Banyak Petani Tak Punya Lahan – Fasilitasi Eks Tambang Bauksit Jadi Perkebunan

TANJUNGPINANG (HK)- Walikota Tanjungpinang, Syahrul akan memfasilitasi Kelompok Tani yang tidak mememiliki lahan untuk dapat menggunakan lahan bakas tambang bauksit.

Pinjam pakai lahan tersebut dilakukan untuk memotivasi dan mendorong para Kelompok Tani agar lebih berkembang.

“Jadi silahkan petani-petani yang tergabung dalam kelompok tani ini menyampaikan keinginan berkebun di lahan eks tambang bauksit mana. Nanti kita carikan pemiliknya dengan berkoordinasi bersama Lurah dan Camat setempat dan dinas terkait,” kata Syahrul, Senin (8/4).

Hal ini atas permintaan para petani Kota Tanjungpinang. Selain itu, juga banyak tanah kosong yang tidak bermanfaat. Bukan hal yang mustahil bertani di lahan bekas tambang bauksit, karena sudah ada buktinya menghasilkan berbagai komoditas pangan dengan kualitas perkebunannya sangat baik.

Sehingga dengan ini dapat diupayakan tanah kosong tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik, dari pada terbiar. Pinjam Pakai lahan ini akan disepakati dengan pemilik lahan berupa MoU minimal masa pinjamnya lima tahun.

“Artinya apa, kita berusaha supaya warga juga ikut dalam memanfaatkan tanah kosong. Kita boleh pinjam pakai lahan bekas tambang bauksit. Pemko melalui Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Tanjungpinang akan memfasilitasinya,” ujar Syahrul.

Sejauh ini, lanjut Syahrul, petani Tanjungpinang sedang bersemangat menjalankan usahanya dan bersinergi dengan DP3 Tanjungpinang dalam memajukan pertanian. Hasil taninya nanti diharapkan dapat mencukupi kebutuhan komoditas di masyarakat.

“Hasil pertanian dapat menekan harga di pasaran, terlebih lagi menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Tiap tahunnya pasti menjelang hari besar ini terjadi inflasi. Karena saat ini kebutuhan komoditas di Tanjungpinang masih
didatangkan dari luar kota,” jelas Syahrul.

Sementara itu, Kepala DP3 Tanjungpinang Raja Khairani juga mengatakan potensi petani Tanjungpinang sangat baik. Saat ini kelompok tani yang terdata sebanyak 23 kelompok dengan rata-rata mengolah lahan satu sampai tiga hektare dengan total sekitar 400-500 hektare.

Khairani menyampaikan, sejauh ini kendala yang dihadapi petani terkait lahan. Sebab, lahan yang digunakan saat ini banyak pinjam pakai.

“Saat ini kendala petani terkait lahan. Rata-rata mereka mengolah lahan pinjam pakai dan terbatas. Tapi, kita terus berupaya memfasilitasi agar petani terus bisa menggarap lahan yang ada,” ujarnya.

Dikatakannya, apabila para petani terus bergulir (bergantian tanam) bisa mencapai target 1.100 hektare jangka waktu 1 tahun.

Diakui Khairani, untuk mengelola lahan bekas tambang bauksit dari segi pembiayaannya lebih besar dari lahan yang biasanya. Dengan demikian, pihaknya terus melakukan pendampingan kepada para petani.

“Untuk mengubah Tanjungpinang menjadi kota yang tidak bergantung lagi dari luar itu sangat sulit. Namun untuk menekan inflasi lumayan bisa berperan, kita tidak mmberikan bantuan secara tunai kepada pera petani. Tapi kita bantu dengan pupuk bersubsidi dan melakukan pembinaan serta kita membantu untuk penyediaan alat,” pungkasnya.(rco)

(Visited 2 times, 1 visits today)