fery heriyanto

fery heriyanto

Cerpen: Fery Heriyanto

Setelah 22 tahun tak berjumpa, tiba-tiba kami kembali berkomunikasi. Bukan tatap muka, tapi via media sosial. Dengan gembira dia menyapa aku. Menanyakan apakah aku masih ingat dia. Dengan cepat aku jawab, aku tak pernah melupakan dia.

“Syukurlah kamu masih ingat aku,” tulisnya dalam chatt kami.

Dalam waktu singkat, percakapan kami mengalir. Dan bermacam pertanyaan serta jawaban kami sampaikan. Kami saling memberi informasi tentang keluarga masing-masing, tentang anak-anak, aktifitas, apakah masih sering pulang ke kampung halamanku, hingga berbagi nomor telepon.

Perjumpaan itu sebuah kejutan. Soalnya, selama ini dia seolah menyepi. Padahal di tengah dunia digital sekarang, hampir semua orang terhubung lewat media sosial. Tapi, dia tidak. Diakuinya, sebelumnya dia tidak hobi ber-media sosial.

“Tapi, saat banyak yang tanya media sosial aku, akhirnya aku buat akun sendiri. Eh, nggak tahunya kita jumpa disini. Juga teman- teman yang lain,” ujarnya bercerita.

Usai chatt pertama itu, seketika terbayang bagaimana ketika kami berpisah di terminal bis usai tamat sekolah. Kala itu, dia dan keluarganya memutuskan kembali ke kampung halamannya. Saat dia pergi, aku bagai kehilangan. Soalnya, kala sekolah, minimal, sekali sepekan aku selalu main ke rumahnya. Walaupun cukup jauh, tapi, aku selalu sempatkan berkunjung. Padahal setiap hari di sekolah kami selalu jumpa. Namun, jika ke rumahnya, ngobrol kami lebih nyaman, apalagi di teras rumah dia.

Saat dia pindah, aku tahu aku tidak akan pernah lagi main ke rumahnya. Tak akan pernah lagi ngobrol lama dengan dia. Dan tidak akan ada lagi teh manis buatannya di meja kecil teras rumah.

Mut, itu sapaan akrab aku pada dia. Sapaan yang jauh dari nama pemberian orang tuanya. Mut, akhir kata “Imut”. Hanya aku yang menyapanya dengan kata itu. Dia tak marah. Malah senang. Bahkan dia pernah berkata, “Jika ada yang tanya ‘Mut’, itu pasti kamu,” ucapnya suatu kali.

***

Saat sekolah, kami berteman baik. Dengan keluarganya, terutama ibu dan bapaknya, aku dekat. Kalau ada acara di sekolah, ibunya selalu berpesan agar menjaga Mut. Kepercayaan ibunya pada ku sangat penuh. Karena itu pula aku sangat menghormati ibunya. Namun, saat Mut memberitahu ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu, aku sedih.

“Dulu, saat mama masih hidup, beliau kerap sebut-sebut nama kamu,” ucapnya dalam suatu percakapan kami.

“Dan, mama juga pernah merekomendasikan kamu. Namun, kamu tak ada kabar. Cukup lama kamu tidak berkirim kabar,” ujarnya lagi.

Ucapan Mut terasa menusuk dadaku. “Kenapa baru sekarang dia sampaikan itu,” ucapku dalam hati.

“Kepercayaan mama itulah yang saya jaga, Mut.”

“Ya, aku tahu. Tapi, lama kamu tidak memberi kabar berita. Seandainya komunikasi kita lancar usai tamat sekolah, mungkin sejarah akan berbeda. Aku tahu siapa kamu. Kita akan awet,” paparnya lagi.

Jantungku berdegup kencang mendengar ucapan Mut. Tak pernah-pernah dia ngomong seperti itu. Biasanya dia lebih banyak bercakap dalam bahasa yang normatif. Tapi kali ini tidak. Aku sampai terdiam beberapa saat.

“Kapan kamu main kemari?” tanyanya lagi.
“Insya Allah, jika ada waktu, saya akan kesana.”
“Mainlah kemari, Bapak juga kerap menanyakan kamu,” timpalnya.
“Ya, Mut. Salam untuk beliau ya. Semoga beliau sehat-sehat. Jika saya kesana, akan saya kabari segera.”
“Ya, usahakanlah kemari. Nanti aku bikinin kue. Kamu pasti suka,” ujarnya lagi.
“Wah, pasti enak jika kamu yang membuatnya,” balasku.
“Sudah pastilah. Aku tahu, apa yang aku buat, kamu selalu suka.”

***

Awal bulan, pimpinan di kantor memberi kabar jika ada undangan dari organisasi perusahaan kami. Aku diminta untuk mewakili managemen dalam acara tersebut.

“Pesawat langsung ke sana tidak ada. Nanti transit di Jakarta,” ucap pimpinan.

“Baik, Pak.”

“Oya, di Jakarta nanti ada rekan kita yang juga hendak kesana. Tiket ke kota acara sudah beliau booking-kan.”

“Siap, Pak.”

Sore saat pulang, aku berpikir perjalanan tugas ini bisa menjadi kesempatan silaturrahmi dengan Mut dan keluarganya. Siang esoknya, aku kabari dia jika aku dapat tugas dan ada waktu mampir ke Jakarta.

Dia senang mendengar kabar itu.

“Mampir ke rumah ya. Nanti aku beritahu bapak,” ucapnya dari ujung telepon.

Sehari sebelum berangkat, Mut kembali mengonfirmasi keberangkatanku.

“Ya, besok saya naik pesawat pagi. Transit sebentar, langsung berangkat dengan rekan yang menunggu di bandara Jakarta. Setelah acara dua hari, saat balek, saya main ke rumah,” jelas ku. Dia sambut gembira dan berpesan agar aku baik-baik di jalan. Malam setelah acara selesai, aku kembali mengabari Mut.

“Aku tunggu di rumah ya. Bapak sudah aku beritahu. Beliau pengen sekali jumpa kamu,” ucapnya.

Pagi-pagi aku bergegas menuju bandara. Saat akan menonaktifkan handphone, tiba-tiba ada WA dari Mut.

“…Maaf, aku harus mendampingi suami pagi ini. Mungkin sekitar 3 hari kami disana. Aku mohon maaf tak bisa menunggu kamu…Maafkan aku ya…”

Aku menghela nafas. Sejenak terdiam. Dalam penerbangan aku berpikir untuk langsung melanjutkan perjalanan pulang. Tidak jadi mampir ke rumah dia.

Pada rekan yang sama berangkat, aku sampaikan jika aku langsung pulang. Dia pun menawarkan untuk belikan tiket di Bandara Jakarta. Namun, saat handphone aku aktif ketika tiba di Bandara Jakarta, tiba-tiba ada WA dari Mut.

“Jika kamu transit di Jakarta, aku tunggu di pintu kedatangan,” pesannya.
Aku kaget.
“Mut, dimana?”
“Aku di pintu kedatangan,” jawabnya singkat.
Benar saja, dia menunggu disana.
“Kok disini? Bukannya ada acara?” tanyaku setengah tak percaya.
“Aku tak enak. Aku sudah janji. Aku juga pengen jumpa kamu. Aku minta izin sebentar,” ucapnya buru-buru sambil menjabat tanganku dengan erat.
“Lama kita yang jumpa. Apa kabar kamu? Kamu tidak berubah dan tampak sehat,” katanya lagi. Rasa gembira terpancar di wajahnya.
Tak sampai lima menit kami ngobrol, dia langsung pamit.
“Ini aku buatkan kue untuk kamu. Dimakan ya. Bapak titip salam. Nanti jika ada waktu, main lagi kemari. Aku janji, akan tunggu kamu di rumah.”
Dia tatap aku dalam-dalam.
“Kamu sehat-sehat ya,” ujarnya lagi sambil menjabat erat tanganku untuk beberapa saat. “Baik-baik di jalan.”
Sejurus kemudian dia bergegas menuju tempat parkir. Aku pandangi dia hingga masuk mobil.

***

Dalam pesawat, aku terus ingat Mut. Setelah lebih 22 tahun tak jumpa, akhirnya bisa bertatapmuka sekitar lima menit. Tiba-tiba aku ingat bingkisan yang diberinya. Saat kubuka, ada secarik kertas.

“…maafkan aku ya. Aku tahu kamu ingin jumpa aku dan ngobrol banyak. Kita tak kuasa atas rencana kita. Tapi percayalah, aku juga ingin jumpa dan ngobrol banyak seperti saat sekolah dulu..Oya, ini kue buatan aku. Dimakan ya..Sampai di kota mu, kabari aku ya..Semoga kita diberi waktu untuk jumpa lagi…”

Wajahnya menari-nari di kepalaku.

“Mut..Mut…”

***

Batam Centre,
Ramadhan 1440 H/2019 M

  • Fery Heriyanto, alumni Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Mantan anggota Teater ‘O’ USU Medan. Sekarang jurnalis di Kepri.***
(Visited 62 times, 1 visits today)