntut terus belajar agar mempunyai multi talenta seperti bambu. Dengan demikian kehadirannya menambah, sedang ketidakhadirannya akan mengurangi.(eza)

Share