Menjemput Kemenangan

H. Muhammad Nasir

H. Muhammad Nasir

Oleh: H. Muhammad Nasir.S.Ag. MH, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lingga

Perjalanan Ramadhan telah mengantarkan kita pada suasana kerinduan batin dan kesyahduan jiwa akan nilai-nilai taqwa sebagai hasil rangkaian ibadah Ramadhan. Tahapan demi tahapan telah kita lalui , walaupun ibadah yang kita lakukan masih menyisihkan berbagai kekurangan dan kelemahan. Namun, kita yakin Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang tidak akan membiarkan hambanya yang telah bersungguh-sungguh meraih kemenangan disisi-Nya.

Ramadhan telah merajut batin kita dengan kesucian jiwa bertahtakan cinta yang tinggi dihadapan Allah SWT. Cinta itu telah bersemayam di hati kita yang tulus yang selalu merindu ketika merasa sunyi dan sepi. Dengan puasa Ramadhan hamba Allah telah membangun mahligai kebahagiaan kasih Sayang Sang Khaliq yang pemilik segalanya. Ibadah Ramadhan mengantarkan hati kita selalu dekat bersama Dia Yang Maha dekat.

Alangkah menyejukkan dan nikmatnya cinta Ilahi. Dan alangkan indahnya hidup berlimpah cahaya Ilahi. Kebahagiaan yang selalu diliputi kerinduan pada-Nya. Dengan demikian, kebahagiaan tidak terletak pada jabatan , statur sosial dan tidak pada kekayaan dunia yang fana ini. Tidak terletak pada makanan yang enak, atau pakaian yang indah-indah, minuman yang lezat atau kemewahan lainnya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, melukiskan bahwa cinta merupakan santapan hati, makanan hati dan kesenangannya. Cinta merupakan kehidupan, sehingga orang yang tidak memilikinya seperti orang mati. Cinta adalah ruh iman dan amal, kedudukan dan keadaan, yang jika cinta ini tidak ada di sana, maka tidak ubahnya jasad tanpa ruh. Cinta melahirkan rasa syukur dan kedamaian hati, dan ulama kita menyebut dengan ith-mi’nan, yaitu berserah diri dengan damai dalam kehendak Allah SWT.

Hati kita memiliki peran penting, mrngendalikan seluruh gerak. Karena itu, kita harus terus-menerus menjaga dan memelihara kejernihannya, dengan senantiasa menumbuhkan kekuatan iman di dalamnya. Inilah yang kita pupuk dan kita jaga selama Ramadhan. Rasa cinta di hati sebagai akibat Ibadah Ramadhan merupakan bagian dari karunia Allah SWT yang tidak terhingga. Dengan cinta kita hidup, dengan cinta kita dijemput kembali oleh Allah SWT.

Dalam hidup ini, Kalau saja Allah SWT tidak memberikan anugerah cinta, niscaya alam semesta telah musnah karena ulah manusia. Cinta sebagai Rahmat Allah menyebabkan hidup terasa berbunga, merajut kehidupan menjadi indah, harmonis dan berdenyut kedamaian. Sebaliknya, tatkala cinta telah bertukar dengan benci dan dendam, maka malapetaka dan kesengsaraan akan menggelegak, membakar penuh angkara dan pada akhirnya akan memusnahkan manusia itu sendiri. Bahkan kalau kita amati dengan saksama, sesungguhnya Rahmat dan cinta Ilahi lebih dominan dilimpahkan kepada manusia, sebagaimana Firman-Nya dalam Qs 40: 7, yang artinya, “Malaikat-malaikat yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.(QS Al-Mukmin: 7).

Dalam Ramadhan, seluruh amalan yang kita persembahkan, baik siyamu Ramadhan maupun Kiyamu Ramadhan, bukan karena mengharapkan imbalan duniawi tetapi mengharapkan cinta Ilahirabbi. Ramadhan melatih kita untuk mencintai Allah dan rasulnya, buah dari latihan inilah yang akan melahirkan cinta-Nya, kita cinta kepada Allah dan Allah pun cinta kepada kita.

Pada pengujung Ramadhan nanti, kita jemput Idul Fitri yang agung, yang senantiasa kita tunggu dengan hati bahagia dan damai. Kebahagiaan dan kedamaian yang kita rasakan merupakan hasil perjuangan bathin dalam meniti ibadah Ramadhan. Banyak kemenangan yang kita dapatkan, diantaranya kita mendapatkan pendidikan dan latihan cara hidup sederhana dan bersahaja. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Hidup sederhana adalah menikmati hidup dalam perasaan empati, merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sungguh kerinduan apa gerangan yang paling didamba, kecuali rindu mereguk uswatun hasanah, meneladani hidup sederhana sebagaimana dicontohkan al-Mustafa Rasulullah SAW. Dengan hati bergetar penuh empati, beliau penuhi undangan para dhua’fa. Dengan getaran cinta, ia belai rambut anak-anak yatim. Sikapnya yang welas asih pada semua mahkluk telah diabadikan para penempuh jalan. Tutur katanya bagaikan tetesan salju yang menyelusup kalbu menyejukkan.

Masihkah terdengar pesan indah Rasulullah SAW, “Sesungguhnya umatku akan selalu dalam kemenangan, selama mereka mau makan setelah lapar, berhenti sebelum kenyang”.

Sabda Rasulullah SAW, mengingatkan kita agar pelatihan dan pendidikan iman selama Ramadhan menjadikan diri kita mampu menguasai diri secara lahir dan bathin. Hidup sederhana bukanlah miskin, belajar lapar bukanlah kelaparan. Bagi orang yang merindukan Rasul, ia merasakan kebahagiaan luar biasa bila mampu meneladani sikap hidup Rasulullah SAW. Menampilkan manusia istiqamah. Manusia tangguh memiliki ghirah. Kaya pengalaman, tetapi sederhana dalam penampilan. Ia jadikan sifat sabar menjadi bentengnya. Taqwa adalah pakaiannya, menyantuni kaum dhu’afa adalah syiarnya. Dzikir hiyasan hidupnya dan menggapai ridha Ilahi adalah tujuannya.

Ramadhan mendidik kita melalui amalan-amalan yang dapat mempengaruhi hidup kita. Kita sedang berada disini. Untuk itu, kita mesti menjadi orang yang lebih baik dari hari-hari yang lalu. Manusia memiliki dua potensi besar yaitu potensi fikir dan zikir. Kedua potensi ini telah kita asah seperti pisau agar berkilau dan tajam untuk memotong apapun. Apabila pisau zikir dan fikir kita tajam sudah barang tentu akan mempengaruhi sikap dan kepribadian. Sikap inilah yang akan membangun budaya nyata kehidupan manusia sebagai akibat dari fikir dan zikir tersebut. Manusia berkarya dan berbudaya karena fikirannya dan manusia bertaqwa dan beribadah karena zikirnya. Dari budaya fikir dan zikir akan melahirkan tatanan dunia baru yang lebih baik, maka jika kita lihat saat ini apa yang telah dihasilkan oleh potensi fikir dan zikir manusia?

Sayangnya, apa yang kita saksikan sekarang, peranan zikir dan cinta ilahiyah kurang dominan mempengaruhi dunia manusia sehingga kita saksikan betapa gersangnya kehidupan, karena seluruh tatanan kehidupan di dasarkan pada rasio belaka.

Oleh sebab itu, setiap peribadi muslim yang telah melaksanakan ibadah Ramadhan akan lebih mampu mengembangkan dan mematangkan emosi keagamaannya. Sehingga dalam setiap pori-pori darah kita mengalir sebuah rasa tanggung jawab yang sangat mendalam akan makna kehidupan ini. Maka sekaranglah saatnya untuk mempengaruhi dunia, setidaknya dunia mini yang terlahir dari seluruh fikir dan zikir kita. Warnailah lingkungan sekitar kita dengan penuh cinta dan kerinduan, karena dihati kita ada kesadaran baru. Bahwa hidup bukanlah hanya sekedar ada, menjadi pajangan atau interior pergaulan tetapi hidup harus tampil sebagai pengubah yang dinamis, yang terus berproses untuk bicoming. Sekali hidup penuh arti. Dengan demikian hidup akan terasa indah karena Allah Yang Maha Indah telah menaburkan rahmat-Nya kepada kita semua.

Apabila kehidupan terasa indah, seluruh gerak langkah menjadi ibadah, seluruh dosa dan salah telah diampuni Yang Kuasa, itu bertanda kita kembali kepada fitrah, suci dan tanpa dosa. Itulah kemenangan. Itulah kebahagiaan titik terindah dari kesucian Ramadhan. Mari raih kemenangan itu, yaitu sa’at Idul Fitri. Wallahu a’lam bissawab.*