Mengapa Turki Identik dengan Kota Kebab?

(internet)

(internet)

Turki sangat identik dengan kebab, khususnya Istanbul. Kota itu menghubungkan dua benua, yakni Eropa dan Asia. Tabrakan budaya yang dibawa ke Istanbul oleh para imigran dari berbagai negara seperti Eropa Timur, Afrika Utara, dan Timur Tengah telah menjelma dalam kuliner unik itu.

Istanbul disebut sebagai kota kebab bukan tanpa alasan. Kota itu mungkin menjadi satu-satunya tempat di Turki di mana kita dapat mencicipi beragam varian kebab, dari berbagai penjuru negeri.

“Kita dapat mengelilingi Istanbul hanya dengan makan kebab, dan (secara otomatis) telah merasakan setiap wilayah di Turki,” kata Ansel Mullins, mengutip CNN pada Senin (6/5/2019).

Hal itu menurutnya karena di Istanbul terdapat orang-orang dari berbagai penjuru Turki.

“(Mereka) didorong alasan ekonomi, atau untuk menghindari tempat bahaya pada dekade sebelumnya,” kata Mullins yang merupakan seorang penulis sekaligus pendiri Culinary Backstreet, perusahaan wisata kuliner.

“Orang-orang berakhir di Istanbul, dan menurut saya salah satu penanda budaya mereka muncul di piring,” imbuhnya.

Beragam Jenis Kebab

Dari wilayah yang satu ke yang lain, banyak sekali perbedaan dalam makanan tradisional Turki, tak terkecuali kebab. Di beberapa negara Barat, kebab mungkin identik berisi daging. Namun, Turki memiliki caranya sendiri untuk mendefinisikan makanan unik itu.

Di Negeri Attaturk, kebab dapat disajikan bersama apa saja. Bisa jadi ikan atau sejenisnya yang dibakar langsung pada api.

Beberapa kebab yang terkenal di Turki adalah Döner Kebab yang secara harfiah berarti kebab yang berputar dan Kebab Shish.

Sementara itu, wilayah Kadinlar Pazari di Distrik Fatih dikenal dengan kebab Buryan.

Kebab Daging Domba

Kebab Buryan dibuat dengan daging domba yang dimasak di atas batu bara.

Banyak orang mengidamkan Buryan khususnya yang bergaya Siirt. Konon, kebab Buryan terbaik dapat ditemukan di restoral lokal bernama Siirt Seref.

“Saya pikir tempat ini (Istanbul) adalah representasi banyak kota,” kata Mullins. Ia menambahkan bahwa makanan tradisional seperti kebab menjadi bukti berbagai keluarga yang datang dari tempat jauh untuk melestarikan budayanya.

“Namun di waktu yang sama, membaur dengan atmosfer perkotaan Istanbul,” imbuhnya.*

(sumber: liputan6.com)

(Visited 2 times, 1 visits today)