Kakanwil Kemenag Kepri: Da’i Diharapkan Punya Kemampuan Ilmu

Kakanwil Kemenag Kepri, Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA saat memberikan arahannya. (ist)

Kakanwil Kemenag Kepri, Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA saat memberikan arahannya. (ist)

Tanjungpinang (HK) – Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementrian Agama (Kemenag) Kepri, Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA, menyampaikan, dalam berdakwah, perlu kejelian dalam memilih materi. Kakanwil menganjurkan da’i dapat memilih tema sesuai dengan kondisi masyarakat. Sebab itu, da’i diharapkan memiliki kemampuan keilmuan, persuasi, debat, dan argumentatif.

Demikian hal itu dikatakan Kakanwil dalam arahannya, saat Kanwil Kemenag Provinsi Kepri melalui Bidang Bimas Islam menyelenggarakan kegiatan Pengkaderan Calon Mubaligh di lingkungan Kemenag Kepri tahun 2019 yang diselenggarakan di Hotel Conforta Tanjungpinang. Acara yang mengambil tema “Dengan pengkaderan calon mubaligh kita tingkatkan kualitas da’i Provinsi Kepri” itu digelar pada 22 – 24 April 2019.

“Setelah ini saya minta dapat terbentuk ikatan da’i yang mewadahi peserta yang ikut dalam kegiatan ini sehingga bisa selalu bertukar pikiran dalam jalan dakwah,” kata Kakanwil.

Pengalamannya yang panjang dalam jalan dakwah dibagikan kepada peserta agar para da’i muda Kepri tidak menemui kendala.

Yang istimewa dari pelaksanaan kegiatan pengkaderan tersebut adalah hadirnya presenter, da’i dan seniman asal Jakarta, Agus Idwar Jumhadi yang diundang untuk memberikan motivasi.

Agus Idwar menyebutkan mubaligh adalah muslim yang mampu berbicara di depan umum dengan bahasa yang indah dan menyejukkan. Da’i adalah seorang muslim yang dia belum tentu bisa berbicara dengan baik tetapi dia mampu mengajak orang supaya menjadi baik.

“Era milenial adalah eranya youtube dan media sosial, sehingga radio, tv, koran pengaruhnya mulai berkurang,” kata Agus.

“Obrolan dan kontak fisik kini sudah berkurang, karena berganti menjadi obrolan di medsos. Yang harus dipahami adalah karakter era milenial yang mempengaruhi generasinya. Mereka menjadi lebih suka instan, konsumtif, praktis, bosenan, groupies, kritis, selfis, gadgeters, dan cuek,” katanya.

Agus yang sering menjadi presenter acara dakwah di televisi nasional itu mengatatakan misi muballigh adalah untuk menyempurnakan akhlak.

Kegiatan yang diikuti oleh 30 peserta dari seluruh Kepri itu terdiri dari mubaligh muda dengan usia dibawah 35 tahun. (fhy/r)

(Visited 3 times, 1 visits today)