Pernikahan

Fery Heriyanto

Fery Heriyanto

Cerpen: Fery Heriyanto

Sekitar lima tahun lalu, WA Group SMA kami heboh. Farah, wanita cantik yang menjadi “bintang” saat di sekolah dulu, dikabarkan bercerai dari suaminya. Berbagai tanggapan langsung muncul.

“Ada apa ya?” Kok bisa bercerai?”
“Farah bercerai? Ah, nggak mungkin..”.
“Ah, masak iya? Hoax nggak?”

Itulah rata-rata pertanyaan dan pernyataan yang muncul di WA group. Namun, pertanyaan yang masif itu tidak bisa dijawab dengan pasti. Yang ada hanya menduga-duga.

“Kurang apa lagi ya? Farah cantik. Pendidikan tinggi. Punya penghasilan sendiri,” ucap salah seorang kawan.

“Itu bukan ukuran, Bro…Itu kan bersifat lahiriah,” timpal yang lain.

“Trus, kenapa mereka bercerai? Mungkin tidak jodoh kali…!” ujar teman yang lain.

“Huss..sudahlah. Jangan ghibah,” nasehat yang perempuan.

**

Berdasarkan informasi dari keluarga terdekatnya, Farah dan suaminya memang sepakat bercerai setelah sempat beberapa kali dilakukan mediasi. Tidak hanya dari masing-masing keluarga, sampai pihak KUA pun dikutkan serta. Tapi, perjalanan rumah tangga insan itu tetap tidak bisa diselamatkan. Dan mereka akhirnya berpisah.

“Barangkali sudah tidak jodoh. Biarlah, mungkin itu jalan terbaik,” ucap keluarganya.

Sejak bercerai, Farah tetap menjalankan kehidupannya seperti sebelumnya. Anak semata wayang yang menemaninya, tidak pernah jauh dari hari-harinya. Pagi setelah mengantar sang buah hati ke sekolah, Farah langsung ke kantor. Saat siang tiba, dijemputnya lagi sang anak dan diantar pulang, lalu kembali lagi ke kantor.

Sore, ketika jam kantor selesai, dia langsung pulang ke rumah. Di kediamannya yang bergaya modern, dia menyibukan diri layaknya seorang ibu sekaligus seorang ayah. Hari libur diisinya dengan pekerjaan rumah, mencuci baju, memasak, mengepel rumah, dan kalau ada waktu, sesekali dia membuat kue kegemaran sang anak.

Melihat statusnya seperti itu, konon, beberapa lelaki mencoba untuk mendekatinya. Namun, sikap dinginnya membuat para lelaki itu mengurungkan diri. Dia tampak lebih mengutamakan anak daripada memikirkan pendamping hidupnya.

Dalam beberapa kesempatan, keluarga besarnya mencoba juga untuk menawarkan solusi. Namun, jawaban ditunjukannya lewat sikap yang dingin. Malah kabarnya, dia sampai mengeluarkan kata untuk tidak akan berumahtangga lagi.

Hal itu tentu membuat seluruh keluarga besarnya risau. Apa sebenarnya yang terjadi dengan wanita 43 tahun itu? Bahkan, apa sesungguhnya yang menjadi dasar perceraiannya pun tidak pernah terbuka secara trasnparan.

Kalau dari usia, dia masih layak berumahtangga. Buktinya, tidak sedikit yang menyatakan diri untuk mau menjadi ayah dari anaknya. Mulai dari kalangan profesional, akademisi, praktisi kesehatan, hingga pengusaha. Tapi, lagi, Farah tetap bersikap dingin. Setiap kali ada yang menyinggung masalah itu, dia langsung mengalihkan pembicaraan.

**

Kabar rencana Farah akan menikah lagi, langsung menjadi trending topic di WA group alumni SMA kami. Sama seperti saat kabar Farah bercerai, banyak pertanyaan, tanggapan, dan pernyataan dari anggota group.

“Akhirnya dia luluh juga.”
“Siapa lelaki yang beruntung mendapatkan dia?”
“Apa? Farah mau menikah? Syukurlah…”
“Kapan acaranya? Kita diundang tidak?”

Itulah kalimat yang berseliweran di WA group. Farah kembali menjadi bahan perbincangan.

“Bagi kami, siapapun yang akan menjadi pendampingnya nanti, biarlah dia yang menentukan. Jika dikenalkannya dan cocok dengan dia, kami bersyukur. Yang penting asal usulnya jelas, mengerti agama, dan bertanggung jawab,” ucap salah seorang anggota keluarganya.

Kabar yang beredar, Farah akan dipersunting oleh lelaki yang sebaya dia. Tapi siapa? Selidik punya selidik, akhirnya diketahui calon suaminya juga seorang duda satu anak. Dia juga bercerai dengan istrinya.

**

Sepekan jelang hari pernikahannya, Farah sudah menyebar undangan, termasuk memberi kabar kepada seluruh kawan-kawan via WA dan media sosial lainnya. Namun, ada yang tidak biasa dari undangan disampaikan. Dalam undangan hanya tertulis akad nikah saja tanpa ada resepsi. Hal ini kembali menjadi bahan diskusi kawan-kawan di WA group.

Karena tahu hal itu menjadi bahan ngrumpi para sahabatnya, Farah memberi penjelasan tentang hal tersebut.

“Pernikahan saya pertama begitu meriah. Bahkan sangat meriah. Saya bagaikan ratu kala itu. Segala hal yang berkaitan dengan saya, langsung disediakan. Tapi itu dulu,” ucapnya.

“Kini tidak lagi seperti itu. Yang utama adalah akad nikahnya, bukan resepsinya. Ini menjadi kesepakatan kami. Mewah pun resepsi, jika akhirnya duka, maka lebih baik tidak,” tambahnya.

“Jadi, jika kawan-kawan hendak datang, mohon doakan kami. Itulah yang kami harapkan saat ini. Semoga acara seperti ini menjadi terakhir dalam hidup kami. Selain itu, kami juga mempertimbangkan psikologi anak-anak. Biarlah akad nikah dan resepsi besar untuk mereka nantinya.”

**

Tepat di hari pernikahan, keluarga dari kedua mempelai sudah berkumpul di kediaman Farah. Rumah itu dipadati banyak orang termasuk rekan dari kantornya, para sahabat, dan tetangga. Tepat pukul 10 lebih 14 menit, penghulu pun datang. Kedua mempelai tampak tenang. Farah terlihat cantik dengan kebaya putih. Begitu pula dengan calon suaminya. Dia memakai busana dengan warna hampir sama dengan busana Farah.

Setelah sedikit pembukaan, acara pokok, ijab kabul dilaksanakan. Disaksikan seluruh keluarga dan tamu undangan, serta anak mereka masing-masing, ijab kabul berjalan lancar. Semua prosesi dilalui tanpa ada hambatan. Seluruh keluarga mengucap syukur. Doa-doa pun dipanjatkan.

Farah dan suaminya mendapat ucapan selamat dari orang-orang yang memadati ruangan bercat soft itu. Mereka menyambut selamat dengan senyum bahagia.

Di sela-sela duduk sambil minum, tiba-tiba seorang kerabatnya berbisik pada Farah.

“Far, kok kamu pilih dia sebagai suamimu sekarang?”

Farah tersenyum. Diliriknya suaminya itu.

“Dia lah yang saya cari selama ini. Dalam setiap ngobrol, kami merasakan ada satu pemikiran, satu pemahaman. Status sosial bukan ukuran bagi kami. Insya Allah, kami punya niat yang sama melalui hari-hari kedepan sampai Tuhan memanggil “pulang”,” ucap Farah.

“Kamu pasti tahu bagaimana zaman ini. Banyak resepsi mewah, namun, tidak sejalan dengan kehidupan berumahtangga. Inilah yang kerap dilupakan pasangan muda. Bahkan tidak sedikit yang tidak siap menerimanya.”

“Dan kami sadar, masing-masing kami punya masa lalu itu. Namun, sudahlah. Kini, kami akan melangkah. Masa lalu itu tidak akan berpengaruh pada kehidupan kami kedepan. Kami percaya, masa depan masih ada. Itulah yang akan kami miliki,” pungkasnya sambil melihat ke arah suaminya yang ternyata seorang wiraswasta.***

Batam Centre
Februari 2019

— Fery Heriyanto, alumni Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Sekarang tercatat sebagai jurnalis di Kepri dan dosen paruh waktu (part time) di Politeknik Negeri Batam.***

(Visited 9 times, 1 visits today)