Maaf yang tak Bersambut

Zaid, ST

Zaid, ST

Cerpen: Zaid, ST 

Tidak terasa Ramadhan sudah di pengujung. Berita mudik di TV sudah hampir setiap menit tayang mengisi ruang penglihatan para pemirsa. Mulai dari berita tiket penumpang yang habis terjual hingga adanya tiket gratis dari Pemerintah.

Kabar mudik ini menjadi penghibur dan bualan jelang berangkat tidur dan menanti waktu sahur bagi Cik Atan sekeluarga. Pasal, anak nomor dua kebanggaannya, si Awang, pada Ramadhan ke-dua mengabarkan akan pulang kampong bersama keluarga kecilnya.

Malam makin larut. Cik Atan dan Cik Timah masuk ke kamar untuk berangkat tidur.

“Besok, kalau malam Raye, kite masak ketupat dengan sambal lengkong, ye, Bang,” ucap Mak Timah kepada Cik Atan, suaminya, sambil membalikkan badan di bantal yang sudah lusuh dan tanpa sampul itu.

“Nanti, Abang ajaklah Roni manjat pokok belimbing madu di belakang rumah Tok Seman. Pasti cucu kite suke tu, Bang,” ucapnya sambil berkhayal dengan ketawa kecil tanpa terasa air matanya mengalir pelan.

“Ye lah, besok Abang julang cucu kite tu, ye Dek,” timpal Cik Atan sambil mencabut jenggotnya yang mulai jarang dan putih beruban karena menua.

“Abang nak buatkan leletop bentuk pistol, biar cucu kita suka dan tak merengek kalo si Mawar bantu awak masak ketupat nanti,” ucap Cik Atan.

**

Atok dan Nenek tidur pulas dan terjaga setelah mendengar bunyi alarm sahur. Usai mencuci muka dan mengambil wudhu, Cik Atan dan Cik Timah shalat tahajjud. Entah apa yang menjadi munajatnya di 10 hari akhir Bulan Ramadhan tahun ini.

Usai tahajjud, Cik Timah dengan sigap dan cekatan menyusun piring, gelas, dan mangkok menyediakan lauk pauk yang sudah disiapkan sebelum tidur untuk santapan sahur.

“Bang, dah siap ni, ayo kita sahur,” panggil Cik Timah kepada suaminya yang sedang menambah sambungan tadarus Qur’an-nya yang hampir khatam.

“Ya, sebentar, sedikit lagi ni sampai ‘ain,” sahut Cik Atan.

Menutup Qur’an dan melipatkan sajadah, Cik Atan langsung ke dapur menuju meja makan.

“Wah, sedapnya lauk sahur kita subuh ni,” puji Cik Atan.

Dengan wajahnya yang khas, Cik Timah menyambut pujian dari sang suami.

“Ada ada aja, Abang ni. Ini saya coba buat sambal lengkong kesukaan Awang. Saya sengaja buat lebih awal, biar abang dapat rasa mane rempah atau rasa yang masih kurang. Kalau asin, garam saya kurangkan, kalau kurang manis, gula saya tambahkan,” ungkap Cik Timah, sambil sesekali mengusap mata dengan lengan baju kirinya yang terbuat dari kain katun berwarna abu-abu.

“Biasanya, Awang tak suka terlalu pedas. Dia tak perlu lauk lain, ye Bang. Cukup sambal lengkong lawan nasi panas sudah lahap dia makan,” tambah Cik Timah.

“Anak siapa dulu?” canda Cik Atan.

“Dia mirip Ayahnya yang tidak cerewet soal makan, minum. Terpenting sedap lewat semua yang ada di meja,” bual Cik Atan dan Timah tentang sifat anak kebanggaannya itu.

**

Usai makan sahur, Cik Atan langsung nonton TV, sedangkan Cik Timah sibuk di dapur membereskan sisa makanan di atas meja. Tak lama berselang, terdengar bunyi handphone milik Cik Atan. Saking seriusnya menonton, Cik Atan tak mendengar nada dering HP, malah Cik Timah yang sadar.

“Oi..Bang, handphone tu bedering, coba tengok siapa yang nelpon?” teriak Cik Timah.

Dengan sedikit tergopoh-gopoh berdiri sambil membetulkan kain sarungnya, Cik Atan berdiri menuju meja tempat HP biasa diletakkan.

“Siapa yang nelpon subuh hari ni, Bang?” Cik Timah bertanya.

“Kejap, Abang tengok.”

“Awang nelpon. Ape pasal pulak subuh hari nelpon?” gumam Cik Atan.

“Telpon balik lah, ada hal mustahak agaknya,” pinta Cik Timah.

“Ya, sebentar,” ucap Cik Atan.

“Jangan-jangan Awang nak balik cepat agaknya. Rumah belum bekemas, bumbu sambal lengkong belum lengkap lagi,” gumam Cik Timah dalam hati.

**

Berselang lima menit berlalu. Cik Atan tampak lesu sambil mengcharger kembali HP-nya. Lalu diletakkan di atas meja. Tanpa satu patah katapun keluar dari mulutnya. Suasana rumah yang hening, hanya sesekali bunyi benturan gelas dan piring Cik Timah yang sedang mencuci piring.

Karena penasaran, Cik Timah mengintai ke ruang tengah. Dilihatnya Cik Atan duduk lesu di sofa yang sudah tidak baru lagi. Melihat gelagat lain, Cik Timah coba menghampiri pelan-pelan kearah Cik Atan. Dipegangnya pundak Cik Atan dari belakang.

Cik Atan terperanjat dan terkejut, lalu Cik Timah bertanya.

“Ada apa, Bang?”.

Dengan raut wajah sedikit kecewa, beliau mengatakan jika Awang tak jadi balek Raya ini.

“Apa kata dia, Bang?” tanya Cik Timah ingin tahu alasan ketidakpulangan anaknya itu.

“Banyak kerja dan tak dapat ditinggalkan,”kata Cik Atan.

“Itu aja, Bang?” Cik Timah makin memaksa.

“Anak-anak dan istrinya tak dapat pulang juga?” Cik Timah semakin memaksa.

“Ya” jawab Cik Atan singkat.

**

Semacam hilang rasa dan terasa tapak tak berpijak dilantai rumah. Hilang sudah semua angan-angan penantian yang selama ini menari-menari difikiran untuk dapat bermain bersama cucu-cucunya, menyediakan makanan kesukaan sang anak tercinta. Mereka berdua saling berpandang-pandangan tanpa ada kata yang terucap dari bibir mereka.

Tiga puluh menit sebelum azan subuh terdengar beduk panjang.

“Apa pasal, noja mesjid belum masuk waktu subuh sudah mukul beduk?” tanya Cik Timah penasaran.

“Mengantuk itu, karena noja iktikaf tadi malam agaknya,” timpal Cik Atan.

“Tapi, beduk panjang pula itu, ini bukan subuh Jumat, kalau subuh Jumat, biasanya memang beduk panjang,” terang Cik Minah kepada Cik Atan.

Sambil mengerutkan keningnya yang sudah mulai keriput, Cik Atan penasaran. Dibukanya tingkap rumah sambil mengintai dan memicingkan matanya.

“Cik Atan! O..Cik Atan!,” panggil seseorang dari serambi depan rumah.

“Ya. siapa tu?” sahut Cik Atan.

“Karim, Cik,” jawab seseorang yang berada di serambi.

“Ada, apa?” tanya Cik Atan penasaran.

“Anjang Mazelan, meninggal, Cik,” kata Karim sambil tersengal-sengal.

“Innalillahiwainnailaihirajiun. Kapan, Rim?” tanya Cik Atan.

“Selepas bersahur tadi, Cik,” sahut Karim lagi.

**

Misteri kematian semuanya rahasia Allah SWT. Tadi malam baru sembahyang tarawih berjamaah dan sempat berbual dan minum kopi bersama di Masjid tengah kampung.

“Selesai Subuh, nanti aku kesana,” kata Cik Atan.

Cik Minah dengan langkah perlahan menuju serambi rumah, bertanya kepada Cik Atan. “Ada apa, Bang?”.

“Mazelan meninggal. Tadi malam, kami habis terawih bebual sambil minum kopi dan makan pendaram,”cerita Cik Atan kepada istrinya.

“Mazelan bercerita kalau anaknya si Sulung tak jadi balik karena ongkos mahal. Kalau balik berlima beranak harus siapkan duit tiket di atas sepuluh juta. Kerja lagi susah, biaya sekolah anak makin mahal, jadi batal anaknya balik kampung,” ungkap Cik Atan.

“Almarhum itu bercerita sambil raut mukanya sedih. Beliau rindu dengan cucu-cucunya. Kasihan dengan kondisi ekonomi anaknya. Dia cakap, Cik Atan enak, anak-anak hidup berkecukupan jadi dapat berkumpul pada hari Raya ini di Kampung,” kate Almarhum pada Abang tadi malam.

“Abang, iyakan saja. Alhamdulillah si Awang anak kedua kita hidupnya memang berkecukupan. Semuanya sudah ada,” kata Abang ke almarhum.

**

Usai sholat subuh, jamaah Masjid semuanya langsung takziyah ke rumah Mazelan. Dapat kabar, kalau anaknya, si Sulung akan pulang dengan kapal carteran karena tiket kapal regular sudah habis.*

***

Akhir Ramadhan 1440 H/ 2019 M

– Zaid, ST, Pranata Humas Kemenag Kabupaten Lingga. Alumni Teknik Informatika Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta pada 2008. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Program Pendidikan Pasca Sarjana Jurusan Administrasi Publik di Universitas Terbuka. Tertarik pada dunia pantun sejak di bangku Sekolah Dasar. Kini sedang menulis buku “Seni Berkisah Cerita Melayu Lingga Menjelajah ke Pelosok Negeri”. **

(Visited 130 times, 1 visits today)