Minggu02182018

Last update05:00:00 AM

Back Tanjungpinang Tiga Petugas KSOP Sesali Perbuatannya

Tiga Petugas KSOP Sesali Perbuatannya

Kasus Pungli di Pelabuhan Tanjungpinang

TANJUNGPINANG (HK)- Sidang dugaan korupsi pungutan liar (pungli) keberangkatan kapal antar pulau di Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) Tanjungpinang yang dilakukan tiga terdakwa Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Tanjungpinang, yakni Herbert Panusunan Simamora (34), Sutoyo (42) selaku Kepala Pos KSOP dan Eri Priawan (27), kembali digelar di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang, Selasa (13/2).
Agenda sidang kali ini mendengarkan kesaksian dari masing-masing terdakwa (saksi Mahkota) untuk terdakwa lain, kemudian dilanjutkan pemeriksaan terdakwa. Dalam sidang, ketiga terdakwa menyesali perbuatannya dan kapok. Bahkan, mereka berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

Pernyataan itu disampaikan ketiga terdakwa menjawab salah satu pertanyaan yang diajukan oleh majelis hakim yang memimpin sidang, tentang bagaimana perasaan mereka saat ini sebagai terdakwa, termasuk apakah akan mengulangi perbuatan tersebut.

"Saya menyesal dan kapok yang mulia majelis hakim, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbutan tersebut," sahut masing-masing terdakwa menjawab pertanyaan majelis hakim Edward MP Sihaloho SH, MH, selaku hakim ketua didampingi dua hakim anggota, Corpioner SH MH dan Joni Gultom SH MH.

Ketiga terdakwa tersebut mengungkapkan bahwa tindakan pungutan liar yang mereka lakukan terhadap sejumlah agen kapal saat itu merupakan sebagai bagian imbalan jasa yang telah dilakukan sejak dulunya dalam melaksanakan tugas pengecekan termasuk keselamatan bagi sejumlah kapal yang akan berlayar meninggalkan pelabuhan tempat mereka bertugas.

"Hal itu sebenarnya dilarang dan tidak dibenarkan dalam tugas kami pak hakim. Namun semua ini karena sudah terbiasa saja sejak dulunya," ungkap masing-masing terdakwa.

Pengakuan lain, ketiga terdakwa tersebut menyebutkan, bahwa sebagian besar uang yang mereka terima dari hasil pungli tersebut, setelah dibagi rata dengan petugas KSOP lain, kemudian mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya keperluan lainnya.  

"Keluarga sudah mengetahui tentang uang yang diperoleh diluar hasil gaji perbulannya dari kantor. Karena memang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga saya," kata masing-masing terdakwa menjawab pertanyaan hakim.

Sejumlah keterangan dan kejujuarn yang disampaikan para terdakwa tersebut, mendapat apresiasi dari majelis hakim. Hal ini nantinya juga dapat sebagai bahan pertimbangan mereka sebagai majelis hakim dalam mengambil keputusan pada sidang vonis perkara nantinya.

"Saya apresiasi kejujuran saudara sebagai terdakwa, namun jangan sampai mengulangi lagi perbuatan tersebut, karena saudara sudah diberi tugas dan gaji oleh negara," ujar Joni Gultom salah satu hakim anggota sidang.

Sekedar diketahui, Kasus tersebut merupakan hasil pengungkapan Satreskrim Polres Tanjungpinang, terhadap salah seorang oknum pegawai KSOP yang bertugas di Pelabuhan SBP Tanjungpinang, yakni Harbert Panusanan Simamora.

Harbert ditangkap saat baru saja menerima amplop berisi uang dari salah satu pengurus kapal yang akan berangkat dengan mendatangi Kantor Pos KSOP di Pelabuhan SBP. Dari hasil pengembangan itu polisi akhirnya kembali mengamankan dua tersangka lainnya yang diduga ikut terlibat dalam kasus pungli tersebut, yakni Sutoyo selaku Kepala Pos KSOP dan Eri Priawan.

Pada saat pengungkapan kasus tersebut, polisi mendapati sejumlah barang bukti berupa setoran dari masing-masing agen kapal yang akan berangkat dari Pelabuhan SBP Tanjungpinang kepada para oknum KSOP Tanjungpinang tersebut.

Dari KM Sabuk Nusantara berupa setoran uang Rp500 ribu, kemudian dari agen kapal fery VOC Rp800 ribu, agen Superjet Rp450 ribu, agen kapal Sevent Star Rp300 ribu, agen kapal Marina Rp200 ribu dan agen ceking Sabuk Nusantara 59 sebanyak Rp400 ribu.

Selain itu ada lima rekapan yang isinya berupa intensif dari masing-masing agen kapal tersebut di atas.

Barang bukti lain, berupa amplop berwarna coklat yang isinya tulisan jumlah uang 373 x Rp5 ribu, termasuk 373 x Rp4 ribu. Kemudian satu amplop berisi tulisan 588 trip. Jadi, tiga amplop kosong tersebut saat ditemukan polisi bertuliskan sebagai pembayaran dalam bentuk bulanan trip dari kapal oleh masing-masing agen kapal.

Kemudian, didapati lima amplop coklat, dan satu buku rekapan warna hitam yang bertuliskan nama dan rincian uang yang diberikan pihak agen kapal, satu buku bertuliskan atas nama Dona Mentari yang didalamnya bertuliskan rincian uang.

Selain itu, satu lembar kertas warna putih dengan judul ponton Batam yang berisikan nama pemberi dan jumlah uang. Dua lembar jadwal piket bulanan pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang. Satu bundel kwitansi merk Sinar Dunia yang bertuliskan pemberi sumbangan dari pelaut.

Satu lembar amplop kosong warna putih bercoklat biru merah bertuliskan air mail, termasuk satu buah Laptop merk Toshiba model NG.PSKOGL-09U05L yang berisikan jadwal kapal dan laporan, juga satu buah warna hitam merek Polo Clasik berisikan satu buah tabungan Bank BCA atas nama S (Sutoyo-red)

Dari total jumlah uang yang disita polisi saat OTT itu Rp2.650.000. Jumlah uang tersebut disetorkannya kepada rekannya Sutoyo sebagai Kapos KSOP,  dan Eri Priawan sebagai angggota jaganya. Modus operandinya, petugas ini mengecek sejumlah kapal, kemudian meminta uang kepada agen kapal bersangkutan untuk biaya cheking kapal dan cheking penumpang

Apabila dalam pengecekan tersebut, agen kapal tidak memberikan sejumlah uang, maka akan dipersulit keberangkatannya oleh oknum pegawai Syahbandar tersebut, sehingga para agen kapal, mau tidak mau menyerahkan sejumlah uang kepada pelaku.

Perbuatan tersangka tersebut masuk dalam ranah tindak pidana korupsi dan dijerat dengan Pasal 12 huruf (e) UU Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.(nel)

Share