Melestarian Pendidikan Ramadhan dan Idul Fitri

H. M Nasir

H. M Nasir

Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

Selama satu bulan kita berada dalam suasana hening dan khusu’ menikmati lembutnya dekapan Ramadhan dengan seluruh rangkaian amaliyahnya yang kita persembahkan kepada Sang Khaliq pencipta segalanya. Kita telah berusaha memisahkan dan bahkan telah menjauhkan hiruk pikuk dunia dalam suasana bathin kita yang terdalam sehingga terasa hidup ini indah, nikmat, dan nyaman.

Ramadhan adalah bulan dekonstruksi kemapanan hidup yang cenderung pengap dan terkontaminasi selama 11 bulan sebelumnya. Lalu kita rekonstruksi ulang untuk merevitalisasi kefitrian kita. Melalui ibadah Ramadhan diharapkan berlangsung sebuah tranformasi diri dan sosial, sebuah gerak sentripetal, yaitu menyatunya orientasi hidup antara ukhrawi oriented dan duniawi oriented yang semula terkeping-keping lalu menjadi utuh karena diikat oleh kesadaran bathin dan sikap pasrah total kepada Allah SWT.

Salah satu pesan Ramadhan ialah untuk menghayati doktrin suci Agama bahwa Allah itu dekat yang selalu mengawasi dan membimbing serta melindungi setiap hamba-Nya yang bermohon kepada-Nya. Melalui ibadah puasa, seseorang diajak menghayati harkat kemerdekaanya dan menyadari bahwa manusia pada dasanya makhluk yang bermoral yang selalu mendambakan akhlak mulia serta ingin selalu memegang amanah.

Dengan menghayati harkat kemerdekaannya itu, perbuatan baik yang dilakukannya sama sekali bukan karena mengharap pujian dari orang lain, tetapi semata-mata karena setia pada hati nurani dan malu kepada Allah SWT. Karenanya Rasulullah SAW selalu menekankan bahwa puasa itu urusan seseorang dengan Tuhannya, dan tidak ada hak orang lain untuk melakukan intervensi dan inspeksi apakah seseorang tengah berpuasa atau tidak. Ini dimaksudkan sebagai cara Allah SWT agar lewat puasa seseorang mukmin terlatih untuk selalu bersifat jujur dan memiliki rasa malu sehingga nuraninya akan terampil menjadi hakim jika dirinya melakukan perbuatan dosa.

Pendidikan Ramadhan mengajarkan sikap pengendalian dan menahan diri dari perbuatan dosa yang akan menggorogoti bathin atau nurani kita. Pendidikan dan latihan penyucian ruhani itu telah kita lakukan dengan baik walaupun masih belum sempurna adanya. Kita telah berusaha mensucikan diri selama Ramadhan. Kita sudah berusaha membendung segala tindak dan perilaku kita dari dosa dan maksiat Sebab itulah Allah swt mengingatkan kita dalam QS. Al-Baqarah ayat 188, yang artinya, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah 188).

Ayat tersebut menuntun kita bahwa setelah kita sucikan diri dengan berbagai ibadah Ramadhan jangan kita kotori lagi dengan memakan harta haram dan dosa lainnya yang menghancurkan kesucian nurani kita. Untuk itu kita mesti menahan diri secara sungguh-sungguh agar tidak tergoda oleh kenikmatan sesaat yang akan menghancurkan aset dan sumber kebahagiaan sejati dimasa mendatang. Sebab ketidak mampuan kita menahan diri merupakan akar dari krisis sosial dan moral yang menimpa bangsa kita hari ini yang secara nyata telah melahirkan pola hidup baru yaitu gaya hidup hedonistis, berjangka pendek dan materialistik sebagaimana yang kita rasakan.

Muara ibadah Ramadhan baik itu puasa ataupun ibadah lainnya seperti sholat, zakat, infaq dan sodaqah harus bisa dirasakan oleh sesama manusia, antara lain komitmen untuk menegakkan etika sosial dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari kita. Sehingga agenda besar yang ingin dicapai oleh pesan Ramadhan yaitu agar kita menumbuhkan amal-amal sosial melalui etos kerja keras dan etos memberi. Sekali lagi, salah satu penyebab krisis bangsa kita ini adalah karena working and giving ethos dikalahkan oleh konsumming and begging ethos. Yaitu gaya hidup konsumerisme yang ditopang oleh mental meminta-minta, bukannya oleh tradisi kerja keras.

Sebuah masyarakat yang baik adalah sebuah masyarakat yang mampu menahan diri dari sifat konsumtif, namun tetap memelihara etos kerja produktif seraya menumbuhkan solidaritas sosial Dengan hal itu nilai hasil ibadah selama Ramadhan secara kontinuitas berlanjut diluar Ramadhan. Ini berarti bahwa korelasi antara ibadah Ramadhan dan tindakan praksis dirasakan nyata. Untuk itulah ibadah Sholat yang kita lakukan merupakan kesadaran vertikal-spiritual dan aksi sosial yang disimbolisasikan dengan ucapan takbir di awal sholat dan di akhiri dengan salam, merupakan bahasa performatif dan deklaratif bahwa setiap muslim yang selalu menegakkan shalat baru akan bernilai dan bermakna shalatnya kalau ditunjukan dengan sikap kepedulian sosial secara nyata. Dan begitupun dengan ibadah puasa yang merupakan wujud ketaatan kepada Allah SWT, namun efeknya harus bermanfaat bagi manusia sehingga di penghujung Ramadhan ditutup dengan mengeluarkan zakat fitrah serta mendirikan sholat berjamaah dan ma’af mema’afkan sembari memperbanyak takbir dan tahmid menyambut hari kemenangan Idhul Fitri.

Ibadah Ramadhan juga telah mendidik ruhani dan bathin kita untuk menghilangkan sifat egoisme dan bakhil atau kikir. Egois merupakan pola hidup dalam bingkai diri sendiri yang merupakan penyakit modernisasi dan globalisasi yang tak terhindari saat ini. Akibatnya kedamaian jiwa dan ketenangan batin sering kali direngkuh dan setiap orang selalu berfikir untuk keuntungan pribadi.

Hidup yang hanya memikirkan diri sendiri paling tidak akan menimbulkan akhlaq buruk, yaitu rakus, tamak dan bakhil. Karena dirinya selalu merasa kekurangan, tidak pernah merasa puas, akhirnya sifat Qana’ah tidak pernah bersemayam dalam hatinya.

Ibadah Ramadhan mengajak orang yang beriman kepada tiga hal penting, pertama, kita diajak untuk menghayati ke-Maha hadiran Allah swt dalam hidup, sehingga dimanapun dan kapanpun kita sanggup menahan diri untuk tidak makan dan minum , meskipun lapar dan haus , semata-mata kepasrahan kita kepada-Nya. Kedua, Dengan kesanggupan menunda kenikmatan jasmani yang bersifat sesaat, sesungguhnya kita tengah melakukan investasi kenikmatan yang lebih agung dan sejati di hari depan (akhirat). Ketiga, disamping puasa mengajarkan berpandangan ke masa depan, puasa juga mengajarkan kita untuk menumbuhkan dan mempertajam kepekaan sosial, yaitu berbagi rasa dan berempati dengan derita orang lain.

Dengan demikian Ramadhan menjadi bulan dimana kita mempersiapkan diri lahir dan batin, terutama untuk menjalani sisa hidup kita pada 11 bulan yang akan datang yang tercermin dalam perilaku hidup yang sesungguhnya bukan hidup yang fatamorgana. Inilah buah Ramadhan yang mesti kita petik sehingga dalam menyongsong Idul Fitri kita benar-benar siap jasmaniah maupun ruhaniyah. *

(Visited 40 times, 1 visits today)