Masjid Kesultanan Ternate, 4 Muazin Kumandangkan Azan

(internet)

(internet)

Masjid Kesultanan Ternate atau Sigi Lamo merupakan warisan harta kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Selain menjadi saksi bisu sejarah perkembangan Islam di Nusantara awal abad ke- 17, masjid ini mempertahankan keunikannya.

Tradisi unik itu, diantaranya melakukan kumandang azan oleh empat muazin sekaligus. Nah bagi para pengunjung yang baru pertama kali salat Jumat atau momen besar di masjid itu dipastikan bakal tercengang bila menyaksikan para muazinnya melantunkan azan di waktu memasuki waktu salat.

Kumandang azan yang diterapkan di Masjid Kesultanan Ternate memiliki filosofi tersendiri dalam syariat Islam dan hukum adat yang telah turun temurun diwarisi leluhur dari generasi-ke generasi di Ternate.

Imam Besar Masjid Kesultanan Ternate atau Jou Kalem, Ridwan Dero menjelaskan bahwa empat muazin yang melakukan azan merupakan perwakilan muazin empat masjid adat yang ada di Ternate.

“Dahulu selain Kesultanan Ternate, ada tiga masjid adat, di antaranya Masjid Sultan Ternate, Masjid Heku, Sigi Lamo Cim dan Langgar Koloncucu,” ucap Ridwan.

Dia menjelaskan, pada hari Jumat maupun hari besar, para jamaah di tiga masjid tersebut datang melaksanakan salat di Masjid Kesultanan Ternate, yang terletak di Jalan Sultan Khairun, Kelurahan Soa-Sio, Kecamatan Ternate Utara. Oleh sebab itu, para muazin masing-masing masjid menunjuk pihak masjid besar (Sigi Lamo) Kesultanan Ternate untuk mengumandangkan azan secara bersamaan.

“Secara gabungan azan dilakukan di hari Jumat dan hari-hari besar. Kalau hari biasa, cukup satu muazin,” ujarnya.

Empat muazin tersebut, kata Ridwan, memiliki filosofi empat sahabat Rasullulah, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Selain itu, filosofi lainnya, yakni empat Mazhab Fikih Ahlus-Sunnah Wal Jamaah, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali .

“Muazin ini diangkat oleh Sultan Ternate melalui pengesahan Jou Kalem, kreterianya tidak boleh keluar dari syariat Islam. Berpengetahuan Alquran dan suara merdu. Jadi tidak sembarangan orang yang bisa azan di Masjid Kesultanan Ternate,” tutur Ridwan.

Bila masuk waktu salat, belasan anggota dewan keagamaan (bobato akhirat) akan keluar masjid menuju kadaton Kesultanan Ternate untuk melaporkan pihak kadaton, terutama Sultan Ternate bila waktu salat akan segera dimulai.

“Dari laporan tersebut, bila Sultan hendak melakukan ibadah atau dinamakan Uci Sabea maka belasan bobato akhirat tersebut akan kembali melaporkan ke Imam Besar masjid dan dipersiapkan seluruh shaf, mihrab, kesiapan muazin untuk melaksanakan salat berjamaah,” ujar Ridwan.*

(sumber: viva.co.id)

(Visited 1 times, 1 visits today)