Lakukan Pungli Eks Kepala KSOP Sambu Divonis 15 Bulan

Foto : Eks KSOP Pulau Sambu Toto Suranto berdiri saat hakim membacakan vonis dalam pengadilan/ nel

Foto : Eks KSOP Pulau Sambu Toto Suranto berdiri saat hakim membacakan vonis dalam pengadilan/ nel

TANJUNGPINANG (HK)- Mantan Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Pulau Sambu, Kota Batam, Totok Suranto (56) divonis majelis hakim Pengadilan Tipikor Tanjungpinang selama 15 bulan penjara serta denda kepada sebesar Rp50 juta, subsider 2 bulan kurungan.

Majelis hakim dipimpin Admiral SH MH didampingi dua hakim anggota, Corpioner SH dan Suherman SH MH, menyatakan, terdakwa Totok Suranto telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi, berupa suap atas kuasa dan kewenangan terdakwa sebagai Kepala KSOP Kelas III Pulau Sambu di Batam. Hal dimaksud terkait dugaan kasus pungutan liar (Pungli) berupa suap dalam pengurusan dokumen pelayaran kapal.

“Hal dimaksud, sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 13 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2011 perubahan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,” kata majelis hakim.

Perbuatan terdakwa Totok tersebut dinilai telah melanggar ketentutan hukum, sebagaimana dakwaan lebih subsider, Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Vonis hakim tersebut lebih ringan dari tuntutan JPU Sukamto SH MH dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepri sebelumnya selama 1 tahun 6 bulan (18 bulan) penjara, dan ditambah denda Rp50 juta subsider 5 bulan kurungan.

Dalam pertimbangan hakim menyebutkan, hal-hal yang memberatkan perbuatan kedua terdakwa, karena tidak mendukung pemerintah dalam melakukan pemberantasan tidak pidana korupsi.

“Sedangkan hal yang meringankan, kedua terdakwa bersikap sopan, mengakui kesalahannya, kedua terdakwa juga merupakan tulang punggung keluarga dan belum belum pernah di hukum,” ungkap hakim.

Dalam sidang kasus yang sama, secara terpisah, majelis hakim juga menjatuhkan vonis terhadap terdakwa Eliman Syah Hia (37), Kepala Cabang PT. Garuda Mahakam Pratama (GMP) Cabang Batam, selaku pemberi suap, selama 1 tahun penjara, dan denda Rp50 juta, subsider dua bulan kurungan.

Vonis tersebut juga lebih ringan dari tuntutan JPU sebelumnya selama 1 tahun dan 2 bulan penjara, kemudian ditambah denda Rp 50 juta subsider 5 bulan kurungan.

Perbuatan terdakwa Elimen Syah Hia tersebut dinilai sebagai pihak yang memberikan hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut.

Kedua terdakwa tersebut sebelumnya ditangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh tim Diskrimsus Polda Kepri di Jakarta, Sabtu, 3 September 2018 lalu. Hal itu dilakukan setelah Polisi mendapatkan informasi masyarakat, seringnya terjadi pungutan liar (Pungli) terkait kepungurusan dokumen pelatatan atas keberangkatan kapal di KSOP Kelas III Pulau Sambu, Kota Batam.

Eksekusi pemberian uang suap senilai Rp130 juta, dilakukan di Jakarta. Petugas juga mendapat informasi, bahwa kepala cabang PT Garuda Mahakam, memesan tiket pesawat ke Jakarta untuk keberangkatan pada 1 November 2018.

Dari informasi ini, tim Subdit tiga Ditkrimsus dan Intelkam kemudian bergerak ke Jakarta membuntuti Eli. Gerak-gerik Eli di ibu kota terpantau terus oleh tim ini. Akhirnya tim menangkap tangan eksekusi pemberian uang itu di sebuah restoran, di City Mall kawasan Gandaria pada Sabtu, 3 Nopember 2018, sekitar pukul 19.30 WIB.

Hasil penggeledahan yang dilakukan polisi dari sebuah tas milik Totok Suranto mendapati barang bukti uang 9.200 dolar AS atau sekitar Rp130 juta dari dalam sebuah amplop. Uang tersebut merupakan pemberian suap dari terdakwa Eliman Syah Hia alias Eli untuk memperlancar segala urusan pelayaran kapal selama satu bulan, yakni bulan Oktober 2018.

Setelah penangkapan di Jakarta, kedua terdakwa kemudian digiring ke Mapolda Kepri sebagai upaya tindak lanjut proses penyelidikan, termasuk melakukan penggeledahan kantor PT Garuda Mahakam dan KSOP Pulau Sambu. Dari penggeledahan itu, diamankan tiga unit komputer dan sejumlah dokumen yang diduga berkaitan dengan proses penyuapan.(nel)

(Visited 1 times, 1 visits today)