Warga Ruli Cunting Datangi Kantor Lurah Gegera Tak Ada Pemberitahuan Langsung Disuruh Kosongkan

Warga Ruli Kampung Cunting Jaya, RT 05/RW 01 kelurahan Tanjung Uncang, Batuaji mendatangi kantor lurah. DEDI/HALUAN KEPRI

BATUAJI (HK) — Warga Ruli Kampung Cunting Jaya, RT 05/RW 01 yang berada di kelurahan Tanjung Uncang, Batuaji mendatangi kantor lurah untuk menanyakan perihal penggusuran tempat tinggal mereka, Senin (8/4) sekitar pukul 09.30 WIB pagi.

Di kantor lurah, warga mengungkapkan kekesalannya serta kecewa disebabkan tak ada pemberitahuan awal terkait penggusuran rumah mereka. Tidak hanya tidak ada sosialisasi, tapi Surat Pemberitahuan (SP) I dan II tidak pernah diterima warga setempa.

“Tak ada pernah sosialisasi untuk pembebasan lahan bang. Mereka langsung main gusur aja,” kata Andi, warga sekitar.

Andi, selah seorang warga yang juga menjalankan usaha warungnya di lokasi tersebut, menuturkan penduduk di Kampung tersebut berjumlah kurang lebih 50 kepala keluarga (KK). “Sama sekali tak ada pemberitahuan untuk pembebasan lahan,” jelasnya.

Memang mereka datang ke warung, namun itu bukan sosialisasi akan tetapi hanya duduk-duduk saja. Yang parahnya lagi, ketua RW setempat dan Lurah Tanjung Uncang saja belum tahu adanya pembebasan lahan tersebut.

“Disana ada sebanyak 50 KK bang. Jadi sama sekali tak ada pemberitahuan kepada warga tentang pembebasan lahan tersebut. Dan memang orang itu datang kewarung tapi bukan sosilasisasi melainkan hanya duduk-duduk saja,” ujarnya pria yang ngaku sudah 20 tahunan buka usaha disana.

Diketahui jika lahan itu akan difungsikan untuk membangun hotel yang dikerjakan PT Sigma Aurora Property (SAB). Pihak perusahaan ngotot akan melakukan penggusuran dikarenakan sudah memiliki lahan nomor PL 218020210 tertanggal 24 Oktober 2018 silam.

Dalam surat pemberitahuan tersebut, pihak PT SAP meminta agar dikosongkan tertanggal 30 April 2019 dengan ganti rugi uang paku sebesar Rp3,5 juta untuk bangunan yang huni layak.

Yanto, warga lainnya juga mengaku kecewa atas tindakan pihak perusahaan yang belum ada sosialisasi. Malah mereka langsung memberikan surat SP 1 dan 2. Kemudian untuk ganti rugi yang disebutkan tidak akan diterima warga. Warga maunya ganti rugi modal usaha warga yang berdagang dipinggir jalan tersebut.

“Terus terang kami tak terima uang ganti rugi pak. Maunya kami separuh lah dari modal usaha kami. Lagian mau kemana kami pindah lagi sementara dari awal tak ada pemberitahuan adanya pembebasan lahan. Asal kasih surat pemberitahuan saja,” tegasnya Yanto yang juga tinggal 7 tahun itu.

Sementara Lurah Tanjung Uncang, Anwaruddin mengatakan, jikalau pihaknya hanya fasilitator saja untuk memediasi warga sekitar. Kemudian untuk tertanggal 30 April yang dibuat oleh pihak perusahaan itu hanya batas pembayaran uang paku jika sudah ada kesepakatan yang ada. Melainkan bukan digusur dulu.

Masih lanjutnya lagi, untuk pertemuan pihak perusahaan dengan warga masih ada. Bahkan masih dirundingkan lagi seperti apa permintaan warga sekitar.

“Masih dirundingkan lagi. Kemudian untuk tertanggal 30 April mendatang ini batas pembayaran uang paku. Bukan penggusurannya,” kata Anwaruddin.

Ditempat terpisah, pihak manajemen PT SAB yang sempat melakukan perundingan dengan warga belum berhasil diminta konfirmasinya. (ded)

(Visited 22 times, 1 visits today)