Bawaslu Investigasi Dugaan Adanya Sindikat Jual-Beli Suara di Malaysia

(internet)

(internet)

Bawaslu menegaskan akan melakukan investigasi adanya dugaan jual beli suara di Malaysia.

“Ya itu kan perlu pembuktian. Kami juga sudah mendapatkan laporan tentang hal ini, tentang jual-beli suara itu, dan kami memang akan melakukan investigasi juga untuk mengetahui kebenarannya,” ujar Komisioner Bawaslu, Ratna Dewi Pettalolo di KBRI Malaysia, Jumat (12/4/2019).

Ratna menyebut Bawaslu mendapat laporan dari masyarakat soal dugaan adanya sindikat jual-beli suara di Malaysia. Sejauh ini, laporan yang diterima soal adanya sindikat jual-beli suara baru di Malaysia.

“Yang ada (laporan) hanya di Malaysia,” ucapnya.

Soal adanya sindikat jual-beli suara disebut sudah sering terjadi sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Lantas mengapa baru ramai di Pemilu 2019?

“Ya karena saya baru kali ini terlibat di Bawaslu RI, saya mengetahuinya informasi yang sekarang ada,” jawab Ratna.

Menurutnya, laporan soal jual-beli suara di Malaysia masih merupakan informasi awal dan perlu ada penelusuran lebih lanjut. Investigasi diperlukan untuk mengetahui kebenarannya.

“Katanya ada seseorang datang menjanjikan, kalau mau mendapatkan suara dengan jumlah sekian, bisa melalui pembayaran. Ini kan hanya informasi awal, perlu dilakukan investigasi,” jelas Ratna.

Sebelumnya, Masinton yang merupakan anggota Komisi III DPR mengungkap ada sindikat khusus pileg di Malaysia. Ia mengaku juga sempat ditawari oleh sindikat surat suara pileg di Malaysia namun menolaknya.

“Di Malaysia ini perolehan suara caleg itu ditentukan oleh sindikat pemain surat suara. Mereka inilah yang melakukan transaksi jual-beli suara. Jadi besar-kecilnya perolehan suara caleg ditentukan kelompok sindikat tadi, ditentukan seberapa besar dia mampu membayar,” kata Masinton, Kamis (11/4).

“Setiap pemilu, ini sindikat yang memang bermain tiap pemilu legislatif. 15 ringgit, kira-kira Rp 45-50 ribu kalau dirupiahkan per satu suara. Dan itu sindikatnya melakukan coblos sendiri,” tambahnya.

Soal Pileg 2019, Masinton beberapa waktu lalu sebelum kasus surat suara tercoblos juga sempat mengungkap adanya indikasi kecurangan di Taiwan dan Malaysia. Informasi yang diterimanya, ada pejabat pemerintah Indonesia yang mengarahkan pemilih untuk memilih salah satu partai politik dan caleg tertentu.

“Saya dapat masukan, pejabat, baik di Taiwan maupun Malaysia, ada indikasi, di Taiwan tak ada hubungan diplomatik, yang ada Kantor Kamar Dagang dan Ekonomi Indonesia, itu mengarahkan ke calon tertentu. Apakah karena menterinya? Malaysia juga seperti itu,” ungkap Masinton pada 4 April lalu.

“Silakan teman-teman cek, duta besar punya anak nyalon di partai mana. Ini tidak boleh luput dari kita,” sambungnya.

Selain Masinton, Caleg PAN yang juga masuk di Dapil DKI II Eggi Sudjana jug mengungkap adanya sindikat jual-beli suara di Malaysia. Ia mengaku juga pernah ditawari.

“Ada penawaran ada. Dalam arti penawarannya itu dalam bentuk gelondongan ya. Misalnya 1 suara ada yang sebut pertama 20 ringgit, ada yang sebut 5 ringgit per satu suara. Minimal mesti dibeli 10 ribu, kalau 10 ribu suara kali 20 ringgit kan lumayan itu. Di atas 200 jutaan,” beber Eggi di kantor Bawaslu RI, hari ini. *

(sumber: detik.com)

(Visited 2 times, 1 visits today)